Pak Lis, Simbol Ketulusan dalam Sebuah Pengabdian

Minggu, November 22, 2015



Guru bukanlah sebuah profesi yang mudah, tak hanya ilmu pengetahuan yang dibutuhkan, namun juga butuh ketulusan dalam sebuah pengabdian. 

Pak Muchlis, atau beliau biasa disapa Pak Lis, seorang guru agama yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk berbagi ilmu hingga beberapa dekade. 

Pak Lis adalah seorang guru yang membuat saya dan juga teman-teman saya menemukan kebahagiaan ketika belajar. Beliau tak hanya sekadar mengajar, tetapi juga memberikan pembelajaran tentang kehidupan.
Bagi banyak orang, mungkin pelajaran agama seringkali terasa membosankan, namun bagi saya dan teman-teman saya, justru pelajaran agama adalah pelajaran yang selalu dinantikan, karena di setiap pertemuan, pasti ada hal baru yang diajarkan oleh seorang Pak Lis.  

Saya masih ingat, Pak Lis selalu mengayuh sepeda warna merah ketika berangkat mengajar, bukan sepeda yang bagus, namun hanya sebuah sepeda kumbang tua yang hampir pudar warnanya.

Meski begitu, semangat beliau tak pernah sedikitpun pudar. Ketika masuk ke dalam kelas, Pak Lis tak pernah kehilangan senyumnya, seolah bagi beliau, kelas adalah sebuah taman ria, tempat berbagi kebahagiaan bersama murid-muridnya. 

Ya, sebandel apapun kami, semalas apapun kami. Pak Lis selalu berhasil membuat kami menjadi murid yang patuh dan rajin. Setiap Pak Lis mengajar, kami selalu dibawa masuk ke dunia baru yang menyenangkan. 

Bagi saya, Pak Lis tak hanya sekadar guru agama, namun beliau juga seorang entertainer yang handal. Beliau sangat suka bercanda, pandai berbahasa belanda, pandai bercerita, bahkan pandai bernyanyi india. Pak Lis adalah guru yang multitalenta. 

Setiap mengajar, selalu ada kisah-kisah nabi atau kisah-kisah hikmah yang kami nantikan. Pak Lis selalu bercerita dengan cara yang menyenangkan, kami tak hanya bebas bertanya, namun kami pun bebas untuk tertawa.

Menjadi salah satu dari sekian ribu murid yang pernah diajar Pak Lis adalah sebuah keberuntungan. Kami tak hanya diajak untuk mengenal dan mencintai Tuhan lewat agama, namun kami juga diajak untuk mengenal dan mencintai Indonesia, juga mengenal negara-negara lain di dunia.
               
Mungkin, Pak Lis adalah satu-satunya guru yang mengajar pelajaran agama yang tak hanya mengajari kami bershalawat, namun juga mengajari kami lagu ‘Apuse’ dari Papua dan lagu ‘Mother How Are You Today’ yang dinyanyikan oleh Maywood.

Kini, meski saya dan teman-teman saya sudah belasan tahun lulus dari sekolah dasar, namun seorang Pak Lis tak pernah tergantikan. Kami masih rutin datang ke rumah beliau setiap lebaran, karena selalu ada nasihat dan canda beliau yang selalu kami rindukan. 

Pak Lis menjadi contoh seorang guru yang berdedikasi dengan apa yang dia jalani, bukan gaji yang ia cari, namun bagaimana membuat murid-muridnya senang belajar dan berani bermimpi untuk masa depan.

Ada ketulusan di setiap senyuman beliau, ada kebahagiaan di binar mata beliau setiap berbagi ilmu pada murid-muridnya. Terima kasih Pak Lis, telah mengajari kami arti kebahagiaan dan banyak pembelajaran tentang kehidupan.(*)- Richa Miskiyya

                             Tulisan dibuat untuk Lomba Menulis "Guruku Pahlawanku"

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe