Piknik Sastra Penuh Cinta

Jumat, Februari 10, 2012


Rasanya tak ingin pulang ke rumah, itulah yang dirasakan olek sedulur SECOTENG yang baru saja menikmati nikmatnya berada di Istana Rumbia, Istana penuh cinta.

Setelah sebelumnya berusuh ria di grup SECOTENG tentang all about Piknik Sastra, akhirnya, Sabtu, 12 November 2011, kami pun berangkat sesuai dengan kesepakatan awal, menuju Istana Rumbia Wonosobo.

Dengan kekuatan satu kompi yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jogjakarta, dari Batang hingga Magelang, dari Solo hingga Wonosobo, semua sedulur SECOTENG yang ikut pun berkumpul di stasiun Tugu-Yogyakarta.

Dua mobil yang kami tumpangi pun melaju seirama dengan kelokan jalan menuju Istana Rumbia-Wonosobo. Dingin menyambut, namun semangat kami tak pernah surut. Setelah menuliskan warna-warni kata-kata di dinding Istana, acara pun dimulai, sambutan dari Suker Ganteng Batman Donatus A. Nugroho dan Bunda Maria Bo Niok seputar pengalaman dan keberadaan Istana Rumbia menjadi pembuka, kemudian dilanjutkan dengan launching Buku Kumpulan Puisi Lamunan Bidadari karya Mbak Nessa Kartika dan Novel Duet Twinlight karya Mbak Nessa Kartika dan Mbak Dian Nafi

Tak hanya sekedar launching bersama anggota SECOTENG, namun juga diskusi dan sharing bersama adik-adik SMP di Desa Lipursari-Wonosobo, berbagi menjadi sesuatu yang indah ketika kita saling berbagi ilmu dan cita-cita 

Bunda Maria Bo Niok pun menyuntikkan semangat kepada kami tentang arti sebuah perjuangan hidup, cita-cita, juga cinta kepada sesama, cinta kepada orang-orang yang haus akan ilmu dan buku, hingga berdirilah taman baca Istana Rumbia di tanah tinggi pegunungan Wonosobo.

Malamnya, Suker Donatus A. Nugroho, Bunda Astuti J. Syahban, Bunda Maria Bo Niok, Mbak Nessa Kartika, juga Banceuy Ambassador Kang Rick Luck melakukan siaran di Pesona FM Wonosobo seputar sastra, dan kemudian bertemu dengan Inayah Wahid (Putri Bungsu Gus Dur) dan tokoh-tokoh multikulturalisme di Wonosobo. Kang Rick Luck pun menjadi artis malam itu dengan bermonolog membaca cerpen dalam acara tersebut. Keren!

Esoknya, saat kabut masih tersangkut di rumput. Kami sudah bersiap-siap untuk berwisata sejarah menuju Kawah Sikidang dan Candi Dieng. Canda dan tawa pun menjadi penghias sepanjang perjalanan. Meski hujan mengguyur, namun kebersamaan tetap diutamakan, meski harus menggunakan satu payung untuk berlima, itu indah, kawan!!

Saat malam datang, dengan ditemani kopi dan tempe kemul. Kami pun berdiskusi bersama Komunitas Jagong Budaya Wonosobo, tak cuma berbincang tentang kepenulisan, tapi juga tentang budaya yang mulai tergerus zaman. Penulis memang harus peka perkembangan zaman, namun budaya jangan dihilangkan. Akhirnya, setelah “merampok” jajanan khas wonosobo yang ada di Istana Rumbia, juga “mencuri” semangat yang tercetak di dinding-dinding Istana Rumbia, kami pun berpamitan membawa sejumput harapan tentang cita-cita kami. 

Hujan bulan november murni
Menyambutku di tempat ini
Namun janji kabut tak terpenuhi
Aku masih terjaga di dini hari
Tak ingin kehilangan matahari
Dan embun pagi

AKU PENDOA BAGI KEBAIKAN BUMI
CITA-CITA LUHUR ISTANA INI

Pada kabut kuingatkan janji-janji
Pada pagi bermatahari kutetapkan hati
Pada embun pagi sahabat para pencari
Kutitipkan pesan : AKU AKAN DATANG LAGI

(DAN- tertulis halus di dinding Istana Rumbia)

Posting Komentar