Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Vania Febriyantie, Inisiator dan Penggerak Seni Tani untuk Masyarakat Lebih Berdikari

Kamis, Oktober 05, 2023

Matahari terlihat sudah sepenggalah tingginya dan terasa cukup menyengat di kulit. Namun, perempuan berhijab yang akrab dipanggil Vania itu alih-alih bergegas mencari tempat yang lebih rindang untuk berteduh, ia justru tetap asyik berada di tengah kebun sayuran yang dikelolanya. 

Pemilik nama lengkap Vania Febriyantie itu tampak menikmati cahaya matahari yang menimpa wajahnya, sepoi angin yang menyentuh hijabnya, juga gumpalan tanah yang tak segan untuk digenggamnya. Ia begitu menikmati dunianya, sebuah dunia yang membuatnya bahagia dan lebih berarti.

Perempuan kelahiran Lhokseumawe tahun 1993 ini adalah sosok di balik Seni Tani, kebun komunal dengan basis Community Supported Agriculture.  Berawal dari ajakan diskusi dari ketua RT di lingkungannya tentang masalah sampah yang menumpuk di bawah menara SUTT. Vania berinisiatif memanfaatkan lahan di bawah menara SUTT tersebut menjadi kebun komunal.

Berawal dari ide itulah, akhirnya lulusan Pendidikan Biologi-UPI Bandung ini mulai bergerak untuk memanfaatkan lahan tersebut agar tetap produktif. m Apalagi, di masa awal kemunculan Seni Tani, Indonesia dan dunia masih dilanda pandemi sehingga suplai bahan pangan dari luar kota yang masuk ke Bandung terhambat. Selain itu, Vania juga berharap dengan pengolahan lahan tersebut bisa menciptakan akses pangan lokal di sekitar daerah tempat tinggalnya.  

Mengenal Seni Tani Lebih Dekat

Seni Tani memiliki konsep sistem bisnis sosial yaitu community supported agriculture (CSA) yang artinya anggota harus membayar biaya berlangganan di awal musim tanam. Untuk apa dana tersebut? Dana tersebut digunakan untuk kegiatan berkebun yang dilakukan para petani, dimana nantinya hasil pertanian akan dibagikan pad anggota saat masa panen tiba.  

Saat ini Seni Tani menggarap dua area kebun, pertama area kebun komunal dan yang kedua area kebun produksi. Selain menggarap lahan tidur, Vania juga menggerakkan komunitasnya untuk melakukan kegiatan lainnya yang masih berkaitan dengan berkebun setiap Minggu pagi, seperti membuat eco enzyme, membuat pupuk, dan kegiatan bermanfaat lainnya.  

Pada awal pembentukan komunitas ini, tak sedikit hambatan yang dialami oleh Vania, diantaranya seperti stigma masyarakat yang masih berpikiran bahwa untuk jadi petani itu membutuhkan lahan berhektar-hektar luasnya.  Padahal, dari menggarap lahan urban pun hasil produksinya cukup lumayan.

Vania menjelaskan bahwa nama Seni Tani sendiri berangkat dari prinsip bahwa dalam berkesenian, setiap orang tentunya memiliki caranya masing-masing, namun tetap patuh pada prinsip yang ada. Jadi dalam prinsip Vania, bertani itu harus beragam namun tidak boleh mencemari dan tetap terintegrasi satu sama lain.

Anggota dari Seni Tani memiliki latar belakang yang beragam, meskipun dimotori oleh anak muda, namun secara keseluruhan anggotanya terdiri dari segala usia yang memiliki kesamaan dalam ketertarikannya dengan seni bercocok tanam yang ramah lingkungan. 

Dukungan untuk Seni Tani

Meskipun banyak hambatan, namun Vania juga bersyukur karena apa yang dilakukannya ini juga mendapatkan perhatian serta dukungan dari pemerintah. Misalnya seperti izin penggunaan lahan tidur dari Kelurahan Sukamiskin, kemudian pemberian biibit dari Badan Ketahanan Pangan Kota Bandung, serta dana bantuan dari Kemenpora untuk membangun infrastruktur kebun agar kebun layak dikunjungi warga serta dapat menjadi tempat untuk belajar tentang dunia bertani dan berkebun. 

Saat ini, apabila digabungkan secara keseluruhan, luas lahan yang digarap oleh Seni Tani mencapai luas 1.000 m2. Lahan tersebut menghasilkan beragam jenis sayuran yang mana apabila ditotalkan bobotnya mencapai 250 kg yang kemudian didistribusikan ke 50 kepala keluarga di setiap bulannya. 


Petani Kota untuk Indonesia

Menjadi petani kota memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan, hal ini sudah terlihat dari apa yang dilakukan oleh Vania Febriyantie. Vania tak pantang menyerah dan terus berusaha untuk mengajak para pemuda agar mau menjadi petani urban dengan penghasilan yang menjanjikan. 

Apalagi hasil kebun dan pertanian tentunya menjadi produk yang selalu dibutuhkan masyarakat, sehingga masyarakat pun tidak akan kesulitan untuk mendapatkan bahan pangan, yang mana hal ini tentunya akan bisa menggerakkan perekonomian masyarakat Indonesia. 

Apa yang dilakukan Vania ini terlihat memberikan dampak yang positif, maka tidaklah heran jika ia menjadi salah satu penerima Satu Indonesia Award 2021 kategori khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi Covid-19. Untuk lebih mengenal komunitas Seni Tani bisa mengakses juga halaman sosial medianya di Instagram @kamisenitani. (*)




 


Read More

Noor Khasnah, Menuai Berkah dari Minuman Olahan Rempah

Selasa, Februari 01, 2022

Langgam suara lantunan ayat-ayat Al-Qur’an terdengar menggema dari Masjid Menara Kudus. Subuh belum lama beranjak. Suara ribuan santri yang sedang tadarus di pesantren-pesantren sekitar lamat-lamat terdengar hingga ke rumah Noor Khasnah. Sementara di dapur, tangan Noor Khasnah begitu telaten mengiris aneka rempah di atas talenan. Suara hentakan pisau pada permukaan talenan bersahutan dengan suara lantunan ayat Al-Qur’an dari masjid dan pesantren sekitar, membuat suasana pagi di dapur Noor Khasnah begitu semarak.

Noor Khasnah membersihkan beragam rempah yang telah diirisnya, rempah-rempah yang menjadi jalan Noor Khasnah untuk menjemput rezeki. Rempah-rempah itulah yang belakangan ini menjadi ladang berkah bagi kehidupan keluarganya.

Titik Balik Kehidupan

Tahun 2014 menjadi titik balik kehidupan Noor Khasnah, kepergian suaminya karena penyakit tumor stadium lanjut membuat perekonomian Noor Khasnah limbung. 

Namun, Noor Khasnah tak ada waktu untuk sedih berkepanjangan, karena ia harus bangkit dan meneruskan hidup, apalagi ia memiliki anak semata wayang berusia 1 tahun yang harus ia jaga masa depannya. 

Saat itu Noor Khasnah bekerja di sebuah koperasi. Bahkan, ia sempat mendapatkan kepercayaan untuk memimpin cabang koperasi tersebut. Namun, karena kepergian suaminya, Noor Khasnah memilih untuk tidak terlalu ambisius dengan karir formalnya karena ia juga harus memberi waktu dan perhatian untuk anaknya yang masih kecil.

"Saat itu, tak bisa dipungkiri kalau pendapatan saya berkurang cukup signifikan. Apalagi semakin hari, kebutuhan semakin bertambah dan anak saya juga harus bersiap masuk sekolah," tutur Noor Khasnah.   

Sebagai seorang single parent, Noor Khasnah harus memutar otak bagaimana caranya ia bisa mendapatkan penghasilan tambahan tanpa mengurangi waktu kebersamaannya dengan sang putri.  

Warisan Ibu dan Kenangan Masa Kecil

Setelah mencoba beragam jenis usaha namun hasilnya tidak sesuai harapan, Noor Khasnah kemudian teringat akan kenangan masa kecilnya ketika ibunya membuat minuman temulawak. 

“Minuman ini khas Kudus Kulon, tepatnya di sekitar daerah Menara Kudus. Minuman ini biasanya disajikan pada waktu lebaran saja, dan ibu saya selalu membuatnya sendiri untuk disajikan pada para tamu,” tutur Noor Khasnah. 

Akhirnya, berbekal resep minuman rempah warisan ibunda dan kenangan masa kecil tentang kenikmatan minuman tersebut, wanita kelahiran Kudus, 13 Juni 1979 yakin untuk memulai usaha minuman herbal temulawak yang kemudian diberi merk ‘Temu Menara Kudus’. 

Temu Menara Kudus (Foto: Richa Miskiyya)

Pemilihan nama Temu Menara Kudus ini tentunya tidak terlepas dari kampung halaman Noor Khasnah yang berada di Langgar Dalem, sebuah kampung yang letaknya tak jauh dari Masjid Menara Kudus.

"Saya memulai usaha ini tahun 2017, saat itu almarhumah ibu saya masih hidup sehingga saya mendapat dukungan penuh dari beliau. Setiap saya selesai meramu temulawak, ibu sayalah yang mencicipi dan mengoreksi racikan temulawak sehingga saya bisa mendapatkan takaran yang pas," kisah Noor Khasnah.    

Dukungan dari keluarga memang sangat berarti bagi Noor Khasnah. Selain dari almarhumah ibunda, Noor Khasnah juga mendapat dukungan dari sang adik. 

"Adik saya banyak membantu saya, dari pengemasan, pembuatan label hingga membawa sampel minuman temulawak saya ke laboratorium untuk diuji, sehingga minuman temulawak saya steril dan tidak cepat basi," ungkap Noor Khasnah. 

Noor Khasnah resmi memulai usaha ini dengan modal sebesar 2 juta rupiah yang berasal dari tabungannya. 

“Modal awal ini saya gunakan untuk membeli perlengkapan produksi juga bahan baku. Saat memulai usaha ini, saya belum berpikiran bagaimana cara mengembangkannya, yang penting jalan dulu,” kenang Noor Khasnah. 

Noor Khasnah membuat minuman Temulawak ini di akhir pekan saat ia libur bekerja di koperasi, dan apabila ada pesanan, ia akan mulai membuatnya di malam hari sepulang kerja. 

Minuman Temulawak kemasan siap minum racikan Noor Khasnah ini mulai dipasarkan dengan menitipkannya ke warung-warung, toko oleh-oleh, juga lewat getok tular dari mulut ke mulut.

Noor Khasnah bersyukur tempat tinggalnya dekat dengan wisata religi makam Sunan Kudus yang setiap hari didatangi oleh ribuan peziarah, dan keadaan tersebut sangat membantu dalam pemasaran produk minuman Temulawak yang ia buat.  

Oase Modal Usaha dari Pusat Investasi Pemerintah 

Setelah satu tahun menjalani usaha minuman Temulawak, akhirnya di tahun 2018, Noor Khasnah mulai bergerak untuk mengembangkan usahanya. Tak hanya bergabung dengan anggota binaan Dinas Industri di Kabupaten Kudus, tapi ia juga mulai mencari tambahan modal untuk mengembangkan usahanya. 

Noor Khasnah akhirnya mengajukan modal dana Pinjaman UMi untuk usaha Ultra Mikro  dari Pusat Investasi Pemerintah melalui KSP KUD Mintorogo, Karanganyar, Demak. 

“Saya senang saat pengajuan modal usaha saya akhirnya diterima, dan saya mendapatkan tambahan modal sebesar 7 juta dari PIP hingga akhirnya resmi menjadi debitur UMi,” jelas Noor Khasnah.

Berkat adanya modal UMi dari PIP ini, Noor Khasnah sangat bersyukur karena ia tak hanya mendapat tambahan modal saja, namun juga mendapat pendampingan untuk pengembangan usahanya. 

Dengan adanya pendampingan tersebut, Noor Khasnah sering diikutsertakan dalam acara-acara UMKM yang diadakan oleh Pusat Investasi Pemerintah, sehingga ia bisa mengenalkan produk minuman temulawaknya ke masyarakat lebih luas lagi, dan ini sangat berpengaruh juga pada peningkatan omzet penjualannya. 

Pandemi dan Dukungan Kekuatan dari UMi

Menjalani usaha tentunya tidak selalu berjalan mulus, begitu juga yang dialami oleh Noor Khasnah. Salah satu jalan terjal yang harus ia hadapi adalah situasi pandemi. 

Saat pandemi, omzet minuman Temulawak olahannya mengalami penurunan, apalagi wilayah wisata religi Menara Kudus juga sempat ditutup untuk sementara waktu dan tidak menerima kunjungan para peziarah. 

Toko-toko yang ia titipi produk banyak yang tutup saat pandemi, sehingga Noor Khasnah tidak bisa menambah jumlah produksi. Apalagi ada juga pemilik toko yang akhirnya meniru produk jualannya dan membuatnya sendiri, sehingga berpengaruh juga pada penjualannya. 

Poster Temu Menara Kudus (Foto: Richa Miskiyya)

“Tapi saya percaya kalau rezeki tidak akan tertukar. Alhamdulillah saya dapat dukungan dari UMi, sehingga produksi minuman Temulawak saya tetap bisa berjalan hingga sekarang,” tutur Noor Khasnah. 

Dengan usaha pantang menyerah dan pendampingan dari PIP, kini Noor Khasnah bisa meraih omzet jutaan rupiah tiap bulannya. 

Melestarikan Kekayaan Rempah Indonesia

Bagi Noor Khasnah, memproduksi dan menjual minuman temulawak memang tidak mudah, karena dalam pembuatannya butuh proses, kesabaran, serta ketekunan. Meski begitu ia tetap teguh untuk terus memproduksi minuman Temulawak ini agar semakin banyak orang yang tahu dan mengenal minuman Temu Menara Kudus. 

Apalagi Noor Khasnah masih menggunakan cara tradisional dalam pengolahan minuman ini, sehingga membutuhkan proses yang tidak sebentar dalam pembuatannya. 

Noor Khasnah meyakini apabila terus menerus diperkenalkan, minuman Temulawak produksinya akan bisa disukai kalangan yang lebih luas karena produknya dibuat dengan 100% bahan-bahan alami, menggunakan gula asli, tanpa bahan pengawet dan tanpa pewarna buatan.   

Keunggulan Temu Menara Kudus (Foto: Richa Miskiyya)

Saat ini ada dua kemasan minuman Temulawak yang dibuat Noor Khasnah, yaitu kemasan besar (600 ml) dan kemasan kecil (250 ml). 

“Kemasan besar harganya Rp 10.000,-. Sedangkan untuk kemasan kecil harganya Rp 5.000,-. Minuman ini sangat praktis dan bisa diminum langsung. Apalagi untuk yang kemasan kecil sangat ringan jika dimasukkan ke dalam tas, jadi bisa dibawa travelling,” jelas wanita berusia 42 tahun ini. 

Untuk mengembangkan usahanya sekaligus melestarikan kekayaan rempah Indonesia, saat ini Noor Khasnah juga mulai membuat produk berbahan rempah lainnya yaitu minuman Kunir Asem dan Sirup Temulawak. 

Selain itu, Noor Khasnah juga sedang berupaya untuk mendapatkan izin BPOM dalam skala provinsi, karena saat ini untuk produknya baru memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha) di tingkat kabupaten. 

“Proses izinnya memang agak rumit, semoga secepatnya saya bisa mendapatkan izin lengkap sehingga saya bisa lebih mengembangkan usaha dengan skala yang lebih luas lagi,” harap Noor Khasnah.

Meski banyak aral melintang dalam mengembangkan usaha, namun Noor Khasnah tetap teguh dan tidak pantang menyerah. “Syukur, sabar, dan ikhlas itu motivasi saya. Meski saat ini saya sudah kembali berkeluarga, saya ingin berdikari dan ingin tetap berjuang untuk masa depan anak,” pungkas Noor Khasnah. (*)


Read More

Nurul Indriyani, Sosok #MudaBikinBangga yang Berjuang untuk Anak dan Perempuan Indonesia

Senin, Oktober 31, 2016


Cerdas, cantik, dan inovatif, itulah kesan pertama saya saat bertemu dengan sosok Nurul Indriyani, seorang aktifis muda yang berjuang untuk kesetaraan hak anak dan perempuan. Usianya masihlah belia, yaitu 18 tahun, di saat teman-teman seusianya sibuk dengan foto-foto selfie di sosial media atau belanja online untuk memenuhi hasrat tampil dengan busana kekinian, maka Nurul lebih akrab dan sibuk dengan gerakan kampanye tentang kesetaraan hak anak dan perempuan, bahkan aktifitasnya ini telah dilakukannya sejak beberapa tahun lalu.   

Nurul Indriyani

Nurul memang berbeda dengan gadis-gadis lain seusianya, ia memiliki pemikiran yang maju, dan yang pasti, ia tak hanya berjuang untuk masa depannya sendiri, namun ia juga memperjuangkan masa depan anak-anak dan perempuan di Indonesia lewat gerakan kampanye pencegahan pernikahan dini. 

Nurul bukanlah anak yang berasal dari kota besar, karena ia lahir dan dibesarkan di sebuah dusun kecil di Kabupaten Grobogan yang sebagian masyarakatnya adalah petani. Meski begitu, ia memiliki cita-cita tinggi, ia ingin menyebarkan pemikiran bahwa pernikahan dini bukanlah solusi untuk masa depan.

“Saya melakukan kampanye pencegahan pernikahan dini ini karena terinspirasi dari kisah nyata ibu saya yang menikah di usia 15 tahun dan melahirkan saya di usia 16 tahun,” kisah Nurul ketika saya menemuinya di rumahnya di dusun Karang Sari, Desa Padang, Kecamatan Tanggung Harjo, Kabupaten Grobogan.

Saya terhenyak mendengar penuturan Nurul, namun Nurul membenarkan bahwa kisah itu benar adanya, dan karena pernikahan dini tersebut, ibunya pun harus membenamkan cita-citanya untuk menjadi seorang bidan.
Karena kisah ibunya inilah, Nurul bertekad bahwa ia tak ingin menikah dini dan ingin pula menyebarkan pemikirannya ini pada masyarakat. Ia pun mengawalinya dengan bergabung di kelompok Anak PPAD (Persatuan Pelajar Anak Desa) di desanya.

Saat Nurul menjadi ketua PPAD di tahun 2012, ia melakukan kegiatan survey tentang pernikahan dini dan hasilnya cukup mencengangkan. Dalam kurun watu 5 tahun (2007-2012), telah terjadi 31 pernikahan usia anak, 26 pernikahan anak perempuan, dan 5 pernikahan anak laki-laki, dengan usia rata-rata 15-18 tahun.
Masyarakat yang tinggal di kampungnya memang masih berpikiran bahwa anak gadis yang sudah baligh harus segera dinikahkan jika tidak ingin menjadi perawan tua, cara berpikir inilah yang ingin diubah oleh Nurul, karena pernikahan dini tidak hanya berakibat pada putusnya cita-cita, namun juga pada kasus cerai dan KDRT yang rentan terjadi pada rumah tangga pelaku pernikahan dini.   

Meski awalnya banya dipandang sebelah mata oleh masyarakat, namun Nurul tak menyerah, ia tetap berjibaku dan berjuang agar masyarakat bisa berpikir lebih terbuka bahwa pernikahan dini akan mendatangkan banyak kerugian. 

Dari Sudut Desa Hingga ke Negeri Obama
Ingin kampanyenya tentang pencegahan pernikahan dini dapat diterima oleh masyarakat yang lebih luas lagi, Nurul pun bergabung ke forum-forum anak yang lebih besar, seperti Forum Anak Kabupaten Grobogan dan Organisasi Plan Indonesia. 

Kerja kerasnya untuk mencegah pernikahan dini dan perjuangannya untuk kesetaraan hak anak ini pun mulai membuahkan hasil, salah satunya adalah dari jumlah pernikahan dini di desanya yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Atas kiprahnya dalam kampanye pencegahan pernikahan ini pula, Nurul Indriyani banyak diganjar beragam penghargaan, seperti; Anak Berprestasi di Bidang Pencegahan Pernikahan Dini, Kesetaraan Jender, dan Perluasan Akses Anak untuk Bersekolah – Hari Anak Nasional 2012, Pemuda Pelopor Bidang Sosial, Budaya, Pariwisata dan Bela Negara Tingkat Provinsi Jawa Tengah – Hari Sumpah Pemuda 2015,  Duta Kampanye BIAAG (Because I Am A Girl) Plan Indonesia. BIAAG, dan yang teranyar Nurul juga meraih penghargaan dari Kemenpora pada puncak peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2016 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Bersama Ibu Linda Gumelar (Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan)

Menerima Penghargaan dari Gubernur Jateng, Bp. Ganjar Pranowo

Menerima Penghargaan dari Menteri Pemuda dan Olahraga

Tak hanya berprestasi di tingkat regional dan nasional saja, namun Nurul juga memiliki prestasi di tingkat Internasional. Pada tahun 2012, menjadi perwakilan Indonesia dan Asia pada Forum International Day of The Girl, di Markas PBB, New York, Amerika Serikat. 

Bersama Para Delegasi Forum International Day of The Girl

Menjadi Pembicara di Forum International Of The Girl

Bahkan, yang lebih membanggakan lagi, karena kiprahnya dalam pencegahan pernikahan dini di Indonesia, Nurul juga mendapatkan kehormatan untuk berpidato dalam forum internasional tersebut.

Langkah Nurul tentunya masih panjang, mahasiswi semester 3 Hubungan Internasional, FISIP Universitas Diponegoro ini masih dan akan terus mewakili suara anak dan perempuan agar mendapatkan kesetaraan serta hak-haknya untuk meraih masa depan yang lebih baik. .

Perjalanan Nurul Indriyani dari sudut desa hingga negeri Obama untuk mengkampanyekan pencegahan pernikahan dini menunjukkan bahwa kerja keras haruslah ada dalam setiap cita-cita, yang terpenting adalah selalu yakin dan percaya bahwa Tuhan akan selalu memeluk mimpi setiap hambaNya.

Selain itu, sosok Nurul juga menjadi bukti bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk menyuarakan kebaikan, karena menjadi sosok #MudaBikinBangga bukanlah tentang bagaimana mencapai kesuksesan seorang diri, namun bagaimana menjadi seseorang yang dapat menyebarkan kebaikan kepada banyak orang, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang-orang di sekitarnya.   

Pemuda Indonesia Bukanlah Katak dalam Tempurung
Sebagai seorang yang masih belia, Nurul Indriyani juga mengajarkan pada kita bahwa sebagai pemuda harapan masa depan Indonesia haruslah bisa berpikiran terbuka, mau mengenal dunia lebih luas sehingga tidak menjadi katak dalam tempurung.

Bayangkan jika dulu Nurul memilih tetap menjadi katak dalam tempurung dan menerima nasib seperti anak-anak seusianya di kampung sehingga harus menikah di usia belia. Tentunya Nurul tidak akan pernah bisa menyuarakan nasib anak-anak Indonesia hingga ke skala dunia.    

Oleh karena itu, untuk menjadi pemuda Indonesia yang memiliki pemikiran terbuka, tentunya kita harus banyak membaca dan mengetahui segala perkembangan dan permasalahan yang terjadi di sekitar kita, seperti di dunia pendidikan, politik, ekonomi, sosial kebudayaan dan lain sebagainya agar kita bisa merumuskan solusi seperti apa yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. 

Lalu bagaimana kita bisa mengetahui beragam perkembangan dan permasalahan yang ada di sekitar kita? Apakah kita perlu berlangganan beragam koran setiap hari? Ataukah kita harus menonton televisi selama berjam-jam? 

Tak perlu pusing, karena di era digital ini, segala perkembangan dunia dapat kita temukan di ujung jari, yaitu lewat aplikasi KURIO. Aplikasi ini terbilang sumber berita terlengkap yang ada dalam satu aplikasi, karena segala macam berita ada di aplikasi ini, dari berita kategori News, Sport, Life, Celebrity, Tekno, Travel, dan masih banyak lagi. 

Trending di Aplikasi Kurio

Top Stories di Aplikasi Kurio

Top Videos di Aplikasi Kurio

Ragam Tab Manajemen di Aplikasi Kurio

Bahkan, yang lebih memudahkan pengguna, dalam aplikasi ini juga tersedia kategori Top Stories, dan Trending, sehingga kita tidak akan ketinggalan untuk mengetahui dan membaca berita terkini yang sedang hangat dibicarakan atau disorot oleh masyarakat. Aplikasi ini juga memudahkan pengguna untuk mengatur topik apa yang disukai dan ingin dibaca.

Kini, tak perlu lagi berlangganan beragam jenis koran, atau menginstal beragam aplikasi berita, karena dalam KURIO ini memunculkan berita dalam bentuk tulisan dan video dari berbagai sumber yang terpercaya dan kredibel, seperti Antaranews.com, Sindonews.com, Liputan6.com, Viva.co.id, Merdeka.com, Tribunnews.com, Metrotvnews.com. 

KURIO juga selalu setia memberikan notifikasi atau pemberitahuan jika ada berita penting tersedia, sehingga kita tidak perlu takut ketinggalan untuk membaca berita terkini. Tak ingin menjadi pemuda yang memiliki pemikiran seperti katak dalam tempurung? Segera instal aplikasi KURIO di google playstore untuk menemukan kabar terkini tentang Indonesia juga dunia.(*)
Read More

Belajar Mencintai dan Membangun Negeri dari Sosok B.J. Habibie

Sabtu, Agustus 20, 2016


Delapan puluh tahun lalu, tepat pada tanggal 25 Juni 1936 lahir seorang anak yang tumbuh menjadi sosok cerdas, pantang menyerah, dan memiliki visi membangun negeri. Ibunya, R.A. Tuti Marini Puspowardoyo, memberi nama Bacharuddin Jusuf Habibie.

Sejak kecil, Habibie ternyata juga memiliki bakat serta minat di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan ia bercita-cita menjadi seorang insinyur, sebuah cita-cita masa kanak-kanak yang akhirnya terwujud, pada tahun 1954 ia berhasil menjadi mahasiswa di Institut Teknologi Bandung, jurusan Teknik Mesin.

B.J. Habibie (Sumber : tempo.co)

Impian Tanpa Batas


Habibie muda memiliki impian tanpa batas, dan untuk meraih impian itu, ia tak hanya berdiam diri, melainkan terus melangkah dan pantang menyerah. Habibie begitu berani mengambil keputusan untuk berkuliah di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule, Jerman.

Keputusannya untuk pergi ke Jerman memang tidaklah mudah, bukan hanya karena jauh dari tanah air dan ibunda yang dicintainya, tapi juga karena keterbatasan dana yang dimilikinya. Habibie berkuliah di Jerman memang bukan karena beasiswa, namun dengan biaya pribadi. Hal ini bukan karena Habibie tak mampu atau gagal meraih beasiswa, akan tetapi karena semangat ibundanya yang ingin mendukungnya secara penuh, termasuk soal biaya kuliah. Ini terkait sumpah sang ibu ketika ayahanda Habibie meninggal bahwa ibundanya akan membiayai seluruh pendidikan anak-anaknya dari hasil jerih payahnya. Atas dukungan ibundanya lewat usaha katering dan rumah indekos di Bandung, Habibie pun menjalani studinya di Jerman.

Meski mendapat dukungan dana dari ibunda, bukan berarti hal tersebut dapat memenuhi semua kebutuhan Habibie selama berkuliah di Jerman. Habibie begitu rela menahan lapar dan berpuasa, serta lebih memilih menghabiskan waktunya di perpustakaan agar lupa dengan rasa lapar yang melilit perutnya. Di saat liburan, Habibie lebih memilih mengambil mata kuliah agar cepat selesai karena ia tidak ingin mengecewakan keluarganya yang sudah membiayainya.

Tak hanya rajin di bidang akademik, Habibie juga rajin ikut dalam organisasi. Bahkan ia juga menginisiasi seminar PPI se-Eropa yang mempertemukan seluruh mahasiswa Indonesia di benua biru. Bahkan demi terlaksananya seminar ini, Habibie sampai jatuh sakit yang parah dan hampir meninggal dunia.

Namun, Tuhan begitu sayang dengan Habibie, hingga masih memberikan umur panjang untuk Habibie. Dengan kerja keras serta jiwa pantang menyerah, akhirnya Habibie bisa menyelesaikan studi S1 dan S2 nya di Jerman.

Selepas S2, Habibie memutuskan untuk menikah dengan kawan SMA nya, Ainun. Meski telah mendapatkan gelar yang mumpuni, bukan berarti perjuangan Habibie berhenti, karena Habibie harus mulai mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kecilnya serta mencari biaya untuk melanjutkan studi S3 nya, dan demi itu semua, Habibie dan istri harus rela tinggal di apartemen kecil serta hidup sederhana.

Asa yang Mengangkasa

"Pengalaman tak bisa dipelajari, tapi harus dilalui”- B.J. Habibie

Pengalaman memang tak bisa dipelajari, karena ia harus dijalani dan dilalui, itulah yang terpatri dalam diri Habibie. Beragam pengalaman coba ia jadikan pelajaran, tak hanya pengalaman yang menggembirakan, namun ia juga belajar arti kehidupan di setiap tantangan dan permasalahan yang dilaluinya.

Habibie dan Industri Pesawat Indonesia (sumber : viaberita.com)


Habibie pun belajar bahwa untuk menggapai asa dan cita-cita tak hanya diperlukan kepintaran semata, namun yang terpenting adalah ketekunan dan keuletan. Akhirnya kerja keras Habibie pun tak sia-sia, lulus dari studi S3 nya, Habibie mendapat kepercayaan untuk menduduki jabatan penting di Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB), Hamburg-Jerman. Berkat ketekunan yang dimilikinya, karir Habibie melesat hingga ia berhasil menjadi direktur teknologi MBB, sejak tahun 1969 hingga tahun 1973.



Habibie meraih kesuksesan itu saat usianya belum menginjak 40 tahun. Ia banyak menyumbangkan hasil penelitian mengenai termodinamika, kosntruksi, serta aerodinamika pesawat. Rumusan teori-teorinya pun dikenal luas dan masih digunakan di dunia penerbangan dunia hingga kini. Beberapa teorinya yang terkenal adalah ‘Habibie Factor’, ‘Habibie Theorem’, serta ‘Habibie Methode’.

Habibie menjadi bukti bahwa dengan ketekunan, ia telah berhasil membawa asa dan cita-citanya terbang mengangkasa layaknya pesawat udara yang dibuatnya. Habibie pun telah membuktikan bahwa jangan pernah meremehkan mimpi atau cita-cita sekecil apapun, karena dengan kerja keras, impian dan cita-cita itu bisa diraih dalam genggaman.
 

Cinta Habibie untuk Ibu Pertiwi

Sebagai seorang ilmuwan di Jerman, bisa dikatakan Habibie telah memiliki segalanya. Kekayaan, jabatan, nama baik, juga keluarga yang bahagia. Jika Habibie mau, cukuplah ia tinggal di Jerman selamanya, dan tak perlu kembali ke Indonesia.

Namun, Habibie tidaklah seperti itu. Semua yang ia lakukan di Jerman bukanlah untuk kepentingan dirinya pribadi, akan tetapi justru untuk membangun negeri, karena sesungguhnya, sejauh-jauhnya Habibie melangkah pergi, cinta Habibie tetaplah untuk Ibu Pertiwi dan akhirnya ke Indonesia lah ia kembali.

Dengan kebahagiaan penuh serta cinta yang utuh untuk Indonesia, Habibie pulang kembali ke Indonesia di usianya yang ke 38 tahun, tepatnya pada tahun 1974. Presiden Soeharto kala itu mengangkatnya sebagai penasihat pemmerintah dalam bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi.

Habibie memiliki janji pada dirinya sendiri bahwa ia akan memajukan teknologi penerbangan di Indonesia sebagai bukti bakti dan rasa cintanya pada ibu pertiwi. Hal itupun dibuktikannya dengan adanya pembangunan PT. IPTN (Industri Pesawat Terbang Nasional) pada 1976, BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) serta laboratorium Puspitek (Pusat Penelitian dan Ilmu Pengetahuan) pada tahun 1986.


Pada tahun 1978, Habibie pun diberi kepercayaan untuk menduduki jabatan sebagai Menristek (Menteri Negara Riset dan Teknologi) selama 2 dekade. Habibie mencurahkan segala daya upaya yang dimilikinya untuk memajukan industri pesawat terbang nasional, dan hal ini terbukti dengan dihasilkannya pesawat produk nasional, yaitu CN-235 serta N-250.

Tahun 1998, Indonesia bergejolak. Setelah Presiden Soeharto dilengserkan, Habibie yang sebelumnya adalah wakil presiden akhirnya menjadi Presiden Indonesia ke-3. Meski hanya menjabat sebentar sebagai Presiden, akan tetapi Habibie telah berhasil mengantarkan Indonesia keluar dari krisis ekonomi.


Setelah tak lagi menjadi Presiden, dan meski mendapat tawaran sebagai Warga Negara Kehormatan oleh Jerman. Habibie memilih untuk menolak tawaran tersebut dan tetap memilih di Indonesia agar bisa terus menerus membangun bangsa lewat Habibie Center, sebuah yayasan yang bergerak untuk memajukan demokratisasi di Indonesia berdasar pada moralitas dan integritas budaya serta nilai-nilai agama.

Habibie membuktikan bahwa untuk membangun bangsa bisa dengan berbagai cara, tak harus menjadi pejabat atau politisi, karena pembangunan bangsa tak hanya berkisar pada pemerintahan semata, akan tetapi yang tak kalah penting adalah membangun jiwa masyarakatnya.

Tahun 2016 ini, usia Habibie telah menginjak usia 80 tahun, yang mana lebih dari separuh hidupnya telah digunakannya untuk membangun bangsa Indonesia. Perjalanan cinta Habibie untuk ibu pertiwi pun terekam jelas dalam ‘Pameran Foto Habibie dan gebyar aneka lomba yang dilaksanakan berbagai komunitas yang tergabung dalam Friends of Mandiri Museum’. Pameran ini dibuka untuk umum mulai 24 Juli 2016 hingga 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua – Jakarta Barat.

Acara ini tak hanya menjadi bukti karya Habibie untuk bangsa, namun juga bukti bahwa begitu banyak orang yang mencintai Habibie sebagaimana banyaknya cinta yang telah diberikan Habibie untuk bangsa ini.

Segala karya yang dilakukan Habibie murni untuk membangun bangsa ini, bukan untuk mendapatkan sanjung puji, karena seperti apa yang pernah dikatakan oleh Habibie, ‘Hanya anak bangsa sendirilah yang dapat diandalkan untuk membangun Indonesia, tidak mungkin kita mengharapkan dari bangsa lain.’ (*) – Richa Miskiyya

Read More