TILIK: Bu Tejo dan Realita di Sekitar Kita

Sabtu, September 26, 2020

Sejak diunggah pertama kali di kanal Youtube Ravacana Films tanggal 17 Agustus 2020. Film pendek Tilik sudah ditonton 10 juta viewers di hari ketujuh penayangannya (24 Agustus 2020) dan terus menanjak hingga 23 juta viewers sebulan setelah penayangan (26 September 2020).

Tak hanya ditonton jutaan penonton, tapi film Tilik juga terus menjadi perbincangan tak berkesudahan, tak hanya di dunia maya namun juga di forum-forum diskusi publik dengan pembicara para akademisi.

Kearifan Lokal dalam Budaya Tilik

Film yang didanai oleh Dinas Kebudayaan Yogyakarta ini mengambil setting di wilayah Bantul-Yogyakarta dan secara apik mengangkat kebiasaan Tilik (menjenguk) para masyarakat desa saat ada salah satu tetangga yang sedang sakit di rumah sakit. 

Kebiasaan Tilik ini memang sangat lekat di tengah-tengah masyarakat Jawa, tak hanya Yogyakarta, tapi juga di Jawa Tengah. 

Para ibu di Jawa memang memiliki solidaritas tinggi terhadap tetangganya, seperti yang ditampilkan dalam film Tilik, dimana para tetangga berbondong-bondong Tilik (menjenguk) di rumah sakit ketika ada salah satu warga yang ditimpa kemalangan. 

Biasanya para ibu ini akan memilih kendaraan yang bisa memuat banyak warga untuk berangkat tilik. Bisa truk seperti milik Gotrek, atau mobil pickup, pokoknya asal muat banyak. 

Kebiasaan Tilik ini tak pandang kaya atau miskin, semuanya dilakukan bersama meskipun cuma naik truk. Coba lihat saja Bu Tejo yang menggunakan banyak perhiasan emas di tangan dan lehernya, alih-alih naik mobil sendiri, dia lebih memilih naik truk bersama warga lainnya.   

Selain kebiasaan Tilik yang coba diangkat dalam film ini, kearifan lokal lain juga ditampilkan, misalnya Yu Nah yang menghirup wangi kulit jeruk untuk menghilangkan mual karena mabuk kendaraan, juga Yu Ning yang memberikan karet untuk mengikat jempol saat Bu Tejo kebelet buang air kecil.

Baca juga: Kepingan Rindu yang Berserakan dalam Film Natalan

Tilik dan Pro Kontra yang Mengiringi

Tak hanya pujian yang diterima oleh Film Tilik ini, namun juga kritikan mengalir deras untuk film ini, salah satunya terkait film Tilik yang menurut pengkritiknya mendiskriminasi kaum perempuan. 

Mereka menganggap dalam film ini menstigma perempuan sebagai sosok yang senang ghibah, cerewet dan mau menang sendiri. Namun, apakah benar seperti itu? 

Sebagai sebuah karya seni, setiap orang memang bebas  menginterpretasi film Tilik. Seperti juga saya yang sebagai orang awam tidak melihat Tilik mendiskriminasi sosok perempuan, namun film Tilik mencoba memotret realita kehidupan apa adanya. 

Twist yang Dipersoalkan 

Selain karena keterlibatan perempuan sebagai tukang ghibah di film ini, banyak penonton juga mempersoalkan twist dari film ini yang dianggap berpihak dan memenangkan tukang nyinyir.

Apakah benar begitu? Apakah yang dikatakan Bu Tejo itu benar? Jika melihat fakta cerita dalam film tersebut, twist di akhir film tidak membenarkan komentar-komentar Bu Tejo. 

Pada awal-awal film, Bu Tejo berkomentar tentang Dian yang punya banyak uang dengan pekerjaan yang tidak jelas, apalagi Bu Tejo juga menyebut gosip tentang Dian yang hamil hanya karena Bu Tejo melihatnya muntah-muntah.

Apakah itu terbukti di akhir film? Jawabannya adalah tidak. Dian menjalin hubungan serius dengan mantan suami Bu Lurah, dan di sini tentunya Dian bukan pelakor, karena di pertengahan film juga disebutkan bahwa Bu Lurah sudah berpisah dari suaminya. 

Hal yang lumrah pastinya seorang perempuan menjalin hubungan dengan lelaki, justru jika kita merasa bahwa apa yang dilakukan Dian yang berhubungan di akhir film tidak benar, justru kita termasuk penonton yang memiliki pikiran sempit. 

Masyarakat di Indonesia memang masih memiliki pandangan nyinyir apabila ada perempuan muda yang menjalin hubungan dengan laki-laki yang usianya yang lebih tua. Tak ayal pasti ada omongan yang akan menyebut jika perempuan muda tersebut hanya mengincar harta. 

Padahal, jika menonton film ini secara seksama, alasan Dian memilih ayah Fikri sebagai kekasih bisa jadi berhubungan dengan kisah hidup Dian yang sejak kecil ditinggal ayahnya sehingga ia merindukan kasih sayang sosok laki-laki dewasa. 

Tak Ada Manusia yang Sempurna 

Selain persoalan akhir film yang menampilkan Dian dan ayah Fikri, persoalan akhir film yang menjadikan Yu Ning menjadi sosok yang dipersalahkan juga menimbulkan pro kontra. 

Banyak penonton yang menyesalkan ending bagi sosok Yu Ning yang dari awal dibangun sebagai sosok yang lurus dan selalu berusaha menangkal hoax, tapi justru terkena bumerang kekeliruan kabar yang ia terima dan akhirnya ia sebarkan. 

Nasib yang menimpa Yu Ning ini banyak yang menganggap meruntuhkan pesan yang sudah dibangun sejak awal di film ini. Seolah meluluhlantakkan pesan yang coba disajikan karena justru memenangkan sosok nyinyir seperti Bu Tejo. 

Tapi bukan sebuah kesalahan tentunya jika penulis naskah film Tejo ini memilih twist tersebut, karena sebuah film tak harus membawa pesan seperti yang penonton harapkan. 

Jika semua film harus membawa pesan baik, apa jadinya sebuah film yang ingin memotret realita nyata dalam masyarakat? 

Kenyataan itulah yang coba diwujudkan oleh Yu Ning dan Bu Tejo ini, bahwa tak ada manusia yang sempurna. Sebaik-baiknya Yu Ning menangkal hoax, ia justru terjebak pada kekeliruan kabar yang ia dapatkan. 

Begitu juga dengan Bu Tejo, meski dari awal ia terus saja nyinyir dan menjadi penyulut gosip, justru ia mampu meredam kekecewaan para ibu-ibu yang tidak jadi menjenguk Bu Lurah dan mengajak mereka untuk pergi belanja ke Pasar Beringharjo. 

Selain sikap Yu Ning yang anti hoax, sikap Bu Tejo yang mencoba mencari jalan keluar di tengah kekecewaan para ibu juga bisa kita contoh. Karena kita tidak pernah tahu kejadian sulit apa yang akan menimpa kita, sehingga mau tak mau kita harus ‘menjadi’ Bu Tejo yang solutif. (*) 


Read More

4 Kampung Wisata Tradisi yang Wajib Kamu Kunjungi Ketika Berlibur ke Yogyakarta

Jumat, September 18, 2020

Yogyakarta adalah salah satu kota dengan puluhan destinasi wisata yang menarik. Ada wisata sejarah, wisata alam, juga wisata tradisi. Malioboro, Benteng Vredeburg, dan Tugu Yogyakarta tentunya sudah tidak asing lagi, namun pernahkah kamu berkunjung ke kampung-kampung wisata di Yogyakarta? 

Ya, sebagai kota dengan beragam tradisi dan kesenian, Yogyakarta juga memiliki banyak kampung wisata. Kampung wisata sendiri merupakan sebuah kampung yang memiliki keunggulan tertentu baik itu di bidang seni, budaya, maupun kuliner, dan kemudian dikembangkan sebagai destinasi wisata. Berikut ini ada 4 (empat) kampung wisata tradisi yang bisa jadi pilihan destinasi liburanmu saat berkunjung ke Yogyakarta.

1. Kampung Keris

Keris Kampung Serangan (Sumber: jogja.tribunnews.com)

Pastinya sudah tidak asing lagi dengan salah satu senjata tradisional Indonesia ini, kan? Tapi pernahkah kamu melihat keris secara langsung? Atau ingin melihat cara pembuatannya? Jika berlibur ke Yogya, kamu bisa melihat keris sekaligus cara pembuatannya di Kampung Keris yang terletak di daerah Serangan, Ngampilan, Yogyakarta.

Banyak jenderal yang hobi keris di Indonesia menatahkan kerisnya di kampung ini, bahkan termasuk juga Bung Karno dan Bung Hatta juga pernah menatahkan kerisnya di kampung ini. 

Untuk menjangkau tempat ini tidaklah sulit karena letaknya dekat Malioboro. Apabila berkunjung ke kampung ini, kita akan dimanjakan dengan eksotisme keris yang dibuat secara tradisional. Kamu tak hanya bisa melihat proses pembuatannya saja, tapi kamu juga bisa memesan keris langsung dari Sang Mpu Keris (pembuat keris). Namun, apabila ingin datang ke kampung keris Serangan, kamu harus datang di hari Senin-Jum’at, karena hari Sabtu-Minggu kampung ini libur dari aktivitas pembuatan keris. 

2. Kampung Batik

Ragam Batik Giriloyo (Sumber: berdesa.com)

Yogyakarta dikenal sebagai salah satu Kota Batik di Indonesia dan tentunya ada banyak kampung batik di kota ini. Salah satu kampung batik yang terkenal adalah Kampung Batik Giriloyo di daerah Imogiri, Yogyakarta. 

Hampir semua penduduk Dusun Giriloyo bekerja sebagai pembatik sejak turun-temurun, dan seluruh perajin masih menggunakan cara tradisional untuk membatik yaitu dengan canting dan malam cair. Apabila kamu berwisata ke Kampung Batik Giriloyo, kamu tak hanya bisa melihat pembuatan kain batik saja, tapi kamu juga bisa ikut kursus singkat membuat batik. 

Di Kampung Batik Giriloyo ini juga, kamu akan menemukan beragam motif batik, dari batik motif klasik hingga batik motif modern yang bisa kamu beli dan bawa pulang sebagai oleh-oleh. Harga batik di Kampung Batik Giriloyo ini beragam, mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. 

3. Kampung Gerabah

Hasil Gerabah Kasongan (sumber: visitingjogja.com)

Gerabah adalah salah satu seni tradisi kebanggaan Indonesia, kerajinan yang terbuat dari tanah liat ini biasanya dibuat dalam beragam bentuk, seperti guci, patung, vas bunga dan lain sebagainya. Jika ingin datang ke Kampung Gerabah, kamu bisa datang ke daerah Kasongan, sekitar 8 km dari pusat Kota Yogyakarta. 

Ketika memasuki kampung ini, kamu akan dimanjakan dengan pemandangan beragam hasil gerabah indah yang dipajang di halaman-halaman rumah para perajin, baik yang masih berupa tanah liat mentah berwarna merah hingga yang sudah dilakukan pembakaran dan finishing dengan beragam warna. Selain itu, di sudut-sudut kampung juga akan tampak tungku-tungku tradisional untuk membakar gerabah agar menjadi keras dan awet. 

Kamu tak hanya bisa melihat atau membeli gerabah saja, namun apabila kamu ingin membuat gerabah, kamu juga bisa mencobanya di kampung ini.   

4. Kampung Dolanan

Mainan Jadul di Kampung Dolanan (sumber: jogjainside.com)

Sebelum permainan jenis digital menjamur seperti sekarang, masa kecil anak-anak dahulu dipenuhi banyak permainan tradisional seperti gasing, othok-othok, egrang, dan masih banyak lagi. Permainan-permainan tradisional tersebut saat ini memang tak banyak lagi yang memainkannya, namun, apa bila kamu rindu untuk bermain seperti masa kecil dulu, atau ingin mencoba bermain dengan aneka permainan tradisional, kamu bisa datang ke Kampung Dolanan (Kampung Mainan) di Dusun Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul.

Kampung ini dulunya adalah sentra pembuatan mainan tradisional anak, namun seiring perkembangan zaman, mainan tradisional semakin tergusur. 

Pasca gempa 2006, kampung ini pun dihidupkan kembali sebagai Kampung Dolanan, meski pembuat mainan di kampung ini tinggal sedikit, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat para warganya untuk menunjukkan kearifan lokal daerah mereka ke masyarakat luas. 

Di kampung dolanan, kamu tak hanya bisa mengenal lebih dekat beragam jenis permainan tradisional, tetapi kamu juga ikut melihat dan ikut serta dalam proses pembuatan dolanan bersama para sesepuh desa yang sudah membuat dolanan tradisional selama puluhan tahun.

Selain itu, kamu juga bisa mendapatkan souvenir berupa mainan tradisional untuk dijadikan oleh-oleh. Harga mainan di kampung ini berkisar antara Rp 2.500,- hingga Rp 25.000,-. Sangat terjangkau bukan?

Nah, jika punya kesempatan berkunjung ke Yogyakarta, kamu ingin berwisata di kampung mana? Dengan berkunjung ke kampung wisata tentunya kita bisa travelling dengan cara berbeda sekaligus bisa mengenal lebih dekat tradisi masyarakat setempat dan 4 (empat) kampung wisata tradisi ini bisa kamu jadikan destinasi wisata yang wajib kamu kunjungi saat berlibur ke Yogyakarta. (*) 

 

Read More

Tips Keuangan Keluarga Anak 1 yang Mudah dan Sederhana

Kamis, September 17, 2020

Dalam kehidupan berumah tangga bila sudah memiliki anak pastinya kebutuhan juga akan semakin banyak dan bertambah. Sebagai contohnya adalah kebutuhan untuk makan anak, susu, kebutuhan pendidikan sampai dengan kebutuhan sandang dan kesehatan anak. Dan setiap orang tua tentunya ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Tidak ada orang tua yang ingin masa depan anaknya terancam, maka dari itu, tidak heran bila sebagai orang tua kita haru memiliki tips keuangan keluarga yang baik supaya bisa digunakan sebagai jaminan masa depan anak.

Perencanaan Keuangan Keluarga

Keluarga dengan basic yang dari awalnya sudah kaya, gaji dan sumber pemasukan banyak memang tidak perlu untuk memiliki tips-tips dan cara mengatur keuangan yang terlalu ribet dan rinci mengingat kembali bahwa untuk mendapatkan uang bagi mereka adalah hal yang sangat mudah. 

Tetapi kondisi semacam ini tentunya akan sangat jauh berbeda bila kebetulan Anda dan pasangan adalah keluarga yang biasa saja dan memiliki satu anak. kebutuhan semakin banyak dan PR Anda adalah bagaimana caranya masa depan anak Anda tetap terjamin. Maka dari itu, berikut ini adalah cara mengatur keuangan keluarga anak 1 yang mudah dan tidak ribet:

      ·     Belanja seminggu sekali

Untuk membantu menghemat pengeluaran setiap bulan, langkah pertama yang bisa Anda lakukan adalah dengan cara belanja kebutuhan sehari-hari Anda dengan jangka waktu seminggu sekali. Anda cukupi semua kebutuhan untuk makan keluarga setiap seminggu sekali.

Beli semua bahan-bahan yang Anda butuhkan di pasar tradisional yang nantinya juga akan sangat membantu Anda untuk menghemat pengeluaran. Karena harga barang-barang dan bahan untuk kebutuhan sehari-hari di pasar tradisional pasti lebih murah.

      ·         Prioritaskan anak

Langkah kedua yang bisa Anda lakukan adalah dengan cara memprioritaskan anak. dan cara yang bisa Anda lakukan adalah dengan menerapkan hidup hemat serta menabung setiap saat. 

Ajarkan pola hidup hemat kepada anak-anak Anda. Dengan begitu nanti suatu saat jika mereka sudah dewasa kelak apa yang Anda ajarkan tersebut akan sangat berguna bagi kehidupannya kelak.

Tips keuangan keluarga seperti yang disebutkan di atas memang sangat sederhana. Sebenarnya masih ada banyak sekali langkah-langkah yang bisa Anda ambil untuk mengatur keuangan keluarga Anda dan masa depan anak Anda tetap terjamin serta kehidupan perekonomian keluarga bisa tetap terjaga. Bila ekonomi dalam sebuah keluarga terjamin dalam artian seimbang maka keluarga juga bisa lebih harmonis.

Meski memang tidak menutup kemungkinan bahwa yang namanya uang dalam sebuah keluarga jika tidak bisa lancar pemasukannya maka yang ada di dalam kehidupan berumah tangga juga akan susah dan yang pasti pertengkaran juga tidak bisa dihindarkan. Dengan kondisi seperti ini nanti juga akan sangat berpengaruh pada mental anak Anda. (*)

Read More

5 Hal Unik dan Khas yang Akan Kamu Temukan di Sekaten Yogyakarta

Kamis, September 10, 2020

Salah satu tradisi tahunan yang ada di Yogyakarta adalah Sekaten. Upacara Sekaten merupakan acara peringatan hari kelahiran nabi Muhammad SAW  yang diadakan pada bulan Jawa Mulud (Rabiul awal tahun Hijriyah) di Alun-alun Utara Yogyakarta.

Nama Sekaten ini berasal dari Syahadatain yang memiliki arti dua kalimat syahadat karena upacara ini dulu digunakan Hamengkubuwono I untuk mengundang masyarakat agar memeluk Islam. Peringatan sekaten ini biasanya berlangsung selama satu bulan dengan menampilkan beraneka macam keunikan dan kekhasannya.

Saat Sekatenan ini diselenggarakan, biasanya akan banyak turis-turis lokal yang datang untuk menikmati beragam hiburan yang tersaji saat Sekatenan ini. Dalam kemeriahan acara sekaten tersebut, tentunya akan banyak hal unik dan khas yang akan ditemukan di acara Sekaten. Berikut ini adalah 5 hal unik dan khas yang akan kamu temukan di Sekaten Yogyakarta.

1. Pasar Malam

Pasar Malam Sekaten (instagram.com/widiyantoilham)

Seiring perkembangan zaman, saat ini tak banyak gelaran pasar malam yang diadakan karena kalah dengan tempat-tempat bermain yang lebih modern di Mall dan pusat perbelanjaan. Namun, tidak begitu halnya dengan di Yogyakarta, karena setiap tahunnya selalu ada pasar malam selama satu bulan untuk memeriahkan acara sekatenan. Apabila kamu datang ke pasar malam saat sekaten, kamu akan bisa bernostalgia dengan permainan masa kecilmu seperti komidi putar, bianglala, dan berbagai macam permainan lainnya.

Tak hanya Dunia Fantasi Ancol yang memiliki permainan kora-kora, namun di Pasar Malam sekaten juga ada. Ingin menguji adrenalin dengan sentuhan kearifan lokal, maka datang ke pasar malam Sekaten Yogyakarta adalah jawabannya.

2. Permainan Gamelan Keraton

Gamelan Keraton (instagram.com/b12ama)

Pada hari ke-5 Maulid, dua perangkat gamelan milik Keraton Yogyakarta akan dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di bangsal Sri Manganti. Dua perangkat gamelan ini bernama Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu. 

Gamelan-gamelan ini akan dibawa dan dimainkan di halaman Masjid Agung Yogyakarta yang berada di sebelah barat alun-alun utara. Akan tetapi, kamu tidak dapat mendengarkan permainan gamelan ini setiap saat, karena setiap harinya hanya akan dimainkan pada jam-jam tertentu saja, dan pada tanggal 11 Maulid maka perangkat gamelan ini akan dibawa masuk kembali ke dalam keratin. 

3. Endhog Abang

Endhog Abang (instagram.com/eko_prasetyo_adhi)

Endhog Abang memiliki arti telur merah, ini adalah salah satu makanan khas yang pasti ada di acara Sekaten Yogyakarta. Endhog Abang ini terbuat dari telur ayam biasa yang direbus kemudian kulitnya dicat dengan warna merah. Telur ayam yang sudah dicat merah kemudian ditusuk dengan sebilah bambu kemudian dihias sedemikian rupa agar terlihat menarik.

Endhog Abang memiliki makna filosofis, endhog (telur) melambangkan kelahiran, sedangkan abang (merah) melambangkan kesejahteraan. Ruas bambu yang ditusukkan pada telur juga memiliki makna hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Apabila disatukan, maknanya adalah, symbol kelahiran yang mendatangkan kesejahteraan dengan tetap berpedoman pada aturan Allah SWT.

Endhog Abang ini biasanya dijual bersama dengan kinang dan sirih (kebutuhan untuk menyirih). Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, apabila menyirih pada saat gamelan dibunyikan akan mendatangkan berkah. Biasanya penjual Endhog Abang ini adalah nenek-nenek berusia 70 tahun ke atas yang masih memegang teguh tradisi nenek moyangnya.

4.  Sego Gurih

Sego Gurih (instagram.com/trinurjayanti)

Saat perayaan sekaten, kamu akan bisa menemukan sego gurih dengan mudah. Sego gurih ini adalah nasi yang dimasak dengan daun salam sehingga rasanya gurih. Biasanya Sego Gurih dibuat dalam warna kuning atau putih, warna nasi ini melambangkan keagungan, keemasan, serta ketulusan.

Sego gurih biasanya disajikan dengan aneka lauk, seperti telur, suwiran ayam, abon, serundeng, dan lain sebagainya. Rasa nasi yang gurih dengan tampilan yang menggugah selera memiliki filosofi bahwa orang yang memakan sego gurih akan mendapatkan kebahagiaan.

5. Grebeg Muludan

Grebeg Sekaten (instagram.com/jogjaseni)

Grebeg Muludan merupakan acara puncak peringatan Sekaten. Pada acara ini akan diarak sebuah gunungan berukuran besar yang terbuat dari beras ketan, berbagai macam makanan, buah-buahan, serta sayu-sayuran. Gunungan ini dikawal oleh 10 macam prajurit keraton, yaitu Wirabraja, Dhaheng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Nyutra, Ketanggung, Mantrirejo, Surakarsa, dan Bugis. Gunungan kemudian diarak dari Istana Kemandungan menuju Masjid Agung.

Gunungan yang dibawa ke Masjid Agung kemudian akan didoakan sebelum kemudian diperebutkan oleh masyarakat yang menganggap siapapun yang mendapatkan bagian dari gunungan yang telah didoakan akan mendapatkan berkah. Apabila kamu ingin ikut bagian dari acara Grebeg Muludan ini, kamu bisa datang ke Yogya sebelum tanggal 12 Rabiul Awwal, karena acara puncak sekaten ini dilaksanakan pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awwal.

Itulah 5 (lima) hal unik dan khas yang akan kamu temukan apabila datang ke Sekaten Yogyakarta. Maka dari itu, jangan lupa datang bersama sahabat dan keluarga ke Yogyakarta.

Jika kamu datang Yogyakarta pada bulan Rabiul Awwal, tak hanya lima hal unik itu saja yang akan kamu temukan, tapi kamu juga akan menemukan kemeriahan dan kebahagiaan Kota Yogyakarta yang istimewa. (*)

Read More

Belajar dari Kenangan dan Impian Anak Emak

Kamis, September 03, 2020

 Judul          : Jurai (Kisah Anak-Anak Emak di Setapak Impian)

Penulis        : Guntur Alam

Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan      : Pertama, Maret 2013

Tebal           : 298 halaman

Harga          : Rp 58.000,-

ISBN           : 978-979-22-9338-8

 


Jurai merupakan novel pertama yang ditulis oleh Guntur Alam, penulis asal Sumatera Selatan. Kisah dalam novel ini dimulai dari tokoh Catuk yang ditimpa kemalangan karena Ebak (Ayah) nya meninggal dunia. Kehilangan yang amat menyakitkan dirasakannya, apalagi ia sebagai satu-satunya lelaki di Limasnya dipaksa menjadi dewasa lebih cepat saat usianya baru 10 tahun. Ia harus menjadi pemimpin dan pelita bagi Emak dan ketiga kakak perempuannya.

Kematian Ebaknya itu mengingatkan Catuk tentang Jurai, sejenis garis kehormatan dalam keluarga. Di kampungnya Tanah Abang, Muara Enim, Sumatra Selatan memang ada kepercayaan jika seorang anak lelaki mewarisi raut wajah Ebaknya, maka salah satu diantaranya akan berumur pendek. Tersebab mereka seperti bertarung berebut tempat dan salah satu di antaranya harus ada yang kalah (hal 8).

Belum tuntas kesedihannya karena kepergian Ebaknya, Catuk dan keluarganya harus didera kepedihan lain yang seakan datang bertubi-tubi. Dari rahasia kematian Ebaknya yang ternyata bukan disebabkan karena diseruduk babi hutan saat menyadap karet, melainkan karena ditabrak motor oleh anak juragan kebun karet hingga rahasia jika Ebaknya ternyata memiliki istri lain tanpa sepengetahuan Emak dan anak-anaknya (hal 115-132). Kenangan Catuk tentang Ebaknya menjadi cacat ketika didapatinya jika Ebaknya tak ‘sebersih’ yang dikiranya.

Pengkhianatan itu menyebabkan luka yang lebar dalam hati Emak Catuk. Emak limbung dalam keputusasaan, merasakan jika ia menjadi perempuan tak berguna, terlebih saat ia tahu jika suaminya mencari istri baru adalah untuk memiliki anak lelaki yang dianggap menjadi kebanggaan keluarga. Catuk sebagai anak lelaki bungsu menyalahkan dirinya kenapa ia tak lahir sebagai anak pertama hingga Ebaknya tak perlu menikah lagi.

Di tengah permasalahan yang tak ada habisnya, Catuk melihat Emak yang akhirnya kembali bangkit dan terus bekerja demi menyekolahkan semua anak-anaknya. Meski ditentang oleh orang tuanya yang mengatakan jika anak perempuan tak perlu sekolah tinggi, namun hal itu tak menyurutkan semangat Emak.    

Serupa Tapi Tak Sama

Hampir serupa dengan novel inspiratif lain, novel ini bercerita tentang menggapai impian di tengah kesulitan. Novel Jurai ini mengisahkan perjuangan menggapai mimpi-mimpi di tengah kehidupan yang miskin, serba kesulitan dan banyak disepelekan oleh orang-orang.

Guntur Alam yang menggunakan sudut pandang tokoh Catuk, anak berumur 10 tahun, menjadi suatu hal yang berbeda dalam novel yang terbagi dalam 27 bab ini. Karena pemakaian sudut pandang Catuk ini pula, ada kekhasan kisah anak-anak yang hadir, seperti saat ia ingin memiliki sepatu baru dan keriangannya saat pertama kali mengunjungi kota kabupaten Muara Enim. Namun, ada bagian kisah Catuk dan teman-teman SD nya menjadi terlihat dipaksakan atau terlalu berlebihan ketika diceritakan tentang tokoh Catuk yang jatuh cinta pada siswa SD dari kampung lain. 

Namun, ada bagian kisah Catuk dan teman-teman SD nya menjadi terlihat dipaksakan atau terlalu berlebihan ketika diceritakan tentang tokoh Catuk yang jatuh cinta pada siswa SD dari kampung lain.  

Dalam novel yang bersetting di sebuah dusun kecil di Muara Enim Sumatera Selatan ini, sayangnya Guntur Alam tak terlalu mengeskplore budaya lokal masyarakat setempat. Guntur Alam hanya sedikit menuliskannya dalam cerita tentang ritual tahlilan empat puluh hari dan seratus hari kematian, yang mana hal itu sudah lumrah dilaksanakan oleh hampir semua masyarakat di Indonesia hingga tidak menjadi sesuatu yang istimewa.   

Konflik tentang Jurai dalam keluarga yang dianggap tokoh utama menjadi penyebab kematian Ebaknya hanya menjadi konflik batin tokoh utama saja, tidak dieskplore menjadi konflik yang lebih luas dan mengaitkan pandangan masyarakat setempat dan keluarga secara utuh pada sosok Catuk ini.

Penggunaan diksi yang kurang pas di beberapa bagian cerita menjadi kelemahan novel ini, seperti dalam kalimat berikut “Retina matanya terlihat berkaca-kaca tapi bibirnya tetap menyunggingkan senyum.” Penulis menggunakan retina untuk merujuk bagian mata yang bisa berkaca-kaca karena diselimuti cairan air mata, padahal hal itu kurang tepat, karena retina merupakan bagian dalam mata yang berfungsi membentuk bayangan benda dan meneruskannya ke syaraf mata. Retina letaknya di bagian dalam mata, tidaklah tampak dari luar dan tidak bisa dilukiskan bisa berkaca-kaca. Lebih tepat jika penulis menggunakan Iris, atau Kornea yang memang bagian mata yang ada di depan dan tampak.

Terlepas dari beberapa kekurangan novel ini. Novel Jurai tetaplah menjadi salah satu bacaan yang bergizi karena di dalamnya tak hanya mengajarkan pembaca untuk belajar pada kenangan dan impian, tetapi juga menyampaikan semangat emansipasi wanita. Hal ini bisa dilihat saat penulis memaparkan perjuangan tokoh Emak untuk menyekolahkan anak-anaknya di tengah pandangan orang-orang yang mencibirnya. Guntur Alam menuliskan pemikiran tokoh Emak dengan apik. Bagaimana ia menyampaikan pesan pada pembaca jika perempuan haruslah pandai agar tak dibohongi, termasuk oleh orang yang dicintainya.(*)

Read More

Happy Little Soul: Belajar Menjadi Sahabat Anak

Kamis, Agustus 27, 2020

Judul             : Happy Little Soul
Penulis          : Retno Hening
Penerbit        : Gagasmedia
Terbit            : Pertama, 2017
Harga            : Rp 80.000,-
ISBN             : 978-979-780-886-0

Memiliki buah hati merupakan sebuah kebahagiaan yang luar biasa bagi setiap ibu yang ada di dunia ini, dan setiap ibu tentunya ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya, akan tetapi tak jarang para ibu dan ayah memaksakan sesuatu kepada anak dengan dalih bahwa itu adalah yang terbaik untuk anaknya.

Orangtua kerapkali tak ingin tahu apa yang diinginkan anak, orangtua selalu ingin anaknya menjadi yang paling baik, bahkan tak jarang membanding-bandingkan anak dengan anak yang lainnya. Padahal yang diinginkan anak adalah ingin dipahami dengan penuh cinta oleh ibu dan ayahnya.

Itulah pesan utama yang ingin disampaikan oleh Retno Hening dalam bukunya berjudul Happy Little Soul, sebuah catatan mengenai kehidupan dan kesehariannya membesarkan buah hati tercinta, Mayesa Hafsah Kirana.

Bagi pengguna instagram tentunya tak asing dengan sosok Retno Hening dan Kirana yang kerap mengunggah foto serta video kebersamaan mereka di akun @retnohening. Sosok Kirana memang sangat menggemaskan, hingga siapapun yang melihat foto dan videonya akan bisa langsung jatuh cinta dari pandangan pertama.

Pada awalnya, Retno Hening mengunggah keseharian Kirana di instagram hanya sebagai penyambung rasa rindu bagi keluarga yang ada di tanah air, hal ini dikarenakan Kirana dan keluarganya sekarang tinggal di Oman.

Keseharian Retno Hening dan Kirana yang diunggah di instagram ternyata membawa dampak yang luar biasa, banyak pengguna instagram yang jatuh cinta pada Kirana dan akhirnya menjadi follower akun Retno Hening.

Apalagi dalam video-video yang diunggah tidak hanya berisi kelucuan Kirana saja, namun juga berisi tentang tips-tips parenting. Nah, dari keseharian mereka itulah, berbagai pengalaman Retno Hening selama mengandung dan membesarkan Kirana hingga berusia 3 tahun dituangkan dalam buku ini.

Sikap Kirana yang sopan dan rasa empatinya yang tinggi membuat banyak orang penasaran dengan metode pembelajaran yang dilakukan oleh Retno Hening di rumah, dan di buku inilah akan dijelaskan secara lebih terperinci pembelajaran apa saja yang dilalui oleh Kirana sehingga bisa menjadi anak yang cerdas, sopan, dan penuh empati.

Memahami Anak

Hal pertama yang disampaikan Retno dalam buku ini adalah bahwa orangtua lah yang harus memahami anaknya yang masih bayi atau balita, bukan bayi atau balita yang harus memahami keinginan orangtuanya. Ketika bayi menangis, ketika bayi susah tidur, atau ketika bayi tiba-tiba terbangun tengah malam, orangtua jangan lantas marah-marah, mungkin orangtua memang merasakan lelah, tapi anak bayi belum mengerti cara berkomunikasi, sehingga orangtua yang wajib memahami apa keinginan buah hati.

Retno sebisa mungkin selalu mengajak Kirana berkomunikasi, tak hanya ketika Kirana sudah bisa berbicara, namun juga ketika Kirana belum lancar mengucapkan kata. Cara komunikasi ini pula yang kemudian membuat Kirana bisa lancar berbicara di usianya yang masih dini.

“Menyugesti diri sendiri bahwa Kirana paham dengan perkataan saya, membuat saya tidak mudah marah. Saya merasa Kirana sudah paham perkataan saya tanpa harus marah-marah dan berteriak”. (halaman 51).

Dalam buku ini diceritakan secara jelas bagaimana seorang Retno yang kerap disapa Ibuk saling jatuh cinta dengan Kirana, bagaimana mereka bermain bersama, dan saling menghibur di kala duka.

“Beberapa kali ketika saya marah-marah, Kirana mengingatkan, ‘Ibuk sabar, Ibuk. Jangan marah-marah, nanti Kirana sedih’. Ucapannya itu membuat kemarahan saya seketika mereda, kemudian malu sendiri”. (halaman 187)

Retno pun sedini mungkin mengajarkan pada Kirana tentang sikap sehari-hari dengan mencontohkan hal-hal yang baik karena anak adalah pencontoh yang ulung. Orang terdekat yang dilihat anak adalah orangtua, maka ingin anak bersikap baik, maka orangtua juga harus mencontohkan hal-hal baik pula.

Tak hanya berisi tentang cerita keseharian serta cara Retno untuk mendidik Kirana, di buku ini juga berisi menu-menu MPASI untuk bayi serta beragam model jenis permainan yang bisa dibuat sendiri di rumah dan dimainkan bersama oleh orangtua dan anak. Buku ini tak hanya cocok dibaca oleh para orangtua yang sudah memiliki buah hati, namun juga oleh para calon orangtua yang ingin mempersiapkan diri agar bisa menjadi sahabat anak dan bisa memahami anak dengan penuh cinta. (*)

Read More

4 Minuman Khas yang Wajib Kamu Nikmati Saat Berkunjung ke Yogyakarta

Kamis, Agustus 20, 2020

Apa yang terlintas di benakmu ketika ada pertanyaan, ‘minuman apa yang erat kaitannya dengan Yoyakarta?’ Bisa dipastikan sebagian besar dari kamu akan menjawab, ‘Jamu’. Ya, Jamu memang salah satu minuman tradisional dengan resep turun-temurun yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Jawa, termasuk juga Yogyakarta.

Namun, selain Jamu, sebenarnya ada beberapa minuman khas Yogyakarta yang harus kamu coba jika kamu berkunjung ke Kota Pelajar ini. Minuman-minuman berikut ini juga bisa menjadi pereda stres dan bisa digunakan untuk detoks pikiran

1. Wedang Ronde

Wedang Ronde
Wedang Ronde (Sumber: instagram.com/jogjafood)

Menikmati malam di Yogyakarta, akan semakin lengkap dengan menikmati minuman hangat wedang ronde. Ronde sendiri berbentuk bulatan kecil yang terbuat tepung beras yang di dalamnya berisi campuran gula merah dan kacang tanah.

Wedang Ronde sendiri adalah bukti adanya perbauran budaya tionghoa yang masuk ke Indonesia di masa lalu, karena resep ronde awalnya memang berasal dari resep makanan tionghoa bernama Tangyuan. Namun, setelah masuk ke Indonesia dan menyatu dengan budaya Jawa yang erat dengan resep minuman herbal, maka jadilah Wedang Ronde. Cara penyajian wedang ronde pun berbeda dengan minuman kebanyakan, tidak disajikan ke dalam gelas, melainkan dengan sebuah mangkuk kecil yang tak hanya berisi ronde, namun juga agar-agar, kolang-kaling, taburan kacang tanah sangria yang kemudian disiram air jahe yang hangat.

Ingin menikmati hangatnya wedang ronde? Penjual wedang ronde bisa sangat mudah ditemukan di Yogyakarta, salah satunya ada di sekitaran alun-alun kidul. Kamu bisa duduk lesehan di alun-alun kidul sambil menghangatkan badan dengan semangkuk wedang ronde. Dijamin kamu akan ketagihan saat merasakan sensasi rasa manis dari ronde, dan hangatnya air jahe yang mengalir di tenggorokan.

2. Wedang Uwuh

Wedang Uwuh (Sumber: instagram.com/bimantarahp)

Jika diterjemahkan, wedang uwuh memiliki arti minuman sampah. Ya, mungkin kamu akan bingung dengan sebutan ini, tapi jangan salah, minuman sampah ini justru memiliki banyak khasiat karena terbuat bukan dari sampah sembarangan.

Wedang Uwuh ini berasal dari Imogiri, Bantul, Yogyakarta, terbuat dari racikan jahe, daun secang, cengkeh, kayu manis, kapulaga, pala serta gula batu yang diseduh dengan air panas. Kumpulan rempah ini sekilas terlihat seperti sampah yang tidak berguna, oleh karena itu disebut Wedang Uwuh.

Saat kamu menyeduh rempah-rempah uwuh ini, akan timbul warna cokelat kemerahan yang tercipta karena daun secang serta wangi yang hangat dari rempah-rempah lainnya. Jika kamu merasa kelelahan dan masuk angin saat jalan-jalan ke Yogyakarta, kamu harus mencoba Wedang Uwuh ini untuk mengembalikan kesegaran tubuh kamu.

3. Wedang Secang

Wedang Secang (Sumber: instagram.com/infusedwaterindonesia)

Hampir sama dengan wedang uwuh dan wedang ronde, wedang secang ini adalah jenis minuman rempah yang bisa kamu nikmati ketika berada di Yogyakarta. Konon, Wedang Secang ini adalah minuman turun temurun yang dulu menjadi minuman favorit Raja Majapahit.

Sekilas, mungkin tampilannya hampir sama dengan wedang uwuh yang berisi beberapa rempah yang dicampur jadi satu, namun rempah-rempah di wedang secang lebih sedikit jika dibandingkan dengan wedang uwuh karena hanya berisi kayu secang, jahe, dan daun sereh saja.

Ketika direbus atau diseduh air panas, selain warna merah yang tercipta dari kayu secang, akan tercipta juga wangi jahe dan daun sereh yang menjadi satu.

Kamu ingin merasakan sensasi hangat minuman kesukaan Raja Majapahit? Jangan lupa nikmati Wedang Secang ini jika kamu berkunjung ke Yogyakarta.

4. Kopi Joss

Kopi Joss (Sumber: instagram.com/jogjaseni)

Kamu penggemar kopi? Jika iya, maka kamu tak boleh melewatkan sajian Kopi Joss khas Yogyakarta yang sangat terkenal ini.

Kopi Joss adalah kopi hitam yang cara penyajiannya dengan dicelup arang panas hingga menimbulkan suara ‘josssss’, karena itulah kopi ini disebut kopi joss.

Kalau kamu ingin menikmati kopi joss di Yogyakarta sangatlah mudah, karena hampir semua angkringan di kota ini menyajikan kopi joss. Akan tetapi kalau kamu ingin minum kopi joss di angkringan pelopor minuman unik ini, kamu harus pergi ke Angkringan Lek Man yang letaknya tak jauh dari Stasiun Tugu dan Malioboro.

Itulah 4 (empat) minuman khas yang wajib kamu nikmati jika berkunjung ke Yogyakarta, minuman-minuman khas ini tak hanya bisa menghangatkan badan, namun juga akan membuatmu lebih mengenal budaya Yogyakarta. (*) 

Read More