Belajar Jadi Orang Tua dan Sahabat untuk Anak

Jumat, Juli 03, 2020

Judul              : Anak Juga Manusia
Penulis           : Angga Setyawan
Penerbit         : Nourabooks, Jakarta
Tebal               : 175 halaman
Cetakan          : Pertama, Mei 2013
ISBN               : 978-602-7816-32-9

Anak adalah anugerah indah yang diberikan Tuhan bagi para orang tua. Namun, terkadang ada beberapa orang tua yang tidak mampu memahami jika anak adalah anugerah, dan justru dipandang sebagai beban. Ini bisa dilihat dari beberapa berita yang kerap tayang di televisi maupun tercetak di surat kabar tentang orang tua-orang tua tak bertanggung jawab yang tega membuang bayinya atau menyiksa anaknya karena alasan rewel.

Pertanyaannya adalah apa yang sebenarnya terjadi? Apa benar seorang anak itu nakal atau orang tua tersebut yang belum siap untuk menjadi orang tua? Orang tua pastinya berharap agar anak-anaknya menjadi anak yang baik, akan tetapi orang tua lupa, apakah mereka sudah menjadi orang tua yang baik untuk anak-anaknya atau belum.

Dalam buku Anak Juga Manusia ini dibahas mengenai bagaimana memosisikan anak di dalam keluarga dan bagaimana orang tua harus bersikap kepada anaknya. Banyak orang tua menganggap jika anak yang nakal disebabkan karena kegagalan mereka mendidik anak, padahal sebenarnya justru kegagalan itu sudah dirancang sendiri oleh orang tua.

Bukan hanya anak yang memiliki tugas untuk belajar, akan tetapi orang tua juga punya kewajiban untuk terus belajar bagaimana untuk menjadi orang tua yang baik. Banyak cara yang dapat orang tua lakukan, melalui browsing, membaca buku parenting, ikut seminar dan pelatihan, konsultasi dengan konsultan pendidikan anak, dan bukan orang tua tidak mampu melakukan itu semua, tetapi karena orang tua tidak berusaha untuk mampu (halaman 4).

Anak itu serupa kertas putih yang mana tergantung orang tua bagaimana akan menulis atau menggambar di atasnya. Sejak anak kecil, orang tua seharusnya mampu membangun kedekatan dengan anak. Lebih banyak mendengar daripada bicara, dan buka hati agar anak nyaman dan bersedia untuk bercerita apapun kepada orang tua (halaman 12).

Orang tua yang tidak mampu menjalin kedekatan dengan anak, akan membuat anak merasa jauh dengan orang tua sehingga lebih memilih bercerita pada teman-temannya. Apabila teman-temannya baik tentu tidak masalah. Namun, apa jadinya jika anak bergaul dengan teman dan lingkungan yang salah?

Orang tua harus menyediakan waktu untuk anak. Peran orang tua sangat vital bagi perkembangan anak. Orang tua adalah model bagi anak dan juga menjadi benteng terakhir bagi anak (halaman 14).

Orang tua seringkali menjejali anak dengan bermacam les dengan harapan anaknya akan menjadi pintar dan serba bisa, akan tetapi orang tua juga sering lupa dengan fondasi utama pendidikan anak yaitu, ‘Pendidikan Rumah’ yang juga menjadi salah satu judul bab di buku ini.

Dalam buku ini juga dijabarkan mengenai bagaimana orang tua harus bersikap untuk menghadapi kemampuan anak. Setiap anak pastilah memiliki kemampuan yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa disamaratakan kemampuan anak. Anak mendapat nilai 50 dalam pelajaran Matematika bukan berarti anak tersebut bodoh? Karena bisa jadi keunggulan kemampuan anak bukan di Matematika tetapi di Kesenian.

Oleh karena itu, orang tua harus bisa membimbing anak untuk dapat menemukan dan menumbuhkan kemampuan yang dimiliki anak dan jangan lantas mengucapkan kata’bodoh’ atau ‘nakal’ pada anak, karena hal itu secara tidak langsung akan masuk ke dalam alam bawah sadar si anak dan ia akan mengonsep dirinya jika ia itu anak yang bodoh.

Masaru Emoto, seorang peneliti dari Jepang, melakukan penelitian jika air memiliki struktur yang bisa berubah bentuk sesuai yang kita pikirkan, katakan, atau inginkan terhadap air itu atau sesuai bagaimana perasaan kita terhadap air tersebut. Kemudian diketahui pula jika tubu manusia sebagian besar susunannya adalah air, sehingga orang tua harus berhati-hati dengan apa yang diucapkannya pada anak.

Apa yang orang tua katakan pada anak, jika mereka percaya di level bawah sadarnya, tubuhnya yang sebagian besar adalah air akan membentuk struktur yang mengikuti apa yang diucapkan (halaman 43).

Orang tua harus bisa mengonsep segala sesuatu yang positif dalam pikiran anak, jangan biasakan membentak anak jika ia melakukan kesalahan atau tak bisa melakukan sesuatu seperti yang orang tua harapkan, pahamilah hal tersebut sebagai proses pembelajaran.

Thomas Alva Edison, penemu bola lampu dan orang yang paling banyak mematenkan penemuannya, ternyata ia pernah dikeluarkan dari sekolah karena dianggap bodoh dan idiot. Namun, ibunya tak marah dan justru memeluk erat dan mengatakan pada Thomas, ‘Nak, mulai saat ini, kamu akan belajar dengan Ibu’.

Nancy Elliot, ibu Thomas Alva Edison, dengan sabar juga selalu menjawab pertanyaan Thomas, jika dia tak mampu ia akan mengajak Thomas untuk menemui seseorang yang dianggap bisa menjawabnya, atau ia akan mengajak Thomas ke perpustakaan untuk mencari jawaban. Bahkan, pernah ibunya membantu Thomas mencari sebuah jawaban di buku perpustakaan selama hampir satu bulan (halaman 87).

Dari buku Anak Juga Manusia ini, memberikan pengetahuan bagi para orang tua untuk bisa lebih memahami anak dan menjadi sahabat bagi anak. Buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca para orang tua dan juga para calon orang tua agar dapat memahami lebih dalam bagaimana menjadi orang tua dan sahabat yang baik untuk anak, karena anak juga ingin dimengerti. (*)

14 komentar

  1. Aku setuju banget dengan pola asuh untuk tidak membentak anak, tetap semangat dalam mendidik anak tanpa otot

    BalasHapus
  2. Anak adalah bagian dari diri orang tua..tanpa sadar ortu membentuk anak seperti yg ortu inginkan bukan membantu anak menemukan kebutuhannya..

    BalasHapus
  3. Kirain relate sama Sekolahnya Manusia Munir Chatib Mbak Icha.. ternyata karangan Angga Setyawan ya. Setuju sekali kl kenakalan anak itu sebenarnya kegagalan orang tua.

    BalasHapus
  4. Jadi inget beberapa film kekerasan yang ternyata sumber kekerasan si pelakunya ini dapet dari trauma pola asuh pas masih kecil. Duh, rasanya pengen meluk anak karena masih suka engga sesuai dalam mendidik

    BalasHapus
  5. Udah lama nggak baca buku parenting. Saya screenshoot untuk wish list bacaan pas senggang nanti. Ngerasa banget jadi ortu kayaknya ga bisa berhenti belajar terus. Padahal ini anak masih satu dan masih kecil pula. Gimana nanti kalau lebih dari satu dan beranjak remaja/dewasa.

    BalasHapus
  6. Trims rekomendasi bukunya kak icha, penting banget nih buat calon orang tua agar belajar menjadi orang tua & sahabat yang baik bagi anak

    BalasHapus
  7. Keren bukunya ya kak. Aku selalu takjub dengan ibunya Alfa Edison kak, dan penelitian Masaru emoto juga selalu jadi pengingat buatku agar tidak melabel anak yang jelek.

    BalasHapus
  8. nah iya bener banget mba, apalagi zaman dulu ya ilmu parenting masih dikit banget yang tahu. nah sekarang makin banyak nih ilmu parenting yang bisa diserap. keren ih bukunya, pengen baca. makasih reviewnya mba

    BalasHapus
  9. Buku yang menarik untuk menjadi bacaan para orang tua, khususnya saya yang sering merasa gagal ngadepin anak sulung

    BalasHapus
  10. Anak adalah cerminan dari orang tua, bagaimana anak tumbuh tergantung dengan bagaimana orang tua memperlakukan dan mendidiknya. Buku Anak Juga Manusia layak banget dibaca oleh orang tua atau calon orang tua

    BalasHapus
  11. Anak juga punya hak asasi yang harus diakui, ddengar, dan dihargai. Sayangnya, di negeri ini, bargaining position anak masih lemah.

    BalasHapus
  12. ibunya thomas alva edison panutan banget yah, keren banget
    semoga bisa meniru kelapangan hati untuk menerima kekurangan anak yang bisa jadi kelebihan tak terduga

    BalasHapus
  13. Wajib aku beli dan baca nih buku, agar aku bisa jadi orang tua yang baik karena jika kita mendidik dengan baik dan benar maka akan berpengaru juga terhadap pertumbuhan anak juga

    BalasHapus
  14. Saya salut sama ibunda kang Thomas A.Edison..ilmu parentingnya luar biasa dalam memotivasi anak pdhal orang jmn dulu ya ,,heuheu patut dicontoh nih

    BalasHapus