PENGUMUMAN 20 NOMINE SAYEMBARA MENULIS CERPEN BELISTRA 2011

Selasa, November 08, 2011

Sepatah Kata dari Dewan Juri
Kurnia Effendi – Raudal Tanjung Banua

Cerpen Masih Memiliki Masa Depan
Pernyataan di atas seperti datang dari seorang yang bangkit optimis setelah lama merindukan cerpen-cerpen yang baik (dan mencerahkan). Cerpen yang setiap pekan hadir melalui koran edisi minggu atau secara berkala muncul di sejumlah majalah, bagai selingan saja. Dibutuhkan untuk membunuh waktu, “habis dibaca sekali duduk” menurut Allan Poe, dan kembali lenyap kecuali kelak menjadi buku. Sementara di toko-toko pustaka, orang ramai memborong novel, hampir melupakan cerita pendek. Mereka yang berharap-harap peruntungan dari cerpen semata para penulisnya sendiri. Dengan sepatah-dua ulasan mengenai cerpen membuat hati pengarangnya sedikit senang.

Lomba cerpen Belistra menunjukkan bahwa masih banyak kaum muda senang menulis cerpen. Persoalan berikutnya adalah: sekadar menulis atau terampil mengolah gagasan menjadi sajian yang menggetarkan. Tema yang dibebaskan sesungguhnya menarik untuk dieksplorasi menjadi segala sesuatu yang hampir tak mungkin dan pembaruan yang ditunggu-tunggu. Dari jumlah cerpen yang masuk, pada pembacaan putaran pertama kami langsung terperas tinggal seperenamnya. Artinya, memang tidak mudah menulis cerpen. Sekaligus, tak sulit menulis cerpen, bila menyertakan keterlibatan emosi untuk menghidupkannya.

Berbagai pokok pikiran dan teknik menyampaikannya kepada pembaca, pertama kali harus memenuhi syarat tentang penguasaan penggunaan bahasa. Itulah kendaraan bagi sang pengarang. Cerita yang baik, “anehnya”, justru yang mengandung ironi, kejutan di sana-sini, ungkapan yang tak klise, dan sentuhan humor dengan mata ganda: membuat tertawa dan menyindir. Dari seperenam yang terpilih bergerak dalam wilayah: realisme, kearifan lokal, satir, romansa, semi mitologi, dan sejarah. Memang belum sampai pada absurditas, tetapi kami dapat mengatakan bahwa sebagian pengarang akan membawa cerpen ke masa depan yang cukup terang.

Banyak karier menulis dimulai dari kompetisi, karena medium ini menjadi semacam cara uji. Sejauh mana kemampuan seorang penulis bersaing untuk menjadi yang pantas dan belajar pada cakrawala sastra yang lebih luas. Belistra telah memberikan kesempatan yang baik bagi para mahasiswa, yang juga dimanfaatkan dengan baik. Pada putaran pembacaan kedua, dengan mudah terpilih urutan. Semua ini tentu bersandar pada selera, meskipun disusun melalui kriteria yang cukup mendasar: keterampilan berbahasa, logika fiksi, teknik penyampaian, dan pesona yang ditawarkan. Bagi kami yang juga menyandang “profesi” penulis cerpen, bacaan seperti ini sungguh karib dan tentu mengharapkan sesuatu yang “out of the box”. Meskipun tidak terpenuhi keinginan itu, namun sekali lagi kami mengatakan bahwa cerpen masih memiliki harapan dan masa depan. Mudah-mudahan bakat mereka terasah dan masing-masing memiliki daya tahan sehingga sanggup menulis dalam usia yang panjang.

Dengan kecintaan terhadap sastra, kami memilih dan memutuskan 20 nominasi pemenang sebagai berikut:

Tenggok, karya Angga Aryo Wiwaha (STAIN Purwokerto)
Saksi, karya Zakiya Sabdosih (Univesitas Brawijaya-Malang)
Aku Sayang Luisa, karya Hermawati Nur Zulaikha (Institut Pertanian Bogor)
Tari Api Jefa Nugraheni Sunu, karya Royyan Julian (Universitas Negeri Malang)
Gambalu, karya Ahmad Ijazi H. (UIN Sultan Syarif Kasim- Riau)
Bulan Kebabian, karya Eko Triono (Universitas Negeri Yogyakarta)
Prenjak, karya Raymon Tulus Y. (Universitas Padjadjaran-Bandung)
Kepala, karya Mega Fitriyani (Universitas Gadjah Mada-Yogyakarya)
Malaikat Rumah Rahwa, karya Nur Afif Kadir (Universitas Muhammadiyah Malang)
Ibu Menyanyi Untukku, Aku Menyanyi untuk Ibu, karya Dodi Prananda (Universitas Indonesia)
Cinta dari Kampung yang Hilang, karya M. Nur Fahrul Lukmanul Khakim (Universitas Negeri Malang)
Aku, Perempuan, dan Pak Kacong, karya Lukman Hakim Ag. (STITA)
Epos Senja, karya Amanatia Junda S. (Universitas Gadjah Mada-Yogyakarya)
Februari, karya Septantya Chandra Pamungkas (Univesitas Brawijaya-Malang)
Kembang Turi, karya Widya Nurrohman (Universitas Airlangga-Surabaya)
Surat untuk Izrail, karya Richa Miskiyya (IAIN Walisongo-Semarang)
Warung Nyi Taslima, karya Badrul Munir Chair (UIN Sunan Kalijaga-Yogyakarta)
Dara Jingga, karya Sulfiza Ariska (UT UPBJJ Yogyakarta)
Kampus Perjuangan, karya Anita Rachmawati (Univesitas Brawijaya-Malang)
Lagu untuk Ibu, karya Thoni Mukharrom I.A. (Universitas PGRI Ronggolawe-Tuban)
Penantian Satu Wajah, karya Nur Inayah Syar (Universitas Negeri Makassar)

Kepada seluruh nomine lomba cerpen Belistra, kami menyampaikan selamat. Bagi yang belum beroleh kesempatan, karena satu dan lain hal, tidak perlu berkecil hati. Pesan kami kepada seluruh peserta: jangan berhenti menulis.

Catatan Panitia:
Daftar karya di atas tidak berdasarkan urutan pemenang. Dengan dipublikasinya hasil keputusan dewan juri ini, UKM Belistra FKIP Untirta mengundang kepada seluruh nomine untuk menghadiri “Belistra Bergema: Meretas Cinta Lewat Sastra” pada Senin, 21 November 2011, bertempat di Auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).
Adapun acara yang terangkum di dalamnya adalah Seminar Menulis dengan pembicara Kurnia Effendi (salah satu juri) serta Pengumuman Pemenang dan Malam Penganugerahan bagi para Jawara Sayembara Menulis Cerpen UKM Belistra FKIP 2011. Surat resmi akan kami kirimkan melalui e-mail masing-masing nomine dan mohon untuk mengonfirmasi kehadiran, paling lambat 16 November 2011.

Narahubung:

Tri Megaraesita (Ketua Pelaksana Sayembara Menulis Cerpen Belistra 2011 - 087774121439)
Anom Fajar Puji Asmoro (Ketua Umum UKM Belistra FKIP Untirta - 081906494706)

Salam takzim.
Panitia Sayembara Menulis Cerpen Belistra 2011
UKM Belistra FKIP Untirta

Sumber : http://ukmbelistra.blogspot.com/

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe