SAPEN : Dulu dan Kini

Selasa, Oktober 08, 2013

Surat-surat dari Sahabat Pena
Ini bukanlah catatan serius, hanya sekadar menggali kembali kenangan yang lama tersimpan di dalam almari, jadi tak perlu melipat kening saat membacanya, tapi boleh kalau mau senyum-senyum baca catatan ini.

Di dalam kamarku, ada sebuah almari kecil, tempatku menyimpan benda-benda kenangan dari orang-orang yang pernah jadi bagian dalam hidupku (sahabat, saudara, dan 'penggemar cinta monyet'), hehe. Di almari itu juga tersimpan sebuah kaleng biskuit bekas, tempatku menyimpan puluhan surat dari sahabat pena.

Ya, sapen, sahabat pena. Istilah ini pasti tak asing lagi, dulu. Tapi kini, entahlah. Mungkin 'sahabat pena' sekarang ini hanya ada di pertanyaan UTS Bahasa Indonesia anak SD.

Aku mulai tertarik dengan kegiatan bersapen ria ini sejak SD, setiap membuka rubrik surat pembaca di majalah BOBO, pastilah ada anak yang meminta dicarikan sahabat pena sama BOBO. Dari awalnya tertarik, aku mulai  suka ikut kuis-kuis, kirim surat pembaca, dan puisi singkat di majalah anak. Sejak itulah foto-foto cantikku mulai menghiasi koran dan majalah, hehe, dan mulai banyak yang mengirim surat padaku karena di koran & majalah itu ada alamat lengkap rumahku juga.

Surat-surat yang datang biasanya mengajak berkenalan, terkadang ada juga yang mengirim foto dan meminta aku juga mengiriminya foto kembali (yang ini biasanya sapen cowok). Di surat-surat itulah aku dan sahabat-sahabatku dari luar kota dan luar pulau bertukar cerita, kabar gembira, juga keluh kesah tentang sekolah.
Terkadang aku harus bersusah payah membaca surat yang dikirim untukku karena tulisannya seperti cacing breakdance, tapi itulah keseruannya. Menerima surat, membacanya, dan membalasnya adalah suatu keasyikan tersendiri. Bisa dikatakan, surat- surat ini jugalah yang menjadi 'guru' pertamaku menulis, belajar mengeluarkan gagasan dan ide-ide yang ada dalam pikiran.

Ketika di sekolah, salah satu hal yang kunantikan adalah melihat amplop surat bertuliskan namaku dipajang di jendela kantor Tata Usaha, bahagianya bukan main. Dalam satu minggu biasanya ada satu atau dua surat untukku. Tapi tak hanya surat, ada juga foto-foto artis yang datang, kalau ini memang karena aku sering kirim surat penggemar ke artis dan ketika dibalas dapat foto dan tanda tangan, kebahagiaan remaja. ^_^V

Aku bisa bolak-balik ke kantor pos dua sampai tiga kali dalam seminggu, menyisihkan uang jajan, untuk beli perangko, amplop, dan kertas surat. Aku pun sampai punya koleksi kertas surat, bahkan saat SD dan awal SMP pernah jualan kertas surat juga (otak bisnis dari kecil).

Hingga duduk di bangku Madrasah Aliyah dan tinggal di pesantren, aku masih hobi bersahabat pena. Tapi, kisah-kisah sahabat pena itu sudah berlalu, seiring dengan perkembangan tekhnologi, datangnya MIRC, Friendster, Facebook, Twitter, Path, dan lain sebagainya.

Untuk tahu kabar, cari teman, tinggal 'klik', mau menyapa artis juga tinggal mention di twitter. Kini, rindu itu datang, rindu dengan suara robekan ujung amplop ketika membukanya, rindu membaca kalimat 'Hai, boleh kenalan' di kertas yang wangi, juga rindu melepas perangko bekas dan memasukkannya ke buku filateli.

Semua hal memang ada masanya dan berganti, jika dulu aku mengenal SAPEN sebagai sahabat pena tempat berbagi kisah, kini justru aku menguntai kisah dengan lelaki yang tinggal di SAPEN*. Sebuah kebetulan yang membahagiakan. (*)

*SAPEN : nama daerah di Yogyakarta
Koleksi kertas surat yang masih tersisa


You Might Also Like

0 komentar

Subscribe