1000 Kelopak Mawar

Rabu, Februari 18, 2015





“Bu, lihat! Aku berhasil menghitung semua kelopak mawar ini.”
“Ada berapa?”
“Ada 1000 kelopak bunga mawar, Bu.”
“Baguslah, kalau begitu mari kita pulang.”
“Tidak, Bu. Nanti saja. Aku harus menunggu kekasihku di sini, aku takkan berhenti untuk selalu percaya, dia pasti akan datang. Dulu ia pernah berkata jika aku rindu padanya, maka aku harus menghitung semua kelopak mawar yang kutemui.”
“Jika ia tak juga datang?”
“Aku akan terus menunggu sambil menghitung ulang kelopak mawar ini.”
Perempuan yang dipanggil ibu itu tertegun, ia pandangi anaknya yang terus menghitung kelopak mawar di samping nisan kekasihnya, entah sampai kapan, bisa 1 tahun, 100 tahun, atau 1000 tahun lamanya. (*)


 Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe