Labirin Asmara Empat Abdi Negara

Senin, Mei 25, 2015




Judul Buku  : 4 Musim Cinta

Penulis         : Mandewi Gafur Puguh Pringadi

Penerbit       : Exchange

Halaman      : 332 halaman

Tahun           : Cetakan I, April 2015

ISBN           : 978-602-72024-2-9

Resensator    : Richa Miskiyya *







Betapa tahun-tahun berharga terbuang percuma mencari bahagia ke mana-mana sementara sepanjang masa bahagia berada di dalam diri kita serupa sebutir benih terlunta menanti bahagia’. Manusia memanglah selalu pergi ke berbagai tempat, menjelajah ke semua arah mata angin, menapakkan kaki ke gunung hingga laut untuk mencari sesuatu yang tak kasat mata bernama kebahagiaan.   

Perjalanan mencari kebahagiaan inilah yang ditapaki oleh para tokoh dalam novel berjudul 4 Musim Cinta yang ditulis oleh Mandewi, Gafur, Puguh, dan Pringadi. Novel ini menjadi sebuah kejutan yang menarik, selain karena ditulis oleh empat penulis sekaligus, juga karena profesi para penulisnya adalah para abdi negara. 

Novel ini terbagi ke dalam empat sudut pandang, satu wanita dan tiga pria, yaitu Gayatri, Arga, Gafur, dan Pring. Apabila dilihat dari nama tokohnya, tentunya dapat ditebak bagian mana yang ditulis oleh masing-masing penulisnya. Meski ditulis oleh empat orang yang berbeda, perpindahan chapter dalam novel ini begitu halus, bahasa yang digunakan juga kuat dan terjaga, hal ini membuktikan jika para penulisnya memiliki kualitas yang setara dan tidak ada ego untuk saling mendominasi cerita.  

Pada tiap bab novel ini menjadi bagian untuk lebih mengenal para tokohnya masing-masing, bukan hanya tentang sifatnya, namun juga cara berpikir dan pandangan mereka tentang asmara serta kepegawaian Negara. Alur yang maju mundur menjadikan pembaca memiliki waktu untuk mengenali watak dan latar belakang kehidupan para tokoh secara lebih mendalam serta memahami istilah-istilah asing dalam dunia kepegawaian Perbendaharaan Negara yang terselip dalam footnote. 

Novel berlatar dunia para abdi negara, khususnya Direktorat Jenderal Perbendaharaan  ini memaparkan bagaimana para tokoh; Gayatri, Arga, Pring, dan Gafur harus berjuang  untuk keluar dari labirin asmara yang menjerat mereka dengan pertaruhan persahabatan, cinta, serta kesetiaan. Ada pilihan yang harus mereka putuskan, serta harapan yang mereka simpan diam-diam.  

Empat tokoh yang memiliki perbedaan watak dan latar belakang hidup ini pun seolah menjadi jawaban dari filosofi yang tersimpan dalam judul 4 Musim Cinta, yang mana empat tokoh tersebut mewakili empat musim yang ada di dunia. 

Gayatri, wanita Bali yang bekerja di Kantor Perbendaharaan Negara Jakarta, memiliki ambisi untuk mencapai puncak tertinggi dalam pekerjaannya. Namun, Gayatri banyak menyimpan banyak rahasia dalam dirinya, tentang harapan juga tentang kepedihan cinta. Watak yang tertutup dan penuh rahasia ini seolah menjadi gambaran musim dingin yang beku. 

Gafur, pria Makassar, seorang pegawai Perbendaharaan Negara yang dimutasi ke Kendari. Gafur memiliki kekasih di Jakarta yang begitu ia cintai, meski harus berpisah jarak, tapi Gafur tetap menyimpan cintanya untuk gadis itu. Cintanya yang begitu besar pada sosok kekasihnya, membuat Gafur pantas mewakili musim panas yang penuh sinar matahari. 

Arga, pria Jawa yang bekerja di Kantor Perbendaharaan Negara Jakarta. Arga memiliki keceriaan serta senyuman lebar yang khas, ada banyak kebahagiaan yang coba ia tampakkan pada dunia, meski sesungguhnya semua itu adalah untuk menutupi jiwanya yang kesepian karena ia selalu gagal dalam hal cinta. Latar kehidupan Arga ini menjadi perwakilan musim gugur yang sepi.

Pring, pria Palembang yang bekerja di Kantor Perbendaharaan Negara Sumbawa Besar. Statusnya sudah menikah, dan harus rela terpisah jarak dengan sang istri yang melanjutkan pendidikan di Bandung. Rasa sepi yang berpadu dengan puisi membuat Pring secara tanpa sadar telah menebar pesona dan menciptakan benih rindu yang terlarang. Hidup Pring yang romantis dan penuh cinta membuatnya serupa musim semi yang wangi.     

Gayatri, Arga, Gafur, dan Pring yang memiliki latar belakang serta permasalahan hidup masing-masing harus melalui kerumitan asmara yang mereka ciptakan. Labirin asmara mereka berawal dari pertemuan kepenulisan yang diselenggarakan oleh organisasi tempat mereka bekerja, dan tanpa sadar pertemuan itu mengantar mereka dalam alur asmara yang rumit, Gayatri dan Pring yang saling jatuh cinta, serta Arga dan Gafur yang mencintai gadis yang sama bernama Dira. 

Dira adalah tokoh yang menjadi pendukung cerita. Ia adalah seorang barista yang bekerja di coffee shop yang sering menjadi tempat para tokoh utama menghabiskan penat. Tokoh Dira dalam novel ini secara tak langsung menarik benang merah pilihan dan harapan yang kemudian menjadi penghubung keempat tokoh lainnya. Dira dalam novel ini menjadi cerminan seorang manusia yang bahagia namun tak lagi percaya akan kesakralan pernikahan. “Cinta hanya perlu cinta. Dan saling percaya. Tidak perlu pengumuman. Juga kertas yang distempel” (halaman 155)

Membuat sebuah pilihan memanglah tidak mudah, namun bukan berarti hal tersebut tidak bisa dilakukan, seperti halnya pilihan untuk asmara dan cita-cita yang mencoba dihadapi oleh Gayatri, Arga, Gafur, dan Pring. 

Tak hanya sarat akan kalimat yang kuat dan terjaga. Mandewi, Gafur, Puguh, dan Pring berhasil menuliskan kegelisahan para tokohnya dengan apik, membuat pembacanya enggan menutup buku hingga halaman terakhir dan menjadikan pembaca masuk ke dalam cerita, seolah ikut serta mencari jalan keluar labirin asmara para tokohnya.  

Musim Kehidupan
Novel ini tak hanya berbicara tentang cinta semata, melainkan juga tentang latar belakang pekerjaan para tokoh cerita dan penulisnya. Bisa dikatakan Mandewi, Gafur, Puguh, dan Pring ingin mengungkapkan tentang kegelisahan para abdi Negara di Kementerian Keuangan yang tak banyak diketahui dan dipahami masyarakat kebanyakan. 
 
“Orang-orang yang bekerja di Perbendaharaan adalah ujung tombak pencairan uang republik ini yang jauh dari rumah, hidup berpindah-pindah dengan tingkat kesejahteraan yang relatif mengkhawatirkan. Sebagian besar penghasilan habis untuk membeli tiket mudik. Tak jarang kutemukan, para pegawai di umur 35 belum memiliki rumah.” (halaman 22).

Dari novel ini, pembaca juga akan menemukan sisi lain dari para pegawai Perbendaharaan Negara, sisi mereka sebagai manusia biasa yang seringkali halus melewati kegelisahan dan kekecewaan menghadapi musim kehidupan, khususnya dalam hal cinta. 

Membaca novel ini akan membawa pembacanya pada kenyataan yang seringkali terlewatkan, bahwa; “Jatuh cinta dan mencintai adalah dua hal yang berbeda, kita bisa jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama atau orng yang berbeda. Tapi mencintai adalah keputusan. Sekali kita sudah memutuskan untuk mencintai, maka mencintailah selamanya.” (halaman 314).  

Tak hanya pesan tentang cinta dan kesetiaan, tapi dalam novel ini juga sarat akan pesan bagaimana melalui kehidupan. Hidup memang banyak rintangan dan kegagalan, tapi manusia harus berani menentukan pilihan, dan berani untuk menetapkan harapan-harapan di masa depan, karena hidup adalah perkara mengatasi kekecewaan. (*)  

*Richa Miskiyya, penikmat novel, tinggal di Grobogan, Jawa Tengah












You Might Also Like

0 komentar

Subscribe