Menyemai Kebaikan Membaca dari Dalam Keluarga

Jumat, Juni 26, 2020


Keluarga adalah fondasi pertama dimana seorang anak belajar sesuatu, dan orang tua memiliki tanggung jawab besar agar bisa menumbuhkan tunas-tunas kebaikan dalam diri anak, agar kehidupan sehari-hari semakin bermakna.

Ada banyak jalan untuk menyemai kebaikan itu,  ada kalanya lewat nasihat, ada kalanya lewat contoh perilaku, dan bisa juga dilakukan lewat kisah-kisah atau bacaan yang ada di buku. 


Saya dan suami sangat suka membaca, kami sudah merasakan betapa bahagianya melewati hari-hari bersama buku. Dan kami pun ingin agar anak kami, Ayya, merasakan kebahagiaan serupa, bahagia ketika berada dalam lautan kata.

Pelan tapi pasti kami mulai mengenalkan sebuah bacaan, bahkan sejak Ayya masih berada di dalam kandungan. Saya masih ingat betul, di usia kandungan 7 bulan, saya dan suami melewati perjalanan sejauh 30 kilometer menggunakan sepeda motor demi untuk datang ke sebuah pameran buku.

Kala itu, setiap langkah saya saat berada di tengah pameran buku, ada harapan yang terselip, semoga Ayya kelak cinta membaca, agar ia bisa memahami kehidupan tak hanya dari satu arah saja.

Setelah Ayya lahir ke dunia, ada semangat yang terus meletup dalam diri saya dan suami untuk menumbuhkan minat baca dalam diri Ayya.
      
      1.      Membacakan Dongeng Sejak Dini
Sejak Ayya berusia 3 bulan, saya rajin membacakan buku atau dongeng. Alih-alih membacakan dongeng dari buku mahal, saya lebih banyak membacakan dongeng dari majalah anak bekas yang saya beli.

Melihat majalah anak yang sering berakhir dirobek Ayya, saya pun beralih menggunakan buku bantal yang terbuat dari kain sehingga lebih awet dan lebih aman untuk Ayya.

Setelah Ayya berusia satu tahun, saya mulai membelikan buku untuk Ayya. Tak melulu buku yang mahal, saya dan suami malah sering membelikan buku-buku diskon atau obralan.

Karena menurut kami, yang terpenting bukan berapa harga atau tampilan bukunya, tapi bagaimana orang tua bisa mendampingi anak ketika membaca, sehingga bisa mendelivery pesan yang ada dalam buku, agar dapat diterima dengan baik oleh anak.  

Membacakan Buku

Aktivitas membacakan cerita/dongeng ini pun terus berlanjut hingga sekarang, ketika Ayya sudah berusia 3 tahun. Tak hanya menjelang tidur, Ayya bisa meminta waktu untuk membaca bersama ketika pagi, siang, atau sore. Dan sebisa mungkin, saya dan suami akan menemaninya.

Kini, Ayya sudah berhasil ‘membaca’ buku-buku ceritanya sendiri, meskipun tak sesuai teks yang tercetak, namun ia sudah mampu menceritakan kembali apa yang pernah kami baca bersama.
      
      2.     Berwisata ke Toko Buku
Jarak rumah saya dan toko buku sejauh 30 kilometer, oleh sebab itu, setiap saya dan suami akan pergi ke toko buku, kami akan mensounding Ayya, bahwa kami akan pergi berwisata. 



Pertama kali kami mengajak Ayya ke toko buku, dia benar-benar riang dan sangat bersemangat. Ia berlarian dari lorong satu ke lorong yang lain. Melihat buku-buku dengan warna cerah ceria, ia begitu gembira.

Ia membuka buku-buku dengan gambar kartun favoritnya dan mulai membuka lembar demi lembarnya dengan mata yang berbinar.
      
      3.     Mencari Pengalaman di Pameran Buku
Selain toko buku, saya dan suami sangat bahagia ketika mendengar ada pembukaan pameran buku. Saya dan suami berpikiran, ini pengalaman yang tepat untuk memberikan pengalaman pada Ayya untuk mencari dan menemukan buku-buku bacaan yang ia sukai. 

pameran Buku
Dan seperti yang sudah kami duga, Ayya sangat antusias ketika datang ke pameran buku dan melihat banyak buku bertumpuk di hadapannya. Ia memilih sendiri buku dan bacaan mana yang sukai.
       
      4.     Ruang Perpustakaan di Rumah
Saya dan suami bermimpi memiliki ruang perpustakaan di rumah kami, dan akhirnya beberapa bulan lalu hal tersebut terwujud. 

Perpustakaan di Rumah
Ayya pun sangat antusias dengan keberadaan ruang perpustakaan ini.
Ia menata buku-bukunya sendiri di rak buku dan sering menghabiskan waktu untuk membaca buku bersama saya atau Ayahnya. 

Baca Juga: Ruang Kerja dan Perpustakaan Kecil di Rumah
      
      5.     Memberikan Contoh
Banyak orang tua yang menginginkan anaknya rajin membaca buku, membelikan buku-buku yang mahal dan premium. Namun, di sisi lain, orang tuanya tidak pernah memberikan contoh bagaimana bisa menikmati waktu dengan membaca buku.

Oleh sebab itu, saya dan suami di rumah,  sesering mungkin menghabiskan waktu dengan membaca, agar anak merasa bahwa membaca itu kegiatan yang menyenangkan. 

Nah, itu dia beberapa tips untuk meningkatkan minat baca anak dengan dimulai dari rumah, dari keluarga terdekat.

14 komentar

  1. terima kasih kak, semoga kelak setelah aku berkeluarga bisa mencontoh kaya itu, agar bisa membangun tingkat membaca anak. Trimakasih

    BalasHapus
  2. Sejak dalam kandungan memang sebaiknya membiasakan anak dibacakan sesuatu ya kak. Biar dia pun terbiasa.
    Jangankan yang berat, bahkan si kecil saya di rumah, sejak 9 bulan selalu tertarik sama Al Qur'an karena selalu melihat emaknya memegang Al Qur'an. Trus dia udah pande bergumam mengikuti bacaan Al Qur'an. Mudah-mudahan nanti jadi merembet suka membaca semua jenis buku.

    BalasHapus
  3. Duh bahagia sekali ya memiliki orangtua yang sudah mengajarkan wisata literasi pada anak sejak dini... That's very important right know

    BalasHapus
  4. Jadi inget saya ama suami juga Mbak Icha.. bela2in datang ke perpustakaan padahal udah hamil gedhe tinggal nunggu waktu lahiran. Alhamdulillah anak yg dikandung itu sekarang jd wormbook haha

    BalasHapus
  5. Saya juga melakukan poin-poin di atas mbak untuk anak, kecuali yang perpustakaan itu belum punya karena rumah kontrakan sekarang masih sempit, huhuh. Nanti deh kalau udah punya rumah sendiri yang lebih luas ^^

    BalasHapus
  6. Sebagai orang yang suka baca, aku merasa wow dengan kerapihan perpustakaanmu, kak. Mantap dan bikin daku pengen nimbrung di situ

    BalasHapus
  7. Kak icha itu perpus rumahnya lemarinya tanpa tutup ya? Aku tuh sedih buku-bukuku banyak lembab jadinya kertasnya kuning jelek gitu. Tapi ya mungkin bertahun-tahun juga ya. Btw seruu banget keluarga cinta baca begini melihatnya adem

    BalasHapus
  8. wah seru ada ruang perpus di rumah, saya juga ada di rumah ortu. tapi isinya komik semua wkwk. saya suka baca tapi bacanya komik dan novel fantasi zaman sekolah dulu. makanya isinya banyak banget komik dan novel doang. tapi yang penting tetep suka membaca lah ya *ngeles wkwkwk

    BalasHapus
  9. Buku - bukunya tertata rapi di perpustakaan keluarga ya,Mbak. Suka lihatnya 😍
    Rumah kami sudah kehabisan ruang, jadi ga punya perpustakaan. Anak - anak menyimpan buku mereka di kamarnya atau kadang di rak2 lain di rumah, pisah2 gitu..

    BalasHapus
  10. Menyenangkan sekali saat anak mau diajak membaca bersama. Bagaimana pun membaca itu kan sesuatu yang perlu dibiasakan ya mbak, kalau sudah biasa tidak akan berat

    BalasHapus
  11. Nah betul sekali orang tua hrs bisa jadi contoh ya kak jika orang tua memperlihatkan asyiknya membaca buku maka anak pun akan mengikuti

    BalasHapus
  12. mupeng banget liat rak buku yang penuh dengan buku
    keren banget
    semoga bisa niru mba icha :D

    BalasHapus
  13. Kalo di jaman sekarang mengajarkan anak agar suka membaca memang membituhkan perjuangan lebih yah, soalnya ada yang lebih menarik dari membaca buku. Kalo di jaman saya dulu, karena gak ada hiburan lain, jadi membaca tu amat menyennagkan, sayangnya buku bacaan sangat terbatas.

    BalasHapus