The World of The Married dan Keberanian untuk Bebas dari Toxic Relationship

Minggu, Mei 17, 2020

Dua bulan terakhir, para penggemar drama Korea dihebohkan dengan tayangan drama berjudul The World of The Married yang tayang sejak 27 Maret 2020, di channel JTBC. 

Seperti diketahui, drama korea ini disadur dari serial Inggris Docter Foster yang tayang tahun 2015 silam. The World of The Married berkisah tentang kehidupan Ji Sun Woo yang berantakan sejak mengetahui suaminya, Lee Tae Oh berselingkuh dengan Yeo Da Kyung. Peran Ji Sun Woo yang teraniaya mendapat simpati dari para penonton, tak terkecuali dari penonton Indonesia. 

the world of the married adalah drama korea dengan tema perselingkuhan sehingga disukai banyak penonton

Netizen +62 yang sedang menjalani masa PSBB di rumah, akhirnya banyak yang menonton drama Korea ini, termasuk juga para penggemar drama Korea dadakan yang ramai-ramai menghujat sosok Han So Hee di media sosialnya karena memerankan sosok pelakor.

Bahkan, saking boomingnya, drama ini mencetak rating tertinggi 28, 4 % mengalahkan drama Sky Castle. Tak ingin ketinggalan gegap gempitanya, Trans TV pun mulai menayangkan The World of The Married sejak 11 Mei 2020. 

Baca Juga: 5 Pesan Penting untuk Para Orang Tua dari Drama Korea Sky Castle

Sinopsis
 
Ji Sun Woo (Kim Hee Ae), seorang dokter berprestasi hidup bahagia bersama suaminya Lee Tae Oh (Park Hae Joon) dan anaknya Lee Joon Young (Jeon Jin Seo). Hingga kemudian semuanya menjadi berantakan ketika Sun Woo mendapati Tae Oh berselingkuh dengan Da Kyung, anak orang kaya dan terpandang di Gosan, wilayah tempat mereka tinggal.

Sun Woo begitu terluka, apalagi sahabat-sahabatnya ternyata mengetahui perselingkuhan tersebut. Sun Woo merasa dikhianati oleh semua orang. Sun Woo awalnya berusaha percaya pada Lee Tae Oh jika hubungannya dengan Da Kyung sudah selesai, Lee Tae Oh berbohong jika ia baru berkenalan dengan Da Kyung selama beberapa bulan.

Namun, kenyataan akhirnya terkuak, Lee Tae Oh sudah berselingkuh dengan Da Kyung selama 2 tahun, hingga kemudian Da Kyung hamil.

Sun Woo frustasi, ia tak terima diperlakukan dengan semana-mena oleh Tae Oh. Apalagi selama pernikahan mereka, Sun Woo lah yang sudah membiayai hidup Tae Oh yang bekerja serabutan sebagai penulis naskah film yang gagal. Sun Woo pun berusaha membalas semua perbuatan Tae Oh.

Kisah Perasaan yang Rumit 
 
Tae Oh dan Sun Woo akhirnya berpisah di episode 6. Sun Woo hidup bahagia dengan Jun Young, sedangkan Tae Oh dan Da Kyung meninggalkan Gosan.

Pada kondisi ini, sebenarnya kisah mereka bisa selesai cukup di sini, namun ternyata konflik kembali memicu kerumitan hubungan antara Tae Oh dan Sun Woo karena Tae Oh dan Da Kyung kembali ke Gosan.

Hingga episode 8, cerita masih bergulir sesuai track. Namun mulai episode 9 hingga 13, plot cerita terasa berputar-putar tentang kebimbangan perasaan Sun Woo pada sosok Tae Oh, begitu juga sebaliknya. Terkesan monoton dan terlalu dipaksakan. 

Cerita mulai kembali berjalan pada tracknya di akhir episode 14 dimana Sun Woo terlihat berada di puncak kebimbangan dan keputusasaan, namun akhirnya bisa menguasai dirinya lagi dan tahu apa yang benar-benar harus dia lakukan.

Pelakor yang Labil
 
Banyak orang menghujat sosok Da Kyung yang tega menghancurkan pernikahan Sun Woo dan Tae Oh. Namun, apabila ditelisik lebih dalam, Da Kyung ini bukan tipe pelakor yang barbar yang menghalalkan segala cara untuk merebut Tae Oh, bahkan sosok Da Kyung justru terkesan sebagai perempuan yang labil.

Saat perselingkuhannya terkuak, Da Kyung baru berusia 23 tahun, dan jika hubungannya dengan Tae Oh sudah berlangsung selama 2 tahun. Itu artinya Da Kyung mulai berpacaran dengan Tae Oh di usia 21 tahun.

Usia tersebut bisa dibilang usia yang labil, apalagi melihat background Da Kyung sebagai anak orang kaya raya, pastinya ia bisa tertarik pada Tae Oh bukan karena uang, tapi karena Tae Oh pandai merayu.

Apalagi Da Kyung juga sempat memutuskan untuk menjauh dari Tae Oh, tapi lagi-lagi Tae Oh berhasil merayu Da Kyung agar tetap bersamanya. 


Sebagai gadis muda, Da Kyung yang akhirnya menikah dengan Tae Oh bermimpi punya keluarga yang bahagia. Da Kyung pun melakukan segala cara termasuk ingin memisahkan Joon Young dari Sun Woo, agar Tae Oh tak lagi bisa bertemu dengan Sun Woo.

Da Kyung yang masih berjiwa labil hanya bisa berpikiran tentang kebahagiaan sebuah pernikahan, apalagi ia memang lahir dari keluarga kaya yang bahagia. Jadi, ia bermimpi memiliki pernikahan yang Happily Ever After bak seorang putri raja.

Da Kyung tak sadar bahwa sosok pria yang ia nikahi adalah serigala, Da Kyung tak sadar bahwa pernikahan impiannya hanyalah fatamorgana belaka. Da Kyung terlalu mudah ditipu oleh sosok Tae Oh yang tampil bak pangeran dengan bualan-bualan manis.

Meski selalu tampil penuh percaya diri, sosok Tae Oh adalah lelaki yang insecure. Ia merasa kalah saing dengan Sun Woo, hingga akhirnya ia mencari perempuan lain yang bisa membuatnya nyaman dan bisa ia kendalikan, termasuk mengendalikan  perempuan agar bisa berubah dan tampil layaknya Sun Woo.

Hubungan Ibu dan Anak yang Naik Turun
 
Meski menjadi sosok yang paling tersakiti, bukan berarti Sun Woo bebas dari kesalahan. Dikarenakan terjebak pada amarah balas dendam, Sun Woo malah bermain api dan berkencan dengan Son Je Hyuk (Kim Yeong Min), tetangga sekaligus sahabat Lee Tae Oh.

Kesalahan lain dari Sun Woo adalah ia terlalu fokus pada pikiran dan perasaannya. Perempuan yang terkhianati memang akan terluka, tapi bukan berarti ia juga lupa bahwa Joon Young butuh teman bicara. Usaha Sun Woo untuk mendekati dan akrab dengan Joon Young tidak terlalu terlihat, hingga Sun Woo pun tak tahu jika Joon Young diam-diam berkonsultasi tentang gangguan psikologisnya pada Dr. Kim.


Untungnya, Sun Woo berhasil memperbaiki hubungannya dengan Joon Young, meskipun harus ada drama Joon Young kabur dari rumah. Tapi, apapun yang terjadi, ibu adalah tempat terbaik untuk pulang.

Nasib Perempuan di Kehidupan Patriarki
 
Tak bisa dipungkiri jika kehidupan masyarakat di Korea hampir sama dengan di Indonesia, di mana budaya patriarki lebih menonjol. Ini bisa terlihat dari tatapan melecehkan para ibu-ibu rumpi pada Ji Sun Woo yang memutuskan hidup menjadi seorang janda.

Tidak hanya dari sosok Ji Sun Woo saja, sosok Seol Myung Sook (Chae Gook Hee), yang dipandang rendah oleh Direktur Kong karena Myung Sook tidak layak menjadi Direktur muda karena belum menikah. Direktur Kong juga menyalahkan kondisi Ji Sun Woo yang mendatangkan masalah ke rumah sakit karena keputusannya untuk bercerai. Direktur Kong menjadi gambaran betapa sempitnya pemikiran masyarakat Korea terhadap kiprah seorang perempuan. 

Pandangan miring terhadap sosok perempuan yang bercerai ini, juga membuat Go Ye Rim berusaha untuk menyelamatkan biduk pernikahannya. Ia masih menganggap bahwa pernikahan yang sempurna di hadapan para tetangganya masih bisa diusahakan meski ada perselingkuhan di dalamnya.


Meskipun banyak muncul perempuan toxic yang kerap mencibir perempuan lain di drama ini, untungnya hadir sosok istri Pimpinan Choi yang bijak dan mampu menempatkan diri, diam-diam ia selalu hadir membela Ji Sun Woo dan memberikan semangat pada Ji Sun Woo.    

Keberanian untuk Bebas dari Toxic Relationship
 
Banyak penonton yang menganggap akhir dari episode 16 tak sesuai ekspektasi, bisa jadi ini disebabkan rasa benci ketika melihat sosok Tae Oh dan Da Kyung yang tidak mendapatkan karma dan masih hidup baik-baik saja.

Padahal, akhir dari drama ini saya kira sudah yang paling bijak untuk semua tokohnya. Terlepas dari Tae Oh yang akhirnya hidup terlunta-lunta. Kita harus bisa memandang para wanita dalam drama ini yang sudah berani untuk membebaskan diri dari Toxic Relationship.


Berawal dari Min Hyun Seo (Shim Eun Woo) yang berani keluar dari Toxic Relationship Park In Gyu (Lee Hak Joo). Kemudian Da Kyung yang berani mengambil keputusan untuk berpisah dari Tae Oh.

Go Ye Rim yang meskipun pada awalnya memilih rujuk dengan Je Hyuk, tapi kemudian ia sadar bahwa kecemasan dan trauma akan perselingkuhan membuatnya tersiksa hingga ia pun memilih hidup sendiri. Begitu juga Sun Woo yang tak menerima permohonan Tae Oh untuk kembali bersama.


Wanita-wanita ini berani mengambil keputusan untuk bahagia, karena tidak selamanya bersama pasangan itu suatu kesempurnaan. Hidup itu bukan berdasarkan apa pandangan orang, tapi berdasarkan apa yang membuat kita nyaman dan bahagia. Itu yang terpenting.
Read More

Pengalaman Staycation di Kayu Arum Resort Salatiga

Selasa, Mei 12, 2020

Salatiga adalah salah satu kota kecil yang cukup sejuk udaranya karena memang terletak di dataran tinggi. Jaraknya yang cukup dekat, hanya 1 jam perjalanan dari tempat tinggal keluarga saya di Purwodadi, membuat saya bersama Om, Tante, dan beberapa sepupu memutuskan untuk staycation di Salatiga, tepatnya di Kayu Arum Resort. 


Kami melakukan perjalanan ini jauh sebelum adanya covid-19, jadi masih bebas mau ke mana saja. Saat menuju ke Kayu Arum Resort, kami agak kesulitan mencarinya karena letaknya tidak berada di tepi jalan protokol, namun masuk ke dalam gang. Meski lumayan jauh dari jalan besar, ternyata Kayu Arum Resort ini adalah resort bintang tiga.

Tempat parkirnya tidak terlalu luas, dan tampak ornamen tradisional menghiasi pintu masuknya. Melangkah menuju lobby resort, antara pintu masuk dan pintu lobby disekat oleh kolam ikan di sebelah kanan dan kiri, membuat suasanan terasa homey dan feel comfortable.

Sentuhan tradisional di resort ini semakin terasa saat masuk ke lobby, selain ornamen-ornamen antik dengan nuansa Jawa, juga ada welcome drink berupa minuman rempah. Sayangnya saya tidak bisa memotret di bagian lobby karena di tembok tertempel larangan untuk memotret.  

Check in terasa cukup lama, karena ada beberapa hal mendetail yang disampaikan oleh petugas resepsionis. Jauh lebih mendetail daripada hotel-hotel yang pernah saya inapi. Petugas resepsionis menjelaskan beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan, seperti merokok dan memindah/menggeser barang-barang di kamar seperti meja dan tempat tidur. 

Apabila hal tersebut dilanggar akan ada denda antara 500 ribu hingga 800 ribu rupiah. Saya menelan ludah, lumayan banyak juga ya dendanya, setara dengan biaya bermalam satu malam di sini.

Menuju kamar, pemandangan di dalam resort terasa rindang, karena kami harus melewati halaman terbuka yang cukup luas sebelum akhirnya sampai di bangunan tempat kamar kami berada. 

Taman dan Bangunan tempat kamar kami berada.
Kamar Bernuansa Kuno dan Antik

Saya, anak saya, dan dua sepupu saya usia SD dan SMP dapat kamar standard twin bed. Kebetulan suami saya sedang ada acara di kantornya, jadi tidak bisa ikut. Saya melihat suasana kamar, terasa masuk ke sebuah bangunan kuno. Apalagi ditambah langit-langit yang tinggi dan jendela yang besar, kesan kuno itu semakin terasa. 

Kamar Bernuansa Masa Silam
Tak hanya pada bagian jendela dan langit-langitnya saja, perkakas seperti lemari, tempat tidur, meja, hingga kusen memiliki desain kuno dan antik. Awalnya saya pikir resort ini adalah bangunan lama, tapi saya tidak menemukan info tersebut di internet, selain itu, untuk desain lemari meskipun terkesan kuno namun letaknya mirip desain hotel kebanyakan, jadi menurut saya resort dan kamar ini memang sengaja didesain tradisional semacam ini. 

Meja dan Alat Tulis
Berbicara tentang tempat tidur dan meja lampunya terbuat dari kayu yang sangat berat, jadi memang butuh tenaga untuk menggesernya, mungkin ini juga yang menjadi alasan kenapa dilarang memindahkan barang-barang di kamar, takutnya habis dipindahin gak dibalikin lagi seperti semula karena berat.  

Ukuran tempat tidurnya cukup sempit, meskipun twin, tapi ukurannya terbilang kecil, bahkan untuk tidur saya dan anak saya yang masih balita saja sempitnya minta ampun, akhirnya saya mengalah dan tidur-tidur ayam.

Sedangkan tempat tidur satunya yang ditempati dua sepupu saya, mereka juga susah tidur, karena harus dempet-dempetan dan saling sikut sebab tempat tidur yang sempit.  Selain itu saya menilai kamarnya terlalu gelap, meskipun semua lampu dinyalakan, masih terasa gelap, jadi terkesan suram.

Compliment untuk Tamu yang Menginap
Untuk kamar mandinya terbilang bersih dengan penggunakan shower dan sekat kaca, dan saya paling suka sih compliment yang tersedia di kamar termasuk lengkap, selain perlengkapan mandi, tersedia juga lotion nyamuk, alat cukur, dan alat jahit.      

Ruang Makan di Bangunan Terpisah

Saat sarapan, kami menuju ke bangunan lainnya, bangunan ini berseberangan dengan bangunan kamar kami, jadi kami harus melewati area taman yang cukup luas. 

Bangunan Tempat Ruang Makan Berada
Menu Sarapan Ayya
Sarapan di sini terbilang lengkap, ada western dan tentunya ada masakan Jawa, karena terlalu sibuk menyuapi Ayya, saya terlewat untuk memotret beberapa menu dan spot yang ada di ruang makan ini.

Di ruangan ini tersedia beberapa jenis meja, ada meja dengan dua kursi, dan ada juga meja besar dengan banyak kursi, jadi jangan khawatir bagi yang datang bersama keluarga besar seperti saya.

Ruang Terbuka Hijau yang Nyaman

Karena hari sebelumnya, kami sampai di hotel terbilang sore, kami baru bisa menikmati hotel keesokan harinya setelah sarapan. Seperti yang saya tulis sebelumnya, taman atau ruang terbuka hijau di Kayu Arum Resort luas dan terbilang nyaman. 

Ayya dan Gelembung Sabun
Ayya berlarian senang menikmati sinar matahari dan rumput yang hijau. Selain itu terdapat beberapa bangku yang nyaman di tengah taman. Bagi yang ingin melihat pemandangan taman dari sudut lain, bisa duduk di area bar dan cafetaria yang ada di sudut taman.


Area Bar dan Cafetaria

Selain taman dengan rerumputan yang hijau, di sisi lain terdapat kolam renang yang cukup besar. Tapi saya hanya memotret kolam renang dari jauh karena terlihat banyak orang yang sedang berenang, jadi kalau saya datang cuma foto-foto aja takut bikin pengunjung lain nggak nyaman.    

Hal menarik lain yang ada di resort ini yaitu terdapat banyak sekali pohon-pohon besar yang rindang, di masing-masing pohon dilengkapi tulisan nama-nama pepohonan tersebut,seperti pohon kayu manis, pohon akasia, dan pohon mahoni. 

Meikmati Suasana Taman
Saat menginap di sini saya juga melihat banyak meja-meja dengan tamplak kain putih dtata sedemikian rupa di sekitar taman, dilihat dari banner yang dibentangkan akan diadakan reuni salah satu SMA dari Magelang.

Suasana out door nya memang menyenangkan untuk dijadikan area pertemuan, tak hanya cocok untuk ajang reuni, tempat ini sepertinya juga cocok untuk menyelenggaran resepsi pernikahan out door berkonsep simple romantic.

Alamat  : Jalan Magersari, Ringinawe, Tegalrejo, Argomulyo, Salatiga, Jawa Tengah 50733
Harga    : Rp 435.000 – Rp 810.000

Read More

Tanya Jawab Ramadhan di Aplikasi Umma, Mendukung Ibadah Saat di Rumah Saja

Kamis, Mei 07, 2020

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia, dimana setiap ibadah pahalanya akan dilipatgandakan. Ramadhan memang menjadi bulan yang tepat untuk lebih memperdalam agama Islam, salah satunya dengan mengikuti tanya jawab Ramadhan di Aplikasi Umma. 

tanya jawab ramadhan

Apa itu Aplikasi Umma?

Aplikasi Umma merupakan platform yang berisikan konten-konten islami, sehingga bisa mendukung umat muslim untuk mengenal Islam lebih dalam lewat satu aplikasi. Apalagi pada masa diterapkannya PSBB di beberapa kota di Indonesia, menjadikan umat muslim dianjurkan untuk lebih banyak beribadah di rumah saja. Maka adanya aplikasi Umma menjadi oase di tengah pandemi.

Fitur Aplikasi Umma

Kehadiran aplikasi Umma menjadi solusi bagi yang ingin belajar tentang Islam dari rumah. Hal ini karena aplikasi Umma menyajikan beragam fitur yang terbilang lengkap. Bahkan, ada beberapa fitur interaktif sehingga kita bisa tanya jawab Ramadhan seputar agama Islam atau tanya jawab seputar masalah sehari-hari menurut hukum Islam.

1.           Al Quran dan Terjemahannya
Saat bulan Ramadhan, kita dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Al Qur’an, dan di aplikasi Umma menyediakan solusi bagi yang ingin membaca Al Qur’an sekaligus terjemahannya. Fitur Al Qur’an di aplikasi Umma ini juga bisa di bookmark dan dapat membagikan ayat ke media sosial lain. Sehingga kita tidak perlu mengetik ulang ayat yang ingin kita sebarkan. Selain itu, ada banyak pilihan tampilan background menarik untuk share ayat Al Qur’an, seperti gambar tanaman atau pemandangan.

2.             Penunjang Ibadah
Salah satu syarat sahnya shalat adalah menghadap kiblat. Oleh sebab itu, kita harus tahu betul kemana arah kiblat sebelum melaksanakan shalat. Namun, tidak perlu khawatir, karena fitur kiblat dalam aplikasi Umma akan membantu kita menemukan arah kiblat yang tepat.

Selain itu, aplikasi Umma juga memiliki fitur waktu shalat yang bisa disesuaikan dengan domisili pengguna, sehingga bisa menjadi penentu waktu shalat dimanapun sahabat Umma berada.

3.             Artikel Islam
Aplikasi Umma juga menyediakan beragam artikel tentang Islam yang bisa dibaca lewat beranda. Konten-konten yang ada di aplikasi Umma ini juga sudah dipersonalisasi sesuai dengan ketertarikan pengguna lewat teknologi AI (Artificial Intelligence).

4.              Kajian Live
Mengikuti perkembangan teknologi yang ada, aplikasi Umma juga menyajikan fitur Kajian Live. Fitur ini bisa digunakan para Dai, Ustadz, maupun Ustadzah untuk berdakwah jarak jauh. Apalagi di tengah situasi pandemi seperti ini, dimana para sahabat Umma dianjurkan untuk beribadah di rumah, maka dengan adanya Kajian Live bisa menjadi solusi untuk memperdalam agama tanpa harus keluar rumah.

5.             Zakat dan Sedekah
Saat bulan Ramadhan, umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak sedekah. Lalu bagaimana jika kondisi kita harus berada di rumah saja? Tenang saja, karena Aplikasi Umma akan membantu menyalurkan sedekah dan zakat sahabat Umma dari rumah.

6.             Doa Harian
Ingin memperbanyak doa di bulan Ramadhan namun bingung bagaimana lafadz doa yang harus diucapkan? Aplikasi Umma menyediakan fitur doa-doa harian yang bisa menjadi pedoman sahabat Umma saat berdoa. Seperti doa memohon rezeki, doa saat saat menghadapi kesulitan, dan beragam doa-doa lainnya.

7.             Pantauan Covid-19
Saat masa pandemi Covid-19 ini, aplikasi Umma juga menyediakan fitur khusus yang memberikan pantauan dan data pasien Covid-19 terkini di seluruh Indonesia. Ini akan membantu sahabat Umma untuk lebih waspada dan tetap menjaga kesehatan selama di rumah saja.

8.             Q & A
Selanjutnya adalah fitur tanya jawab Islam yang bisa menjadi kanal untuk mencari solusi seputar masalah yang dihadapi. Tak hanya berisi tanya jawab Ramadhan saja, namun sahabat Umma juga bisa menemukan jawaban dari masalah sehari-hari menurut kacamata Islam.

Keunggulan Fitur Q & A Aplikasi Umma

Fitur Q & A di Aplikasi Umma ini memiliki banyak keunggulan. Apa saja keunggulannya?
Pertama, Siapapun bisa bertanya di Aplikasi Umma, cukup klik ‘Tambah Pertanyaan’ di layar, maka sahabat Umma bisa mengirimkan pertanyaan maksimal 200 karakter. Jadi, sebisa mungkin pertanyaan harus disampaikan secara padat dan jelas.

Kedua, Siapapun juga bisa menjawab pertanyaan sahabat Umma yang dikirim di aplikasi. Para sahabat Umma berasal dari berbagai kalangan dan tentunya tak sedikit yang memiliki pengetahuan agama yang mumpuni, sehingga sahabat Umma bisa memberikan jawaban dari pertanyaan dalam aplikasi Umma sesuai pengetahuan yang dimiliki. Untuk menjawab pertanyaan, bisa klik ‘kotak masuk’ dan sahabat Umma bisa menjawab pertanyaan yang ingin dijawab.

Ketiga, Terdapat Top Question. Ada jutaan pengguna aplikasi Umma. Oleh sebab itu tentunya tak sedikit yang mengajukan pertanyaan dalam fitur Q & A. Tapi jangan khawatir, terdapat ‘TOP Q & A Harian’ yang berisikan 20 tanya jawab terpilih yang bisa menjadi bahan pembelajaran bagi sahabat Umma.

Beberapa keunggulan dari Q & A Aplikasi Umma ini tentunya bisa menjadi gambaran bagaimana aplikasi Umma memberikan kemudahan untuk para sahabat Umma untuk belajar Islam dengan lebih baik. 

tanya jawab ramadhan

Adanya Q & A di aplikasi Umma ini juga membuat para sahabat Umma tidak perlu kebingungan saat menghadapi permasalahan sehari-hari namun bingung akan bertanya pada siapa. Maka, cukup buka aplikasi Umma dan ajukan pertanyaan, maka nantinya para sahabat Umma yang lain akan memberikan jawaban terbaiknya.

Tidak perlu takut atau sungkan untuk ikut tanya jawab Ramadhan di aplikasi Umma. Selain bisa menambah pengetahuan juga bisa membantu muslim lain yang sedang kesulitan, karena membantu orang lain adalah bentuk ibadah juga saat bulan Ramadhan.(*) 
Read More

Tak Ada Kata Terlambat untuk Belajar Memasak

Rabu, Mei 06, 2020

Dulu, saya adalah tipe orang yang hobi makan tapi malas berurusan dengan dapur. Saya selalu dinasihati oleh Budhe, Simbah, dan Tante, “Mbok ya belajar masak, gimana nanti kalo nikah?” Pertanyaan itu biasanya akan saya jawab, “Ya beli aja, warung kan banyak.” Padahal cita-cita saya dulu ingin punya dapur minimalis yang cantik, tapi saya nggak mau belajar masak, trus dapurnya buat apa? Buat masak mi instan saja, hahahaha.  

Ummi saya pandai memasak, tapi jarang memasak. Biasanya hanya memasak untuk sarapan saja, sedangkan makan siang dan makan malam keluarga kami dimasakin bulik, adiknya Ummi. Ummi memang lebih sering di toko, jadi tak ada waktu untuk memasak. Tapi jika ada acara pengajian atau selametan di rumah kami, maka semua isi berkat dimasak oleh Ummi. Saya ngapain? Cuma bagian nyetaplesin kardus, hahaha.

Sebenarnya dulu pernah sempat rajin masuk dapur, waktu itu saat Ramadhan dan saya ditugasi untuk memasak nasi menggunakan kompor minyak (saat itu belum ada aturan perpindahan kompor minyak ke gas). Saya yang masih SMP, piawai memasak nasi menggunakan dandang. Tapi setelah bulan Ramadhan berlalu, ya sudah, selesai. Saya kembali menjadi manusia yang malas masuk dapur lagi.

Setelah menikah, saya dan suami masih tinggal di rumah orang tua kurang lebih selama 2,5 tahun. Selama itu pula saya tidak pernah bantu-bantu memasak, ya semalas itu saya masuk ke dapur. Paling-paling saya hanya memasak hal yang remeh saja, seperti telur ceplok, nasi goreng atau mi instan. Yah, makanan yang bumbunya gak ribet gitu deh.

Meski begitu, soal bumbu dapur, saya hafal sejak SD. Saya bisa membedakan mana kunyit, lengkuas, temu kunci, juga kencur. Ini bisa menjadi hal yang saya banggakan meski gak pernah ke dapur, hehehe. Darimana hafalnya? Gara-gara ikut lomba Pramuka yang mana salah satu sesi lombanya mengenal bumbu dapur. Jadi dulu setiap hari dilatih mengenal bumbu dapur dengan mata tertutup.

Gara-gara malas masak dan nggak bisa masak inilah, saat itu saya maju mundur untuk pindah dari rumah orang tua dan hidup mandiri sendiri. Saya membayangkan bagaimana nanti harus masak untuk keluarga, apalagi saya udah punya anak, trus nanti bagaimana saat Ramadhan tiba? Bagaimana saya bisa makan soto ayam favorit saya? Memikirkannya membuat saya malas pindah rumah, hiks.

Sebuah Awal Mula

Saya tak tahu bagaimana awal mulanya, tiba-tiba keinginan itu datang. “Mas, bulan depan kita pindah rumah, yuk,” ucap saya kepada suami. Suami mengiyakan karena kami memang sudah lama menyicil untuk mengisi rumah, namun ya itu, karena kegalauan saya gak jadi-jadi pindah rumahnya.

Akhirnya kami pun mencari hari kapan waktu yang tepat untuk pindah rumah. Diputuskan kami akan menggelar selamatan tanggal 5 Agustus 2019.

Awal pindah rumah, kami lebih banyak membeli lauk di luar dan hanya memasak nasi saja, tapi dihitung-hitung ternyata membuat pengeluaran membengkak. Hiks. Akhirnya saya memutuskan untuk belajar memasak. Saya berpikiran tak ada kata terlambat untuk belajar memasak. 


Bahkan tak hanya memasak, saya juga belajar bagaimana caranya memasang tabung gas, dan sekarang saya sudah expert lah soal dunia pertabungan gas ini. Mau gak mau saya harus belajar pasang gas, karena saya Long Distance Marriage dengan suami, nggak mungkin saya harus panggil tetangga tiap kali mau pasag gas.

Jatuh Cinta dengan Cookpad

Memasak di bulan-bulan awal pindah rumah, masih memasak dengan resep yang sekiranya aman. Seperti sayur bayam bening, sop, tumis, tiga menu itu saja yang saya ulang-ulang. Hahaha.

Hingga kemudian, saya ingin mencoba memasak makanan lain dan saya pun mulai berkenalan dengan Cookpad, aplikasi andalan para ibu rumah tangga. Saya cari beragam menu yang sekiranya cocok di lidah saya dan suami.


Saat suami pulang ke rumah kala weekend, saya memasak menu-menu baru, setelah memasak biasanya deg-degan seperti nunggu penilaian dari juri Master Chef, dan sejauh ini (8 bulan saya belajar masak), suami nggak pernah komplain dengan masakan yang saya hasilkan. Alhamdulillah. Saya makin pede buat belajar memasak menu-menu lainnya.

Memasak Adalah Seni Bertahan Hidup

Kenapa saya memasak? Sudah saya jelasin di atas, sih, biar hemat, hehehe. Apalagi di tengah masa pandemi sekarang ini.

Saya dan suami punya pandangan kalau memasak bukan tugas istri, karena kami pun sering masak bersama di dapur. Kami berpandangan bahwa masak adalah seni bertahan hidup. Jika dulu nenek moyang kita bertahan hidup dengan berburu dan meramu, maka saya mencoba bertahan hidup dengan mengupgrade skill memasak saya. 


Awal-awal belajar memasak, saya menanamkan pikiran, “Nggak masak, ya nggak makan.” Jadi mau nggak mau saya akan memasak biar bisa makan.

Saya tak bisa membayangkan jika saya nggak berusaha untuk belajar masak, kemudian harus beli lauk setiap hari. Berapa pengeluaran yang seharusnya bisa dialihkan ke hal-hal lain, seperti tabungan pendidikan anak misalnya.

Jika dihitung, misalnya uang Rp 30.000,- untuk makan di luar hanya bisa untuk satu porsi. Kalau untuk masak di rumah, bisa saya gunakan untuk kebutuhan makanan dua hari. Bener-bener hemat, kan? 


Bahkan, saya pernah ikut kontes memasak dengan menu harian saya di rumah, dan ternyata terpilih menjadi salah satu pemenang. Ini bikin rasa percaya diri saya untuk memasak naik berlipat ganda. Saya jadi ingin mencoba memasak menu-menu baru setiap harinya.

Seperti saat Ramadhan seperti ini, dari awal Ramadhan, saya memasak untuk buka dan sahur, dan beberapa kali saya coba memasak menu baru yang belum pernah saya masak sebelumnya. Hasilnya bikin saya bahagia, karena meskipun tanpa mencicipi, masakan saya tetap enak. Ternyata betul kata orang, memasak memang sama dengan mengolah rasa. Bisa karena terbiasa. (*)
Read More

Ruang Kerja dan Perpustakaan Kecil di Rumah, Sebuah Impian yang Tercapai

Kamis, April 30, 2020

Sepuluh hari yang lalu, kebahagiaan saya dan suami membuncah, bukan soal memiliki kendaraan baru atau menang lotre. Tapi tentang mimpi yang bertahun-tahun ada di benak kami akhirnya terwujud. Sebuah ruang perpustakaan sekaligus ruang kerja di rumah akhirnya bisa kami hadirkan.

Belasan tahun ke belakang, saat masih duduk di bangku SMP, saya punya impian memiliki rak buku yang besar dan tinggi di rumah. Saya membayangkan betapa bahagianya memiliki rak berisi deretan buku, membaca buku berteman cahaya matahari yang menyusup di jendela pastinya sangatlah menyenangkan.

Hingga kemudian, saya bertemu dengan seorang lelaki yang memiliki mimpi serupa, kami akhirnya menikah, dan empat tahun setelah pernikahan, barulah mimpi kami tersebut terwujud, bertepatan dengan suami yang sedang Work From Home. 


Pekerjaan suami sebagai dosen di sebuah PTN di Semarang membuatnya harus memberikan perkuliahan jarak jauh, untungnya sekarang ada perpustakaan dan ruang kerja yang membuat produktifitas kerjanya tetap terjaga.

Perpustakaan dan ruang kerja ini bagi kami bukan sekadar ruangan biasa, namun ia adalah sweet escape, tempat kami sekeluarga mencari ketenangan lewat buku. Maka dari itu kami benar-benar merencanakan dengan sungguh-sungguh ruangan ini.

Ruangan

Untuk membuat perpustakaan dan ruang kerja, kami tidak membangun ruang baru, kami memanfaatkan ruangan yang sudah ada. Di rumah kami ada tiga ruang kamar tidur yang letaknya sejajar, dari depan ke belakang. Ukurannya tak besar, hanya 3 x 2,5 meter. 


Kami pun memilih ruang kamar paling depan, alasannya karena ruang kamar paling depan memiliki dua buah jendela, sehingga cahaya matahari yang masuk lebih banyak. Selain membuat nyaman saat membaca karena cahaya yang terang, tentunya akan menghemat listrik. 

Pemilihan Cat

Ruangan yang tak begitu luas membuat kami harus memilih cat dinding yang tepat. Akhirnya kami memilih cat dengan warna kuning pastel untuk memberikan kesan luas pada ruangan ini.

Rak Buku dan Meja Kerja

Alih-alih membeli rak buku dan meja kerja di toko furniture, kami memilih untuk memesan sendiri rak buku dan meja kerja ke tukang kayu kenalan kami.

Kenapa memesan sendiri? Lagi-lagi alasannya karena ruangan yang tak begitu luas, jadi kami harus benar-benar menyesuaikan lebar, panjang, dan bentuk dari rak buku.
Begitu juga dengan meja, kami harus mengukur meja untuk disesuaikan dengan lebar dinding. Dikarenakan tidak ada meteran kayu, kami akhirnya pakai meteran kain, hehehe.


Awalnya kami mengira rak buku dan meja kerja kami harganya minimal 3 juta. Kami rasanya sudah pusing, apalagi ketika itu sudah jelang puasa. Tapi ternyata harganya terbilang miring, rak buku dan meja kerja dihargai separuh dari budget awal kami.

Kami juga sebenarnya mau menggunakan kursi kantor yang bisa berputar 360 derajat, tapi karena sedang masa pandemi, kami menggunakan dulu kursi yang ada.

Tirai
  
Setelah melakukan pengukuran untuk memesan rak buku dan meja, selanjutnya kami ingin memasang tirai. 

 
Dikarenakan ingin lebih mendekatkan suasana kantor di dalam rumah, kami akhirnya memilih tirai tipe kantor yang kain penutupnya bisa direnggangkan. Karena harganya ternyata dua kali lipat dari tirai kain biasa, kami memilih untuk memasang satu tirai dulu.

Bean Bag 

Saya tipe orang yang suka banget rebahan, maka dari itu, di perpustakaan dan ruang kerja kami, saya pun menginginkan bisa membaca buku dengan gaya rebahan yang nyaman.

Bean Bag, ya itu adalah salah satu benda yang saya tawarkan kepada suami buat dibeli. Tapi setelah lihat harganya, kami menelan ludah. Mahal euy. Tapi saya tak patah semangat, saya tetep pengen punya bean bag. 


Hingga suatu hari, pucuk dicinta ulam pun tiba, saya menang lomba memasak yang diadakan salah satu brand margarin, dan mendapatkan hadiah dengan besaran yang lebih dari cukup untuk membeli Bean Bag.

Dan, tadaaaaa, saya akhirnya bisa mendapatkan bean bag idaman yang bisa menjadi teman untuk membaca buku.

Hijang

Nah, selanjutnya tentang printilan yang mau ditaruh di perpustakaan dan ruang kerja ini. Printilan ini tentunya ide saya bukan idenya suami, maklumlah ya, perempuan, lihat printilan lucu dikit maunya dibeli hehe. Salah satunya adalah Hijang.

Apa sih Hijang? Hijang adalah rangkaian besi kotak-kotak buat ditempelin di dinding, trus nanti kertas-kertas penting dijepit menggunakan wooden clip di rangkaian besi itu


Awal tahu tentang Hijang ini saat melihat unggahan konsep ruang kerja kekinian di media sosial. Kok lucu? Batin saya. Akhirnya saya beli Hijang di marketplace. Agar lebih cantik, saya pun menambahkan dedaunan artifisial di rangkaian Hijang tersebut.

Air Cooler

Rumah saya tidak menggunakan AC, takut listriknya nggak kuat, hehe. Akhirnya kami menggunakan air cooler yang bisa dipindah-pindahkan antar ruangan. 


Selain bisa digunakan sebagai kipas angin, air cooler juga bisa diisi dengan ice pack dan ada tangki airnya juga. Air dan ice pack inilah yang akan membuat ruangan lebih sejuk.  Tapi untuk menggunakan ini, jendela harus dibuka ya, agar bisa terjadi sirkulasi udara.

Sebenarnya masih ada beberapa tambahan barang yang ingin kami masukkan, seperti poster cover buku-buku yang ditulis saya dan suami, beberapa home decor yang berisi quote tentang buku, juga kursi kantor. Tapi sepertinya kami harus menunggu sembari menabung dulu.(*)
Read More