Kebanggaan (bukan) Hanya Tentang Kemenangan

Kamis, Oktober 17, 2013



Bangga, adalah satu kata yang sering banget kita dengar. Tapi, masing-masing orang pasti punya persepsi masing-masing ketika ditanya apa sih arti bangga buat kamu?

Setiap orang punya perjalanan hidupnya sendiri-sendiri, oleh karena itu, setiap orang punya pengalaman, pengetahuan, serta perasaan yang berbeda-beda, termasuk juga untuk menjabarkan arti sebuah kebanggaan.
 
Seorang ibu, murid SD, hingga tukang becak pastilah punya pandangan yang berbeda, dan kapankah mereka merasakan sebuah kebanggaan pun juga berbeda. Seorang ibu, melihat anaknya yang masih balita melangkah untuk pertama kalinya dan mengucapkan kata ‘Mama’, itu bisa jadi sebuah kebanggaan yang nggak terhingga buat seorang ibu. Begitu juga dengan seorang murid SD, setelah belajar tekun, ia berhasil meraih nilai sempurna di pelajaran Matematika. Sedangkan untuk seorang tukang becak, ketika ia berhasil membelikan anaknya seragam sekolah dari hasil keringatnya mengayuh becak, itu pun bisa jadi sebuah nilai kebanggaan baginya. 

Bangga Berproses    
Lalu sebenarnya apa sih bangga itu? Jika dilihat dari tiga cerita di atas, dari kebanggaan seorang ibu, seorang murid SD, dan seorang tukang becak. Bangga bisa diartikan ketika kita berhasil meraih sesuatu melalui sebuah proses.

Seorang ibu melihat proses jatuh bangunnya anaknya ketika belajar berjalan, murid SD dengan prosesnya belajar tekun, juga seorang tukang becak dengan prosesnya bekerja keras demi membelikan seragam sekolah untuk anaknya. 
 
Setiap orang di dunia ini pasti pengen banget bikin orang-orang disekitarnya bangga, rasanya nggak ada seorang pun di dunia ini yang nggak pengen berbuat sesuatu hal yang membanggakan, meskipun cuma sekali seumur hidupnya. Coba deh, misal kita tanya ke orang-orang di sekitar kita, “Kamu mau nggak melakukan hal yang membanggakan?” pastinya nggak akan ada yang jawab “Nggak ah, aku nggak mau.”

Nah, sebenarnya melakukan hal yang membanggakan itu bisa kita lakukan, hanya saja nggak semua orang tahu caranya. Dan, satu lagi yang harus diingat, bangga itu adalah hasil sebuah proses, bukan sesuatu yang dihasilkan secara instan.

Bangga itu datangnya dari hati, nggak bisa direkayasa. Dari banyaknya peluh ketika berproses itulah yang akan menciptakan kristal-kristal kebanggaan. Misal, kita ingin membanggakan orang tua dengan memenangkan sebuah lomba menulis puisi, kita pun melakukan segala macam cara untuk memenangkan lomba tersebut, bahkan nggak segan untuk berbuat curang dengan memplagiat puisi karya orang lain. Meskipun jika puisi itu menang, kemudian kita tunjukkan sebuah piala kemenangan pada orang tua, apa hati kita akan bahagia dan bangga? Kalau menjawab ‘bangga’, pasti itu bohong banget.

Proses yang nggak baik dalam meraih suatu hasil, meskipun di bibir bilang jika kita bangga, tapi di dalam hati kecil kita pasti akan berontak, jika sebenarnya kita tak pantas mendapatkan pujian dan ucapan selamat.

Jika orang tua kita tahu kecurangan kita? Apakah mereka akan bangga? Justru mereka akan kecewa, dan akan berkata, “Ayah dan Ibu lebih bangga jika kamu lakukan semuanya dengan kejujuran.”

Nah, kan? Bangga itu bukan ketika dapat kemenangan, tapi ketika kita melihat dan merasakan sebuah proses panjang dalam meraih kemenangan itu, kalau pun tidak meraih kemenangan, kita masih pantas berbangga, karena kita sudah bisa melewati proses panjang itu dengan sebuah kejujuran.

Kebanggaan, ada yang sifatnya individual, tapi ada juga yang sifatnya kolektif. Kebanggaan individual adalah kebanggaan yang dirasakan oleh diri sendiri karena sebuah proses yang juga dilaksanakan diri sendiri.

Lalu, kebanggaan kolektif yang seperti apa? Kebanggaan kolektif adalah ketika kita juga merasakan menjadi bagian dalam suatu proses keberhasilan. Misalnya ketika Tim Sepakbola Nasional Garuda Muda beberapa waktu lalu memenangkan Piala AFF 2013. Apakah kita bangga ketika melihat Garuda Muda meraih kemenangan itu? Tentu saja, Ya. Kenapa? Karena kita merasa menjadi bagian dari perjuangan mereka, kita bersorak di depan televisi, dan kita semua berdoa untuk kemenangan Indonesia meskipun bukan kita sendiri yang bertanding di lapangan. 
  
Sebagai bangsa Indonesia tentunya ada rasa haru dan bangga yang datang tiba-tiba dari dalam hati, ini yang dinamakan kebanggaan koletif atau kebanggaan bersama.
 
On The Track
Bangga adalah hasil gabungan antara kejujuran, kerja keras, dan doa. Tiga hal tersebut (kejujuran, kerja keras, dan doa) ada dalam satu kata yaitu ‘proses’. Kenapa kejujuran harus masuk dalam proses itu? Karena proses tanpa kejujuran sama dengan mobil mewah tanpa mesin, jika dilihat orang, mobil itu dari luar adalah mobil mewah, tapi kita sendiri tak dapat merasakan kebahagiaan karena mewah itu hanya tampilan luarnya saja, nggak ada mesin di dalamnya yang membuat kita nggak bahagia karena nggak bisa mengendarainya.

Hal itu juga sama ketika kita meraih sesuatu tanpa kejujuran di dalamnya, seriuh apapun pujian dan tepuk tangan yang kita dapat, tetap saja ada bagian yang kosong dalam hati kita.
 
Dalam meraih sesuatu, seseorang itu haruslah ada di jalurnya, On The Track, seperti para pembalap Moto GP yang meraih podium dengan hasil usaha dan berada di jalur yang benar. Apa jadinya jika mereka keluar jalur? Tentunya mereka tak akan bisa naik ke podium dengan kebanggaan hati yang membuncah.

Sekarang ini bisa dilihat juga, pejabat-pejabat yang korupsi dan tertangkap KPK, mereka sebelumnya bisa membanggakan diri dengan harta yang melimpah, serta jabatan tinggi. Tapi karena dalam prosesnya ada ketidakjujuran di dalamnya, itu adalah kebanggaan yang semu. Kebanggaan yang hanya bisa dilihat orang lain, tapi tak dirasakan oleh dirinya sendiri. 

Seperti yang dikatakan oleh salah satu pemeran di book trailer Cine Us. “Melelahkan sekali kalau kita terus mengejar pengakuan dari orang, punya kepuasan itu dari sini ( menunjuk hati), bukan dari sana (menunjuk gedung festival). Apa sih arti kebanggaan buat lo?”

Ya, kebanggaan (bukan) hanya tentang kemenangan, bukan ketika mendapat tepukan dari ribuan orang, tapi ketika ada rasa kepuasan di hati yang tercipta dari proses kerja keras dengan semangat kejujuran.(*)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba artikel Cine Us karya Evi Sri Rezeki - Nourabooks - Smartfren








 
Read More

SAPEN : Dulu dan Kini

Selasa, Oktober 08, 2013

Surat-surat dari Sahabat Pena
Ini bukanlah catatan serius, hanya sekadar menggali kembali kenangan yang lama tersimpan di dalam almari, jadi tak perlu melipat kening saat membacanya, tapi boleh kalau mau senyum-senyum baca catatan ini.

Di dalam kamarku, ada sebuah almari kecil, tempatku menyimpan benda-benda kenangan dari orang-orang yang pernah jadi bagian dalam hidupku (sahabat, saudara, dan 'penggemar cinta monyet'), hehe. Di almari itu juga tersimpan sebuah kaleng biskuit bekas, tempatku menyimpan puluhan surat dari sahabat pena.

Ya, sapen, sahabat pena. Istilah ini pasti tak asing lagi, dulu. Tapi kini, entahlah. Mungkin 'sahabat pena' sekarang ini hanya ada di pertanyaan UTS Bahasa Indonesia anak SD.

Aku mulai tertarik dengan kegiatan bersapen ria ini sejak SD, setiap membuka rubrik surat pembaca di majalah BOBO, pastilah ada anak yang meminta dicarikan sahabat pena sama BOBO. Dari awalnya tertarik, aku mulai  suka ikut kuis-kuis, kirim surat pembaca, dan puisi singkat di majalah anak. Sejak itulah foto-foto cantikku mulai menghiasi koran dan majalah, hehe, dan mulai banyak yang mengirim surat padaku karena di koran & majalah itu ada alamat lengkap rumahku juga.

Surat-surat yang datang biasanya mengajak berkenalan, terkadang ada juga yang mengirim foto dan meminta aku juga mengiriminya foto kembali (yang ini biasanya sapen cowok). Di surat-surat itulah aku dan sahabat-sahabatku dari luar kota dan luar pulau bertukar cerita, kabar gembira, juga keluh kesah tentang sekolah.
Terkadang aku harus bersusah payah membaca surat yang dikirim untukku karena tulisannya seperti cacing breakdance, tapi itulah keseruannya. Menerima surat, membacanya, dan membalasnya adalah suatu keasyikan tersendiri. Bisa dikatakan, surat- surat ini jugalah yang menjadi 'guru' pertamaku menulis, belajar mengeluarkan gagasan dan ide-ide yang ada dalam pikiran.

Ketika di sekolah, salah satu hal yang kunantikan adalah melihat amplop surat bertuliskan namaku dipajang di jendela kantor Tata Usaha, bahagianya bukan main. Dalam satu minggu biasanya ada satu atau dua surat untukku. Tapi tak hanya surat, ada juga foto-foto artis yang datang, kalau ini memang karena aku sering kirim surat penggemar ke artis dan ketika dibalas dapat foto dan tanda tangan, kebahagiaan remaja. ^_^V

Aku bisa bolak-balik ke kantor pos dua sampai tiga kali dalam seminggu, menyisihkan uang jajan, untuk beli perangko, amplop, dan kertas surat. Aku pun sampai punya koleksi kertas surat, bahkan saat SD dan awal SMP pernah jualan kertas surat juga (otak bisnis dari kecil).

Hingga duduk di bangku Madrasah Aliyah dan tinggal di pesantren, aku masih hobi bersahabat pena. Tapi, kisah-kisah sahabat pena itu sudah berlalu, seiring dengan perkembangan tekhnologi, datangnya MIRC, Friendster, Facebook, Twitter, Path, dan lain sebagainya.

Untuk tahu kabar, cari teman, tinggal 'klik', mau menyapa artis juga tinggal mention di twitter. Kini, rindu itu datang, rindu dengan suara robekan ujung amplop ketika membukanya, rindu membaca kalimat 'Hai, boleh kenalan' di kertas yang wangi, juga rindu melepas perangko bekas dan memasukkannya ke buku filateli.

Semua hal memang ada masanya dan berganti, jika dulu aku mengenal SAPEN sebagai sahabat pena tempat berbagi kisah, kini justru aku menguntai kisah dengan lelaki yang tinggal di SAPEN*. Sebuah kebetulan yang membahagiakan. (*)

*SAPEN : nama daerah di Yogyakarta
Koleksi kertas surat yang masih tersisa


Read More

Simfoni Perjuangan dan Semangat untuk Menang

Jumat, Agustus 30, 2013


Simfoni Perjuangan dan Semangat untuk Menang
Oleh : Richa Miskiyya



Judul Buku      : 12 Menit
Penulis             : Oka Aurora
Penerbit           : Noura Books
Halaman          : xiv + 348 halaman
Tahun              : Cetakan I, Mei 2013
ISBN               : 978-602-7816-33-6
 
‘Perjuangan terberat dalam hidup manusia adalah perjuangan mengalahkan diri sendiri’.

Hidup memang butuh perjuangan untuk meraih impian dan cita-cita. Dalam perjalanan meraih cita-cita, rintangan yang harus dihadapi tak hanya musuh dari luar, tetapi juga musuh dari dalam diri sendiri yang seringkali tak disadari. Dan apabila musuh dalam diri tak bisa dikalahkan, ia justru akan menikam diam-diam dan menghentikan langkah demi langkah yang telah direncanakan dengan rapi. 
Perjuangan inilah yang dihadapi oleh para tokoh dalam novel berjudul ‘12 Menit’ karya Oka Aurora, sebuah novel yang diadaptasi dari skenario film dengan judul yang sama. Kekhasan sebuah novel yang diadaptasi dari skenario film ini bisa dilihat dari adanya penggunaan sudut pandang ketiga serta pembagian sebanyak 50 bab dengan lompatan penceritaan dari satu tokoh ke tokoh lain, menunjukkan adaptasi scene-scene seperti dalam film. 
Pada bab-bab awal novel ini menjadi bagian pengenalan para tokohnya masing-masing, alur yang lambat menjadikan pembaca memiliki waktu untuk mengenali watak para tokoh serta memahami istilah-istilah asing dalam marching band yang disusun dalam glosarium.

Novel berlatar dunia marching band ini memaparkan bagaimana para tokoh; Rene, Tara, Lahang, dan Elaine harus berjuang menakhlukkan musuh dalam diri mereka masing-masing.

Rene, seorang pelatih marching band profesional yang sudah berpengalaman di luar negeri bersedia melatih marching band di Bontang, sebuah kota kecil di Kalimantan Timur. Rene harus berhadapan dengan kenyataan bahwa anggota marching band yang ia latih sangat minim motivasi. Rene tak hanya harus menghadapi permasalahan harmoni lagu di lapangan ketika melatih, tetapi juga menghadapi permasalahan pribadi para anggotanya.

Tara, seorang gadis berjilbab yang memiliki pendengaran minim akibat sebuah kecelakaan yang juga merenggut nyawa ayahnya. Di tengah rasa traumanya itu, Tara yang berbakat dalam musik pindah mengikuti Opa dan Omanya ke Bontang setelah Mamanya memutuskan untuk melanjutkan beasiswa pendidikan S2 nya ke Inggris. Ia harus melawan dirinya sendiri, melawan ketakutannya akan masa lalu yang membuatnya sempat mundur dari anggota marching band yang lama diidamkannya.

Elaine, gadis belia yang berbakat dalam memainkan biola serta pernah menjadi field  commander harus rela mengikuti orang tuanya, Josuke Higoshi yang pindah bekerja ke Bontang. Elaine yang mencintai musik harus berhadapan langsung dengan ayahnya Josuke Higoshi yang tidak setuju jika Elaine bergabung dalam marching band, karena bagi Josuke yang berdarah Jepang, sekolah adalah yang utama, sedangkan musik adalah sia-sia.  

Lahang, lelaki muda dari suku dayak yang memiliki ayah seorang kepala suku yang menderita kanker otak. Lahang bimbang harus melanjutkan langkahnya untuk pergi ke Jakarta mengikuti Grand Prix Marching Band ataukah harus menjaga ayahnya yang sedang berada di ujung maut. Meskipun ayahnya adalah seorang kepala suku yang dekat dengan aturan adat, namun ia selalu memberikan nasihat bijak padaa Lahang agar tak boleh berhenti mengejar mimpinya; ‘Berapa pun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan, karena ketakutan, anakku, tak akan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu, hanya keberanian.’ (halaman 104).

Rene, Tara, Elaine, dan Lahang yang memiliki latar belakang serta permasalahan hidup masing-masing, dipertemukan dalam sebuah grup marching band, dan berlatih bersama hingga ribuan jam untuk tampil dalam GPMB (Grand Prix Marching Band) di Jakarta.

Marching Band; Simbol Semangat, Keberagaman, dan Harmoni
Marching band, dalam novel ini tak hanya ditempatkan sebagai wadah, melainkan juga simbol semangat, keberagaman, dan harmoni. Marching band, ditilik dari sejarahnya bermula dari musik militer yang menjadi musik penyemangat para prajurit yang akan berlaga di medan perang. Semangat ini pulalah yang menjadi dasar kekuatan pada gerak dan musik marching band. Dalam novel ini, Rene menjadi tokoh sentral yang terus berusaha membangkitkan jiwa semangat anak didiknya yang minim motivasi. Tokoh Rene dalam novel ini menjadi cerminan seorang pendidik yang gigih memberikan motivasi bagi anak didiknya, dengan terus mendengungkan kata “VINCERO”, sebuah kata dari lagu Nessun Dorma yang memiliki arti ‘Saya akan menang!’. Rene menjadi pendidik yang menempatkan anak didiknya sebagai sahabat, sehingga Rene tak malu untuk meminta maaf pada Tara ketika ia merasa apa yang dilakukannya salah (halaman 158).

Marching band juga merupakan simbol keberagaman. Instrumen dalam marching band yang beragam serta harmoni musik yang tertata apik dari aneka macam alat musik menjadikan marching band menjadi pertunjukan musik yang berbeda dari pertunjukan musik yang lain. Marching band adalah pertunjukan kelompok, bukan perseorangan, jadi harmoni dan keselarasan nada dari masing-masing department (kelompok pemain musik) menentukan keberhasilan. Keberagaman dalam musik marching band ini, juga menjadi dasar Oka Aurora dalam menulis novel dengan tebal 348 halaman ini. Keberagaman sifat serta latar belakang para tokohnya membuat novel ini semakin menarik. Rene yang berlatar pendidikan luar negeri, Tara dengan keanggunan jilbabnya, Elaine sebagai anak orang kaya keturunan Jepang, dan Lahang mewakili masyarakat adat Kalimantan, yang kemudian disatukan dalam sebuah wadah bernama marching band.

Novel ini hendak memberi pelajaran bahwa harmoni hanya akan terwujud jika setiap individu mampu menaklukkan egonya masing-masing. Keberagaman sifat dan latar belakang para anggota marching band dalam novel ini menjadi simbol betapa untuk mewujudkan sebuah harmoni (baik harmoni nada maupun harmoni kehidupan), mereka harus saling bekerja sama, bahu membahu untuk menciptakan keselarasan, walau seringkali mereka harus bergelut dengan diri mereka sendiri.

Melawan diri sendiri memanglah tidak mudah, namun bukan berarti hal tersebut tidak bisa dilakukan, hal ini bisa dilihat dari tokoh Rene yang berhasil melawan egonya sebagai pendidik yang keras, Tara yang harus melawan traumanya, Elaine yang melawan kebimbangannya, serta Lahang yang harus melawan ketakutannya untuk terus terbang tinggi menggapai mimpinya.

Tak hanya sarat akan pesan dan inspirasi, gegap gempita sebuah pertunjukan marching band berhasil dinarasikan dan dituliskan Oka Aurora dengan apik, membuat pembacanya seperti berada dalam gedung pertunjukkan bersama ratusan orang anggota marching band dengan segala perlengkapan dan kemeriahan kostumnya—dengan segala perbedaan dan latar belakang masing-masing anggotanya—membuat pembaca enggan menutup buku hingga halaman terakhir dan menjadikan pembaca semakin tak sabar melihat visualisasi simfoni perjuangan dan semangat mereka di layar lebar.

Tak hanya pesan untuk berani bermimpi, tapi dalam novel ini juga sarat akan pesan keberagaman sebagai wujud adanya simfoni perjuangan dan semangat yang mengalun untuk mencapai sebuah kemenangan, sebuah keberagaman yang indah, karena musik yang indah tercipta dari beragam nada. (*)  
Read More

(Bukan) Kotak Pandora

Minggu, Juni 30, 2013


"Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film "Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013."

 

       Aku tersentak kaget ketika kau menghempaskan tubuhmu ke atas kursi tepat disampingku. Segera kuhentikan menyalin catatan fisikaku yang belum selesai. Kupalingkan tatapanku ke arahmu. Hari itu wajahmu begitu kusut, kacau, dan ... Ah, sepertinya aku tak perlu bertanya ada apa denganmu ketika kulihat di tanganmu tergenggam sebuah kado berbungkus rapi dengan hiasan pita warna merah jambu.
            Sehari sebelumnya, aku menemanimu membeli kado itu. “Ayo, temani aku mencari kado untuk Lina, besok dia ulang tahun,” pintamu dengan wajah memelas sepulang sekolah hingga akhirnya aku mengangguk, mengiyakan ajakanmu.
            Kamu terus saja menguntit di belakangku sesampainya di toko yang menjual aneka kado. “Pilih yang paling bagus dan menurutmu dia akan suka. Aku percaya dengan pilihanmu,” bisikmu di telingaku, membuat angin kecil di daun telingaku yang membuat jantungku berdegup tak karuan.
Aku hanya bisa menghela nafas dan menyimpan degupan aneh yang bercampur dengan rasa kesalku di hati. Ini adalah kesekian kalinya aku harus menemanimu mencari hadiah untuk mendekati perempuan yang kau kagumi. Ingin rasanya aku menolak ajakanmu, karena membantumu mendekati perempuan yang kau suka adalah siksaan batin tersendiri buatku. Sayang, kau tak pernah sadari kesakitanku.
            Aku mengelilingi toko yang berisi aneka macam hadiah itu. Boneka teddy bear, jam tangan cantik, asesoris-asesoris lucu, namun belum ada yang membuatku menjatuhkan pilihan, seolah-olah aku ingin membeli kado untuk diriku sendiri hingga harus mencari yang terbaik, sedang kulihat dirimu sedang asyik melihat-lihat aneka dompet untuk cowok di etalase depan.
            Hingga akhirnya langkahku terhenti di sudut ruangan, tempat aneka bingkai dan kotak musik tertata rapi. Kuraih kotak musik berwarna merah hitam berbentuk hati, kubuka pelan kotak musik itu, dan kuputar pengait dibawahnya. Aku tersenyum ketika kulihat sebuah boneka balerina menari-nari berputar mengikuti irama musik.
           “Kau suka itu?” tiba-tiba kau sudah berdiri di sampingku, ikut menikmati tarian balerina di atas kotak musik yang kupegang. Aku mengangguk dan tersenyum.
Kau pun segera mengambil alih kotak musik itu dari tanganku, “Pasti Lina juga akan suka kotak musik ini,” katamu seraya beranjak menuju kasir.
Lagi-lagi seperti ada godam yang memukul-mukul ulu hatiku, kugigit bibirku, “Aku juga ingin kotak musik itu, Rama,” ucapku lirih, hingga sepertinya aku sendiri yang bisa mendengar kalimat yang baru saja kuucapkan.
“Ucapan selamat ulang tahun ini bagus, gak?” kau menunjukkan sebuah bingkai ucapan selamat ulang tahun yang terbuat dari stik es krim. Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Dua hadiah itu pun akhirnya dibungkus oleh karyawan bagian pembungkus kado untuk Lina, bukan aku.  
“Ini untukmu saja,” ucapmu yang menyadarkanku dari lamunan.
“Maksudmu?”
“Iya, kado ini untukmu saja. Aku ditolak Lina.” Aku menerima kado pemberianmu itu. Meskipun kado itu tak langsung dari hatimu, tapi aku bahagia menerimanya.
Semua pemberian darimu kusimpan rapi di dalam kardus kecil ini, termasuk sebuah jam tangan yang kau berikan sebagai kenang-kenangan tanda kelulusan.
“Waktu selalu bersahabat dengan rindu, kenanglah aku di tiap doamu,” ucapmu sebelum kau pergi ke Yogyakarta melanjutkan kuliahmu.
Hingga kini kusimpan kotak berisi kenangan bersamamu, meski terasa pahit, tapi ini bukan kotak pandora, karena di dalamnya ada cinta yang masih kusimpan rapi hingga kini, sendiri. (*)
Read More

Piknik Sastra Penuh Cinta

Jumat, Februari 10, 2012


Rasanya tak ingin pulang ke rumah, itulah yang dirasakan olek sedulur SECOTENG yang baru saja menikmati nikmatnya berada di Istana Rumbia, Istana penuh cinta.

Setelah sebelumnya berusuh ria di grup SECOTENG tentang all about Piknik Sastra, akhirnya, Sabtu, 12 November 2011, kami pun berangkat sesuai dengan kesepakatan awal, menuju Istana Rumbia Wonosobo.

Dengan kekuatan satu kompi yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jogjakarta, dari Batang hingga Magelang, dari Solo hingga Wonosobo, semua sedulur SECOTENG yang ikut pun berkumpul di stasiun Tugu-Yogyakarta.

Dua mobil yang kami tumpangi pun melaju seirama dengan kelokan jalan menuju Istana Rumbia-Wonosobo. Dingin menyambut, namun semangat kami tak pernah surut. Setelah menuliskan warna-warni kata-kata di dinding Istana, acara pun dimulai, sambutan dari Suker Ganteng Batman Donatus A. Nugroho dan Bunda Maria Bo Niok seputar pengalaman dan keberadaan Istana Rumbia menjadi pembuka, kemudian dilanjutkan dengan launching Buku Kumpulan Puisi Lamunan Bidadari karya Mbak Nessa Kartika dan Novel Duet Twinlight karya Mbak Nessa Kartika dan Mbak Dian Nafi

Tak hanya sekedar launching bersama anggota SECOTENG, namun juga diskusi dan sharing bersama adik-adik SMP di Desa Lipursari-Wonosobo, berbagi menjadi sesuatu yang indah ketika kita saling berbagi ilmu dan cita-cita 

Bunda Maria Bo Niok pun menyuntikkan semangat kepada kami tentang arti sebuah perjuangan hidup, cita-cita, juga cinta kepada sesama, cinta kepada orang-orang yang haus akan ilmu dan buku, hingga berdirilah taman baca Istana Rumbia di tanah tinggi pegunungan Wonosobo.

Malamnya, Suker Donatus A. Nugroho, Bunda Astuti J. Syahban, Bunda Maria Bo Niok, Mbak Nessa Kartika, juga Banceuy Ambassador Kang Rick Luck melakukan siaran di Pesona FM Wonosobo seputar sastra, dan kemudian bertemu dengan Inayah Wahid (Putri Bungsu Gus Dur) dan tokoh-tokoh multikulturalisme di Wonosobo. Kang Rick Luck pun menjadi artis malam itu dengan bermonolog membaca cerpen dalam acara tersebut. Keren!

Esoknya, saat kabut masih tersangkut di rumput. Kami sudah bersiap-siap untuk berwisata sejarah menuju Kawah Sikidang dan Candi Dieng. Canda dan tawa pun menjadi penghias sepanjang perjalanan. Meski hujan mengguyur, namun kebersamaan tetap diutamakan, meski harus menggunakan satu payung untuk berlima, itu indah, kawan!!

Saat malam datang, dengan ditemani kopi dan tempe kemul. Kami pun berdiskusi bersama Komunitas Jagong Budaya Wonosobo, tak cuma berbincang tentang kepenulisan, tapi juga tentang budaya yang mulai tergerus zaman. Penulis memang harus peka perkembangan zaman, namun budaya jangan dihilangkan. Akhirnya, setelah “merampok” jajanan khas wonosobo yang ada di Istana Rumbia, juga “mencuri” semangat yang tercetak di dinding-dinding Istana Rumbia, kami pun berpamitan membawa sejumput harapan tentang cita-cita kami. 

Hujan bulan november murni
Menyambutku di tempat ini
Namun janji kabut tak terpenuhi
Aku masih terjaga di dini hari
Tak ingin kehilangan matahari
Dan embun pagi

AKU PENDOA BAGI KEBAIKAN BUMI
CITA-CITA LUHUR ISTANA INI

Pada kabut kuingatkan janji-janji
Pada pagi bermatahari kutetapkan hati
Pada embun pagi sahabat para pencari
Kutitipkan pesan : AKU AKAN DATANG LAGI

(DAN- tertulis halus di dinding Istana Rumbia)

Read More

Reportase Kopdar Cendol Jateng-Yogya



Melaporkan (tidak) langsung dari Warung Djogja, Purawisata

Kopdar berlangsung dengan baik hati sekali karena yang punya warung menyediakan makan, minum dan cemilan yang mak nyuzzz. Sebelum acara dimulai, para peserta dan narasumber seperti biasa melakukan aktifitas yang tidak bisa ditinggalkan, foto-foto. Kesempatan ini sangat luar biasa karena dihadiri oleh cendolers dari Jateng-DIY. Tak lupa menghadirkan bintang tamu yang soy geboy dari BONEKTIM (Bunda Titie Surya, Zahara Putri, dan Adin Albanna) dan dari BANCEUY (Suhe Herman yang selalu ngaku-ngaku ganteng).

Acara Kopdar ini juga dihadiri oleh suker yang tidak kalah ganteng dengan Tora Sudiro yaitu Suker Donatus A. Nugroho dan suker yang tidak kalah cantik dengan Dian Sastro yaitu Suker Ari Kinoysan dan Suker Nita Tjindarbumi.

Banyak pelajaran penting yang disampaikan oleh para suker, tidak hanya pelajaran dalam hal kepenulisan saja, tetapi juga dalam hal memaknai eksistensi seorang penulis. Itulah yang disampaikan oleh Mbak Ari Kinoysan.

Di tengah keseriusan para suker memberikan materi dan motivasi tiba-tiba ada IKLAN!!!!

------------------------------KEPSEK TELEPON------------------------------

Kontan Telepon dari Kepsek Super Keren membuat para acara Kopdar gaduh. Kepsek dengan santainya kirim-kirim salam kepada semua peserta Kopdar tak terkecuali pada mbak-mbak pelayan resto.

Dalam acara Kopdar Jateng-Jogja, para peserta mendapat wejangan dari Mbak Ari Kinoysan. “Seorang penulis itu haruslah sabar, disiplin, dan tidak boleh menjatuhkan harga dirinya sendiri. Ia harus menghargai karyanya dengan sebaik-baiknya”. Hal itu bisa dibuktikan dengan cara menulis dan mengirim naskah yang ditulis dengan sepenuh hati.

Beliau juga mengatakan, “Jika kita ingin mengirim naskah ke penerbit, hal pertama yang harus dilakukan adalah benar-benar mengedit dengan sempurna. Jika perlu kita membayar seorang editor yang memang benar-benar mumpuni.”

Kopdar Jateng-Jogja ini juga menghasilkan sebuah keputusan yang istimewa, yaitu terbentuknya SECOTENG (SEdhuluran CendOl jaTEng dan NGayogyakarto) yang kemudian terbagi ke dalam cendol wilayah Kedu, Semarang, Wonosobo, dan Yogyakarta.
Sekian reportase kami laporkan live dari KAMAR MEYAH.

Reporter
Richa Miskiyya & Adin Albanna





Read More

Membuka Kehidupan dengan Madre

Rabu, Januari 25, 2012

Untuk Blog Kontes Mizan.com - www.mizan.com
Salam,
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk Mbak Dee atas semua tulisan-tulisan Mbak yang begitu memesona. Saya begitu banyak menemukan banyak hal dalam tulisan Mbak Dee, tentang kehidupan, tentang kerja keras, kasih sayang antar sesama, namun juga ada komedi di dalamnya yang bisa membuat saya tertawa. Ya, bukankah kita juga butuh tawa dalam hidup ini? Tak hanya mengurusi politik yang lama-lama justru seperti dagelan yang tak lucu sama sekali.
Perkenalkan, nama saya Richa Miskiyya, saya adalah seorang mahasiswa dan calon wisudawati di akhir bulan Januari ini pada salah satu Universitas Negeri di Semarang, hehe. Berbangga sedikit tidak apa-apa kan, mbak? Saya termasuk salah satu pembaca karya-karya Mbak Dee, salah satu yang membuat saya terpesona dengan Mbak Dee adalah dulu saya mengenal Mbak Dee sebagai seorang penyanyi dalam grup RSD, namun Mbak Dee kemudian menjadi seorang penulis novel terbitan mizan (www.mizan.com) yang best seller.
Dari perpindahan jalur itulah, saya melihat Mbak Dee adalah sosok perempuan yang berani, berani untuk memulai sesuatu yang baru. Tak tanggung-tanggung, dari tulisan-tulisan Mbak Dee, saya membaca ada ketotalan dalam setiap katanya. Rasa total untuk berbagi, berbagi tentang apa saja, tentang ilmu kehidupan, juga tentang cinta.
Saya juga salah seorang perempuan di Indonesia ini yang punya hobi menulis, dan beberapa tulisan saya sudah ada di media. Namun, saya tak ingin cepat puas. Saya ingin menulis dengan lebih baik lagi, dan dari karya Mbak Dee lah bisa saya jadikan untuk pemacu langkah saya berikutnya.
Baru-baru ini saya membaca buku kumpulan cerpen Madre, dalam Madre saya menemukan banyak hal yang ternyata saya lewatkan begitu saja dalam hidup ini. Ternyata kehidupan ini memang tak bisa kita duga awal dan akhirnya, sejauh apapun kita melangkah, jika itu bukan jalan kita, maka kita justru akan dibelokkan ke jalan yang memang ditakdirkan untuk kita,
Madre tak hanya sebuah biang adonan roti, namun di dalam Madre juga terdapat biang kehidupan. Tentang sebuah garis keturunan yang menjadi biang lahirnya keturunan selanjutnya, tentang kesetiaan yang menjadi biang semangat hingga berkembanglah cinta.
Dari Madre pula, saya mendapat suatu arti kerja keras dan semangat. Karena dalam setiap pekerjaan yang tidak didasari dengan rasa cinta, semuanya akan berakhir sia-sia. Seperti cinta Tansen, Pak Hadi dan para pekerja toko roti pada Madre dan Tan de Bakker.
Cerita ini merupakan cerita yang kompleks, seperti roti berisi aneka rasa, coklat, kacang, selai nanas, stroberi, juga keju yang baru keluar dari panggangan. Hmmm....nikmat, dari luar tidak terlihat rasanya, namun dari baunya akan tercium bahwa roti ini enak. Dan ketika sudah memakannya, akan ditemukan banyak rasa yang sunggung mengejutkan, namun lagi-lagi, nikmat.
Begitulah, Mbak Dee. Pengalaman saya membaca Madre, dan terima kasih untuk semua cerita-cerita yang mengenyangkan dan membuat saya tersenyum juga rindu untuk melahapnya berulang-ulang. Terima kasih, Mbak Dee. Saya tunggu cerita-cerita Mbak Dee selanjutnya.
Dari Richa Miskiyya, Untuk : Mizan.com (Membuka Kehidupan dengan Madre Untuk Blog Kontes Mizan.com - http://mizan.com/index.php Salam,Sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk Mbak Dee atas semua tulisan-tulisan Mbak yang begitu memesona. Saya begitu banyak menemukan banyak hal dalam tulisan Mbak Dee, tentang kehidupan, tentang kerja keras, kasih sayang antar sesama, namun juga ada komedi di dalamnya yang bisa membuat saya tertawa. Ya, bukankah kita juga butuh tawa dalam hidup ini? Tak hanya mengurusi politik yang lama-lama justru seperti dagelan yang tak lucu sama sekali.Perkenalkan, nama saya Richa Miskiyya, saya adalah seorang mahasiswa dan calon wisudawati di akhir bulan Januari ini pada salah satu Universitas Negeri di Semarang, hehe. Berbangga sedikit tidak apa-apa kan, mbak? Saya termasuk salah satu pembaca karya-karya Mbak Dee, salah satu yang membuat saya terpesona dengan Mbak Dee adalah dulu saya mengenal Mbak Dee sebagai seorang penyanyi dalam grup RSD, namun Mbak Dee kemudian menjadi seorang penulis novel terbitan mizan (http://mizan.com/index.php ) yang best seller.Dari perpindahan jalur itulah, saya melihat Mbak Dee adalah sosok perempuan yang berani, berani untuk memulai sesuatu yang baru. Tak tanggung-tanggung, dari tulisan-tulisan Mbak Dee, saya membaca ada ketotalan dalam setiap katanya. Rasa total untuk berbagi, berbagi tentang apa saja, tentang ilmu kehidupan, juga tentang cinta.Saya juga salah seorang perempuan di Indonesia ini yang punya hobi menulis, dan beberapa tulisan saya sudah ada di media. Namun, saya tak ingin cepat puas. Saya ingin menulis dengan lebih baik lagi, dan dari karya Mbak Dee lah bisa saya jadikan untuk pemacu langkah saya berikutnya.Baru-baru ini saya membaca buku kumpulan cerpen Madre, dalam Madre saya menemukan banyak hal yang ternyata saya lewatkan begitu saja dalam hidup ini. Ternyata kehidupan ini memang tak bisa kita duga awal dan akhirnya, sejauh apapun kita melangkah, jika itu bukan jalan kita, maka kita justru akan dibelokkan ke jalan yang memang ditakdirkan untuk kita,Madre tak hanya sebuah biang adonan roti, namun di dalam Madre juga terdapat biang kehidupan. Tentang sebuah garis keturunan yang menjadi biang lahirnya keturunan selanjutnya, tentang kesetiaan yang menjadi biang semangat hingga berkembanglah cinta.Dari Madre pula, saya mendapat suatu arti kerja keras dan semangat. Karena dalam setiap pekerjaan yang tidak didasari dengan rasa cinta, semuanya akan berakhir sia-sia. Seperti cinta Tansen, Pak Hadi dan para pekerja toko roti pada Madre dan Tan de Bakker.Cerita ini merupakan cerita yang kompleks, seperti roti berisi aneka rasa, coklat, kacang, selai nanas, stroberi, juga keju yang baru keluar dari panggangan. Hmmm....nikmat, dari luar tidak terlihat rasanya, namun dari baunya akan tercium bahwa roti ini enak. Dan ketika sudah memakannya, akan ditemukan banyak rasa yang sunggung mengejutkan, namun lagi-lagi, nikmat.Begitulah, Mbak Dee. Pengalaman saya membaca Madre, dan terima kasih untuk semua cerita-cerita yang mengenyangkan dan membuat saya tersenyum juga rindu untuk melahapnya berulang-ulang. Terima kasih, Mbak Dee. Saya tunggu cerita-cerita Mbak Dee selanjutnya.Dari Richa Miskiyya, Untuk : Mizan.com (www.mizan.com)
Read More