Memetik Hikmah Kehidupan dari Para Pencari Tuhan

Jumat, Juni 17, 2016


Membincang tentang acara televisi kala Ramadhan tentunya tak akan lengkap jika tidak menyebut Serial ‘Para Pencari Tuhan’ yang sudah menemani waktu sahur masyarakat muslim Indonesia dari JILID 1 hingga JILID 9.

Tak bisa dipungkiri bahwa Serial Para Pencari Tuhan memang sudah mencuri perhatian pemirsa sejak pertama kali tayang di layar SCTV, tepatnya tanggal 16 September 2007. Para Pencari Tuhan serupa oase di tengah banyaknya acara sahur yang terlalu banyak canda tapi minim ajakan untuk lebih bertaqwa.

Deddy Mizwar dan tim produksi begitu jeli bagaimana meramu cerita dakwah yang tidak terkesan menggurui, namun tetap mampu diterima oleh pemirsa. Penempatan tokoh utama Bang Jack (Deddy Mizwar) sebagai marbot musholla menjadi daya tarik tersendiri, kisah kehidupannya yang menjadi ‘guru’ para mantan narapidana, Barong, Juki, Chelsea (Trio Bajaj) dalam mencari jalan kebenaran menjadi pemantik yang apik sebagai awal cerita.

Trio Bajaj yang notabene nya adalah pelawak di kehidupan nyata mereka menjadi sebuah pertanda bahwa serial ‘Para Pencari Tuhan’ adalah kisah dakwah dan kehidupan masyarakat yang disisipi dengan humor sehingga terasa ringan namun berisi.

Selain Trio Bajaj, ada pula tokoh Aya (Zaskia Adya Mecca), yang menjadi pioner hijaber muda di kalangan artis juga berhasil memikat pemirsa lewat aktingnya sehingga mampu menarik pemirsa di kalangan remaja dan dewasa muda.

 

Setiap Manusia Memiliki Sisi Kebaikan
Berbeda dari serial TV atau sinetron kebanyakan yang memiliki tokoh antagonis yang selalu diceritakan sebagai sosok yang jahat, penuh dendam, dan selalu ingin mencelakakan tokoh protagonis. Maka di sinetron Para Pencari Tuhan, tak ada tokoh yang benar-benar antagonis, meskipun ada beberapa tokoh yang kadangkala sifatnya menjengkelkan, namun ia tetap memiliki sisi baik.

Sebut saja Pak Jalal (Jarwo Kwat), seorang paling kaya di kampung yang seringkali memamerkan kekayaannya, tapi di sisi lain ia juga seseorang yang dermawan. Begitu juga dengan Pak RW yang kerap bertindak mencari keuntungan pribadi lewat jabatannya, akan tetapi ia tetaplah suami yang penuh cinta terhadap istrinya.  

Lewat para tokoh-tokohnya, ‘Para Pencari Tuhan’ seolah ingin menyampaikan bahwa setiap manusia tak ada yang sepenuhnya jahat, yang ada adalah mereka yang khilaf hingga akhirnya memilih jalan hidup yang salah, karena sesungguhnya setiap orang memiliki sisi baik, dan hendaknya kita melihat orang tak hanya dari satu sisi saja, tapi juga dari beragam sisi. 

Pemeran Para Pencari Tuhan Jilid 1 - Jilid 9 (Sumber: sctv.co.id)

Kisah Kehidupan Para Pencari Tuhan
Selama JILID 1 hingga JILID 9, bisa dikatakan ‘Para Pencari Tuhan’ menyajikan cerita yang kompleks lewat setiap tokoh dan cerita kehidupannya. Bang Jack, mantan Tukang Jagal yang kemudian beralih menjadi marbot musholla At Taufiq sekaligus penjual bunga menjadi sentral cerita, seolah ingin mengingatkan kita sebagai pemirsa bahwa kita seringkali lupa dengan masjid dan musholla, padahal lewat masjid dan musholla, dalam sehari, lima kali kita diseru untuk beribadah, akan tetapi kita seringkali tak acuh dengan seruan itu.
Trio Barong, Chelsea, dan Juki yang secara tak sengaja ‘terdampar’ di musholla At-Taufiq setelah bebas dari penjara, hingga akhirnya mereka mendapatkan jalan kebenaran dan hidayah untuk bertaubat.

Kehidupan orang kaya dan orang miskin pun ditampilkan lewat Pak Jalal sebagai orang terkaya yang tinggal di rumah megah dan Asrul sebagai orang miskin yang terus berusaha untuk bersyukur kepada Allah, juga Udin, hansip yang miskin dan sering tertimpa kesulitan karena ulahnya sendiri.  

Kemudian ada juga Aya, Azzam, dan Kalila, tiga sosok muda yang terus berusaha belajar untuk saling memahami, juga sosok Ustadz Feri (Akrie Patrio) yang menjadi gambaran sebagai ustadz kampung yang berusaha bertahan untuk terus menyebarkan kebaikan meski dihimpit kekurangan dalam perekonomian.

Tampilan para pemimpin pun diwakili oleh sosok Trio RW (Pak Idrus, Pak Hakim, dan Pak Yos) yang seringkali culas dan mencari celah untuk mengelabui warga demi keuntungan pribadi, menjadi sebuah sentilan bagi pemimpin negeri ini yang kerap lebih mementingkan perut sendiri.

Selain para tokoh-tokoh tetap yang hadir di setiap JILID ‘Para Pencari Tuhan’, kehadiran tokoh-tokoh baru juga membawa cerita kehidupan yang bisa menjadi pembelajaran. Seperti tokoh Baha (Tora Sudiro), sahabat Asrul yang hadir pada JILID 2 dan JILID 3, serta Domino (Alfie Alfandi) yang muncul pada JILID 8 dan JILID 9 sebagai keponakan Bang Jack, memberikan pembelajaran bahwa meski seseorang memiliki masa lalu yang buruk, akan tetapi mereka berhak untuk bertaubat dan mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Setiap tokoh dalam ‘Para Pencari Tuhan’ memang memberikan gambaran realita kehidupan, bagaimana setiap manusia memiliki cerita kehidupannya masing-masing juga masalahnya masing-masing, karena yang paling penting adalah tidak berputus asa dari rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Tak Hanya tentang Ramadhan
Meski hadir pada bulan Ramadhan, akan tetapi kisah ‘Para Pencari Tuhan’ lebih banyak menceritakan kisah dengan setting waktu di luar bulan Ramadhan. Apabila diputar ulang, ‘Para Pencari Tuhan’ mengambil setting waktu ramadhan hanya pada JILID 1 saja, sedangkan pada JILID-JILID selanjutnya lebih memilih untuk menggunakan setting waktu di luar bulan Ramadhan.

Kenapa begitu? Mungkin bisa jadi karena ‘Para Pencari Tuhan’ ingin mengambil lebih banyak sudut pandang cerita yang lebih puas, tidak hanya berkisar sahur, tarawih, buka puasa, dan zakat, karena sesungguhnya permasalahan manusia itu kompleks dan luas. Sehingga ‘Para Pencari Tuhan’ pun melebarkan setting waktunya agar bisa mengakomodir permasalahan dan gejala sosial lain yang sedang terjadi.

Seperti misalnya, pada JILID 6 ada sentilan tentang maraknya penggunaan facebook sehingga membuat masyarakat menjadi tidak produktif karena lebih banyak berinteraksi dan hidup di dunia maya. Juga pemaparan tentang gejala sosial dan politik lewat cerita Pemilihan RW baru pada JILID 7 yang berusaha menghadirkan miniatur PEMILU di Indonesia.  

Roda Kehidupan Para Pencari Tuhan
Kehidupan manusia itu seperti roda, kadang di atas, namun sewaktu-waktu bisa beralih ke bawah. Allah Maha Kuasa, bisa membolak-balikkan kehidupan manusia, seperti itulah hidup manusia yang coba digambarkan oleh ‘Para Pencari Tuhan’.

Pada awal cerita, Chelsea, Barong, Juki, adalah mantan narapidana yang mencari ilmu dan menempuh jalan taubat lewat bimbingan Bang Jack dan Ustadz Feri. Namun, roda kehidupan mereka berputar, hingga pada JILID 5 berhasil menjadi artis terkenal.  

Kemudian ada juga Pak Jalal yang sejak JILID 1 adalah orang kaya, pada JILID 4 diceritakan bahwa bisnis Pak Jalal bangkrut total hingga ia tak memiliki apa-apa lagi dan harus tinggal di gubuk yang dulu pernah ditinggali Asrul. Akan tetapi, dari hidupnya yang jungkir balik tersebut, Pak Jalal yang awalnya sedikit pongah mulai merenung hingga akhirnya berubah menjadi pribadi yang lebih zuhud.

Berbeda dengan Pak Jalal, Asrul yang awalnya miskin, pada JILID 4 berubah menjadi kaya lewat dagangan soto yang resepnya diwariskan oleh Baha (Tora Sudiro), sahabat Asrul yang telah meninggal pada JILID 3.
Namun, lagi-lagi roda kehidupan kembali berputar, pada JILID 6, perekonomian Pak Jalal mulai membaik, sedangkan Asrul justru bangkrut dan kembali jatuh miskin. Kisah tentang berputarnya roda kehidupan ini tentu saja mengingatkan kita bahwa ‘TIADA KEKUATAN SELAIN ALLAH’ dan kita harus selalu ingat 5 perkara sebelum 5 perkara (Hidup sebelum Mati, Kaya sebelum Mati, Muda sebelum Tua, Lapang sebelum Sempit, Sehat sebelum Sakit).

Cinta Romantis, Cinta yang Elegan
Hidup tentunya akan menjadi lebih berwarna dengan kehadiran rasa yang disebut cinta, begitu juga dalam ‘Para Pencari Tuhan’ yang tak luput dengan bumbu-bumbu kisah cinta yang dihadirkan.   

Berbeda dengan sinetron-sinetron lain yang mana romantisme kisah cinta anak manusia ditampilkan lewat adegan-adegan peluk cium antara yang bukan mahram. Maka, romantisme cinta dalam ‘Para Pencari Tuhan’ tampil dengan sopan dan elegan.

Meski tak ada adegan peluk cium, tapi kisah-kisah cinta tersaji apik, tak berlebihan, tak juga kurang, semuanya terasa pas namun tidak pasaran. Sebagaimana kisah cinta antara Aya dan Azzam yang mulai tumbuh sejak kanak-kanak, jiwa pantang menyerah Azzam yang terus mengejar Aya meski telah melamar tiga kali dan tiga kali pula ditolak, juga kecanggungan hati mereka yang harus melewati ujian kisah cinta segitiga dengan Kalila, hingga akhirnya mereka menikah.

Namun, kisah cinta mereka pasca pernikahan pun tak berjalan mulus, ada ujian tentang kehilangan buah hati, juga pertengkaran-pertengkaran yang membuat mereka saling memendam kesal sekaligus rindu.

Selain kisah cinta Aya dan Azzam yang rumit, ada pula kisah cinta Chelsea dan Marni, juga Barong dan Dara, dan tak lupa kisah cinta dalam usia puber kedua dihadirkan pada JILID 5 antara Bang Jack yang jatuh cinta dengan Bu Widya (Henidar Amroe), ibunda Azzam. Bang Jack meski telah bersusah payah mencuri perhatian Bu Widya, namun Bang Jack harus berlapang dada ketika Bu Widya memilih Om Wijoyo (Slamet Rahardjo).

Kisah-kisah cinta dalam ‘Para Pencari Tuhan’ tak hanya menampilkan perjuangan cinta, akan tetapi juga keikhlasan melepaskan orang yang dicintai demi melihat orang yang dicintai tersebut bahagia. Karena sesungguhnya Jodoh, Rezeki, dan Maut, adalah Kekuasaan Allah SWT.

Tak Sekadar Lewat Mimbar
‘Para Pencari Tuhan’ ini memang bisa dikategorikan sebagai serial atau sinetron Dakwah, karena tidak hanya bisa menjadi tontonan, akan tetapi juga tuntunan. ‘Para Pencari Tuhan’ sebagai sebuah tayangan di layar kaca memang menjadi media dakwah yang tepat bagi masyarakat di era teknologi saat ini, karena Dakwah bisa dilakukan lewat media apa saja, tak sekadar lewat mimbar.  

Menurut bahasa, Dakwah berarti ajakan, dan secara epistimologis, dakwah adalah proses komunikasi yang memiliki beberapa unsur, yaitu: 1. Dai (Penyampai Dakwah), 2. Mad’u (Penerima Dakwah), 3. Maddah (Materi Dakwah), 4. Wasilah (Media Dakwah), 5. Thariqah (Metode Dakwah).

Jika dilihat dari unsurnya, ‘Para Pencari Tuhan’ adalah tayangan televisi yang menjadi Wasilah atau Media dakwah, yang disampaikan oleh para kreator yang bergerak di belakang maupun depan layar untuk menyampaikan pesan dakwah masyarakat sebagai Mad’u.

Pesan-pesan dakwah atau materi dakwah pun tersaji apik lewat rangkaian cerita dari JILID 1 hingga JILID 9 yang mana memberikan teladan serta contoh kebaikan lewat peran-peran dalam kisah tersebut. Hal ini sejalan dengan surat Al Quran tentang dakwah yaitu Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk(QS. An Nahl : 125).

Semoga ke depannya ‘Para Pencari Tuhan’ tetap bisa menebarkan kebaikan, menjadi pioner sinetron religi yang tak hanya menjadi tontonan, tapi juga tuntunan yang selalu dinantikan pemirsa saat Ramadhan tiba. (*)
Read More

Menepis Bimbang tentang Dunia Tambang

Jumat, April 29, 2016


Judul Buku      : Buka-Bukaan Dunia Tambang
Penulis             : Peserta ‘Sustainable Mining Bootcamp’
Penerbit           : Pastel Books
Halaman          : 190 halaman
Tahun              : Cetakan I, Februari 2016
ISBN               : 978-602-0851-31-0

Berbicara tentang dunia tambang, seringkali yang terbersit dalam pikiran masyarakat adalah tentang suatu kegiatan mengeksploitasi alam besar-besaran, mengambil emas, batu bara, tembaga, nikel, dan beragam hasil alam lain tanpa mengindahkan keberlangsungan kehidupan di sekitarnya. 

Dunia tambang memang kerap diidentikkan dengan perusakan alam dan ketidakpedulian lingkungan, hal ini terjadi juga karena banyaknya perusahaan tambang yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, perusahaan tambang juga seringkali diasumsikan sebagai perusahaan eksklusif yang mana hanya para pekerja tambang saja yang berhak untuk masuk ke area tersebut.

Namun, semua deskripsi, asumsi, dan penceritaan tentang dunia tambang yang negatif tersebut akan terpatahkan oleh kisah-kisah dalam buku Buka-Bukaan Dunia Tambang yang ditulis oleh para peserta Sustainable Mining Bootcamp atau disebut juga Newmont Bootcamp.

Sustainable Mining Bootcamp sendiri adalah suatu program yang diadakan oleh perusahaan tambang Newmont, baik itu PT. Newmont Minahasa Raya (NMR), maupun PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT).
Program ini sendiri merupakan suatu program rutin yang diadakan oleh PT Newmont setiap tahunnya, dan pada tahun 2015, sudah masuk ke Newmont Bootcamp angkatan 4.

Mengenal Dunia Tambang Lebih Dekat
Buku yang terdiri dari 31 tulisan terpilih peserta Bootcamp angkatan 1 hingga angkatan 4 ini bisa dikatakan sebagai jendela baru bagi masyarakat luas untuk lebih memahami dan mengenal lebih dekat dengan dunia tambang.

Beragam sudut pandang penulis yang berpadu dalam buku terbitan Pastel Books ini serupa dinding-dinding transparan sebuah rumah, sehingga masyarakat bisa melihat dunia tambang dari beragam sisi tanpa asumsi.
Selama beberapa hari para penulis yang juga peserta bootcamp diajak untuk mengenal lebih dalam perihal dunia tambang, bukan hanya tentang industri tambang dengan beragam alat-alat berat nan canggih, akan tetapi juga tentang kondisi wilayah lingkar tambang untuk mengetahui dampak-dampak sosial masyarakat di sekitar perusahaan. 

Kisah-kisah nyata yang dipandang dari ‘kacamata’ akademis dan humanis pun bergulir tanpa ada yang ditutup-tutupi dan disembunyikan. Ada banyak sisi lain dari dunia tambang yang diceritakan dalam buku ini, khususnya tentang daerah lingkar tambang yang semakin lama semakin berkembang karena adanya dukungan perusahaan tambang. 

PT. Newmont Nusa Tenggara sendiri berlokasi di Batu Hijau, sebelah barat daya Pulau Sumbawa. Batu Hijau adalah tambang terbuka, yang mana semua mineral berharga yang mengandung unsur tembaga, emas, serta perak ditambang dari permukaan tanah dengan menggunakan beragam alat tambang.

Seperti halnya perusahaan lain, PT Newmont Nusa Tenggara dan PT. Newmont Minahasa Raya memiliki dana CSR (Corporate Social Responsibility) yang digunakan untuk kepentingan masyarakat sekitar wilayah tambang. 

Tujuan utama PT NNT membuat program pengembangan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar melalui pembangunan ekonomi berkelanjutan. Selain itu, pengembangan Sumber Daya Manusia dan mereduksi dampak sosial yang bersifat negatif terhadap keberadaan tambang (halaman 28).

PT NNT menitikberatkan lima nilai utama dalam pengembangan masyarakat, yaitu dalam bidang Kesehatan Masyarakat dengan Pembangunan Puskesmas, Pengembangan Pendidikan dengan pemberian beasiswa, Pengembangan Ekonomi dengan program pertanian usaha lokal, Pengembangan Usaha Lokal, serta Pembangunan Infrastruktur (halaman 30). 

Jika masyarakat sekitar mulai berkembang sosial kemasyarakatannya, lalu bagaimana dengan kondisi alam di sekitar tambang? Masihkah ada perusahaan tambang di Indonesia yang peduli tentang reklamasi area bekas tambang? 

Lewat buku setebal 190 halaman ini, PT Newmont menjawab hal tersebut, bahwa perusahaan ini merupakan satu dari segelintir perusahaan yang mampu bertanggung jawab terhadap lingkungan yang telah dieksplore. 

Foto reklamasi bekas area tambang menjadi hutan rindang (Dok.Pribadi)
Hal ini bisa dilihat dari foto-foto reklamasi area bekas tambang PT Newmont Minahasa Raya yang termaktub dalam buku ini, yang mana pada tahun 2002 area bekas tambang masih berupa lahan gersang, namun setelah direkalamasi, pada tahun 2014, lahan area bekas tambang bisa kembali menghijau dengan kerindangan pepohonan yang menyejukkan mata. 

Pesan Kehidupan dan Kemanusiaan dari Area Tambang
Perusahaan di area tambang dan sekitarnya kerap dipandang sebagai sebuah perusahaan dengan kehidupan yang keras, sibuk, serta gersang karena setiap saat harus berkutat dengan debu dan batu.

Kehidupan di dunia tambang memang keras, namun bukan berarti tak ada pesan kehidupan dan kemanusiaan yang dapat disampaikan, beberapa di antaranya lewat tulisan-tulisan para peserta bootcamp yang berbicara tentang rasa toleransi serta semangat mengabdi dan membangun negeri.

Lewat kacamata humanis, seorang Dzulfikar Al A’la membuka pikiran pembaca melalui tulisannya berjudul ‘Para Pencari Tuhan di Area Tambang’ yang mana pembaca diajak untuk melihat sisi lain dari perusahaan tambang, yang mana toleransi begitu berperan penting dalam kehidupan sehari-hari para pekerjanya.

Wajah-wajah teduh dengan jenggot memanjang dan celana cingkrang bukan lagi hal yang aneh di area tambang. Dahi yang menghitam dan sudut mata yang keriput terlihat dari wajah-wajah teduh para pekerja tambang. Mereka bekerja tanpa membawa bendera ormas ataupun aliran madzhab. Suara adzan juga tidak disetting ke arah penginapan atau asrama pekerja agar tidak mengganggu para pekerja non-Muslim yang istirahat saat subuh atau malam hari (halaman 56-57).

Semangat untuk mengabdi dan membangun negeri pun disebarkan PT. Newmont lewat program-program pemberdayaan masyarakat agar mereka bisa lebih berkembang dengan atau tanpa PT Newmont karena tambang adalah sumber daya alam yang tak bisa diperbaharui sehingga masyarakat harus bisa mempersiapkan diri sejak dini untuk mandiri. Beberapa di antaranya lewat pelatihan keterampilan, pendirian bank sampah, pendirian lumbung padi, dan ragam program CSR lainnya. 

Program CSR PT Newmont

Sustainable Mining Bootcamp ini bukanlah usaha untuk menutupi keburukan dan menampakkan kebaikan perusahaan tambang, karena program ini justru menjadi titik instrospeksi perusahaan lewat tulisan-tulisan humanis kritis yang disampaikan oleh peserta bootcamp. Seperti yang disampaikan Juwairiyah dalam tulisannya, “Sudah beberapa kali mengunjungi perusahaan lain, saya berani mengatakan bahwa program SMB ini berbeda. Saya benar-benar bisa melihat apa yang ingin saya lihat dan saya bebas bertanya apa pun yang bebas saya tanyakan tanpa ada yang ditutup-tutupi.” (halaman 117).

Tak hanya pesan tentang kemanusiaan dan pengabdian pada negeri, tapi dalam buku ini juga sarat akan pesan bahwa dalam kehidupan ada keterikatan hubungan yang erat antara manusia dan alam, maka selama alam dijaga maka tak perlu ada bimbang ketika membincangkan dunia tambang.(*) - Richa Miskiyya

Read More

Tampil Mempesona dengan Koleksi Busana Muslim Pesta di Zalora

Minggu, April 17, 2016


Tak ada perempuan yang tak ingin tampil cantik, semua perempuan tentunya ingin tampil mempesona dan sempurna, terlebih di acara istimewa, seperti pernikahan, ulang tahun, pesta promnight, dan beragam acara penting lainnya. 

Saat mendapat undangan pesta, meski acara pesta tersebut masih satu bulan lagi, kita pasti akan mempersiapkan penampilannya jauh-jauh hari, dan salah satu persiapan yang memakan cukup banyak waktu adalah ‘Busana Pesta’.

Kalimat ‘Gak punya baju buat dipakai’, padahal ada banyak baju yang ada di lemari tentunya seringkali diucapkan oleh kita saat menentukan baju mana yang akan dikenakan saat pesta nanti. Sebagai seorang perempuan, kita sering memiliki pemikiran bahwa tak ingin mengenakan busana pesta yang sama di beberapa acara, kalaupun ingin mengenakan busana pesta yang sama, tentunya bukan dalam acara pesta di lingkungan atau undangan yang sama. Meski kesannya ribet, tapi begitulah seorang perempuan, selalu ingin tampil istimewa dan menjadi pusat perhatian. 

Ada banyak ragam pilihan untuk mendapatkan busana pesta, ada yang menyewa, meminjam dari saudara, atau langsung memesan ke desainer atau membuat di penjahit langganan agar hasil busana pesta sesuai dengan keinginan dan harapan. Terlebih perkembangan tren busana saat ini berlangsung begitu cepat. Tak perlu menunggu satu tahun, bahkan dalam hitungan satu atau dua bulan, sudah ada tren busana baru.  

Salah satu tren busana yang saat ini berkembang di Indonesia adalah tren busana muslim. Sejak beberapa tahun terakhir, busana muslim memang mengalami perkembangan pesat di Indonesia, jika sepuluh tahunan lalu, orang yang mengenakan hijab masih begitu sedikit, namun saat ini, semakin banyak perempuan Indonesia yang sadar akan kewajiban menggunakan hijab.

Menggunakan hijab bukan berarti tidak bisa tampil cantik saat pesta? Apalagi dengan kemajuan teknologi, tak perlu keliling Mall atau keliling toko kain agar bisa memiliki busana pesta muslimah yang cantik dan tetap syar’i. Tinggal klik situs belanja online, maka semua akan beres.  

Apabila bingung mencari situs belanja online terpercaya mana yang sekiranya menyediakan busana muslim pesta, saya merekomendasikan anda untuk mengunjungi Zalora Indonesia, karena banyak koleksi busana muslim pesta di Zalora Indonesia yang bisa anda pilih. 

Koleksi Busana Muslimah Pesta Zalora Indonesia

Ada beragam tampilan busana pesta untuk muslimah yang ditawarkan Zalora, kita dapat memilih dari busana yang tradisional etnik dengan sentuhan khas kain Indonesia, atau busana pesta yang modern ala timur tengah dengan gaya kaftan yang elegan. 

Busana pesta untukMuslimah di Zalora pun bisa dikenakan oleh wanita muda dan dewasa dan berasal dari berbagai brand yang berkualitas sehingga nyaman untuk dikenakan serta Zalora juga memberikan harga produk yang bersaing, sepadan dengan kualitasnya. 

Zalora Indonesia memang bisa menjadi tempat yang tepat untuk berbelanja online, bukan hanya karena produk yang ditawarkan berkualitas dan cocok dengan selera konsumen, tapi sistem pembeliannya pun aman dan nyaman, pengiriman gratis dan apabila barang tidak sesuai maka ada waktu 30 hari untuk pengembalian barang dan refund. Masih pusing cari busana muslimah untuk ke pesta? Ke Zalora Indonesia saja ^_^. (*)

Read More

Merangkai Asa dalam Pesona Bumi Sriwijaya

Minggu, Februari 21, 2016

Setiap orang memiliki impian, begitu juga dengan saya, dan salah satu impian terbesar saya adalah bisa menjelajah negeri tercinta, Indonesia. Impian ini begitu tertanam kuat, baik dalam hati maupun pikiran saya. Perlahan tapi pasti, impian saya untuk menjelajah Indonesia pun mulai terwujud, meski baru Pulau Jawa, Pulau Bali, dan Pulau Kalimantan, akan tetapi saya memiliki keyakinan bahwa jika saya percaya dan tetap berusaha meraih impian itu, maka semesta pun akan ikut berdoa hingga Tuhan akan mewujudkannya.

Setiap kali datang ke sebuah daerah, selalu ada kebahagiaan yang tak terhingga di hati saya serupa menemukan harta karun yang tak ternilai harganya, tentang budaya yang memikat dan mengikat hati saya dengan erat, tentang resep masakan turun temurun yang lezat, juga  tentang pelajaran kehidupan dari masyarakat setempat.

Selama beberapa tahun terakhir, saya banyak berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai macam daerah dengan ragam profesi, seperti blogger, traveller, juga penulis buku. Dari mereka saya mendapatkan ragam kisah tentang keindahan alam dan budaya Indonesia. Salah satu dari ragam kisah mereka yang berhasil memikat saya untuk segera datang ke sana adalah kisah tentang Bumi Sriwijaya.

Imajinasi saya tentang Bumi Sriwijaya pun semakin membubung tinggi tatkala saya membaca novel berlatar tanah Sumatera Selatan yang kemudian diangkat menjadi sebuah film bertajuk ‘Ada Surga di Rumahmu’. Saat itulah saya yakin bahwa saya pun akan menemukan potongan keindahan dan kedamaian serupa surga di Bumi Sriwijaya.

Ada banyak tempat di Sumatera Selatan yang selalu menjadi impian dan asa saya sejak lama, dan berikut ini adalah tempat-tempa yang menjadi bagian dari doa-doa di bibir dan hati agar saya bisa segera datang ke sana. 

1.    Jembatan Ampera dan Sungai Musi yang Menawan Hati   

Jembatan Ampera dan Sungai Musi

Datang ke Sumatera Selatan tentunya belum lengkap jika tak datang ke Jembatan Ampera dan Sungai Musi. Ya, Jembatan Ampera dan Sungai Musi serupa detak jantung dan denyut nadi bagi daerah yang beribukota di Palembang ini. 

Bagi saya, Jembatan Ampera dan Sungai Musi seperti sepasang kekasih yang begitu romantis, yang mana cahaya cinta mereka betebaran ke hati setiap orang yang berada di dekatnya.

Jembatan Ampera dan Sungai Musi begitu setia membahagiakan setiap orang yang ingin melihatnya. Kala siang, Jembatan Ampera akan terlihat kokoh membentang, dan Sungai Musi menyimpan arus yang tenang. Sedangkan kala malam, Jembatan Ampera terlihat indah dengan cahaya lampu yang terpancar sempurna, dan Sungai Musi terlihat anggun dengan ketenangan yang bijaksana. 

2.    Kampung Arab Al Munawar yang Bersinar dalam Kedamaian

Kampung Arab Al Munawar

Setiap daerah biasanya memiliki kampung arab, begitu juga dengan di Sumatera Selatan, akan tetapi Al Munawar begitu berbeda dan tak biasa, saya memiliki impian dapat berjalan di antara bangunan dan rumah-rumah tua yang menyimpan sejarah dan menjadi saksi lahirnya ragam generasi. 

Apabila datang ke Kampung Arab Al Munawar, tentunya sungguh sangat membahagiakan jika bisa mendengar lagu gambus sebagai pengiring gerak zavin, dimana kita bisa merasakan kaki yang menari dan kedamaian yang perlahan menelusup di hati.

Kampung Arab Al Munawar memang bukanlah kampung biasa, karena di dalamnya tersimpan kedamaian, kebijaksanaan, juga keteguhan untuk terus mempertahankan kebudayaan yang telah berakulturasi menjadi suatu budaya yang tak lekang oleh zaman. 

3.    Rumah Adat Limas yang Kokoh dalam Keselarasan

Rumah Adat Limas
Setiap kita belanja atau bertransaksi perdagangan, kita tentunya seringkali menggunakan uang pecahan sepuluh ribu rupiah. Namun, sadarkah kita bahwa gambar pada bagian belakang di lembaran uang tersebut adalah rumah Limas, rumah adat masyarakat Sumatera Selatan. 

Saya ingin sekali berkunjung ke Rumah Limas, saya ingin belajar tentang perpaduan budaya Jawa yang melekat pada kokohnya Rumah Limas, lewat kokohnya atap  Rumah adat ini menjadi tanda bahwa adanya budaya berbagai suku bangsa yang menyatu, berpadu dalam kedamaian dan keselarasan.  

4.    Pulau Kemaro, Lambang Cinta dan Kesetiaan

Pulau Kemaro
Hidup dalam cinta dan kesetiaan tentunya menjadi harapan setiap orang, begitu juga dengan saya. Tak hanya belajar dari pengalaman diri sendiri, namun saya pun ingin belajar tentang cinta dan kesetiaan dengan berkunjung ke Pulau Kemaro, lewat kisah Putri Fatimah dan Pangeran Tan Bun An. 

Saya ingin datang bersama pasangan ke pulau ini yang mana konon bisa menjadikan sejatinya kisah cinta hingga maut memisahkan. Di Pulau Kemaro ini selain terdapat pagoda, klentheng, serta makam yang dibangun untuk Putri Fatimah dan Pangeran Tan Bun An, sebenarnya juga terdapat pembelajaran bahwa cinta sejati tidaklah memandang perbedaan adat dan budaya, karena cinta adalah kesesuaian jiwa, dan kesetiaan untuk selalu bersama sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Pangeran Tan Bun An dan Putri Fatimah, kekasihnya. 

5.    Pusat Tenun Songket yang Memikat

Menenun Songket
Jika Jawa memiliki Batik dan Batak memiliki Ulos, maka Sumatera Selatan memiliki kain songket. Sebuah kain yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan. 

Saya adalah pecinta kain nusantara, dan setiap datang ke suatu daerah, salah satu hal yang tidak pernah saya lewatkan adalah berburu kain khas daerah tersebut. 

Ada beragam jenis batik dan tenun yang sudah saya miliki, namun hingga saat ini ada satu jenis kain yang begitu memikat namun belum saya dapatkan, yaitu kain Songket. Maka dari itu, apabila saya bisa berkunjung ke Sumatera Selatan, saya sangat ingin berkunjung ke Pusat Tenun Songket, saya ingin melihat melihat ketekunan para penenunnya, dan belajar tentang ketelitian, kesabaran, dan rasa cinta pada budaya hingga bisa menghasilkan kain-kain yang indah dan memikat. 

Itulah 5 (lima) tempat impian yang sangat ingin saya datangi apabila saya bisa datang berkunjung ke Sumatera Selatan. Tempat-tempat yang penuh dengan sejarah, budaya dan pesona bumi Sriwijaya yang menyimpan mimpi-mimpi saya untuk bisa datang ke sana. (*) - Richa Miskiyya

Sumber Foto :
Jembatan Ampera : bit.ly/1QshmMC
Kampung Arab Al Munawar : bit.ly/20NXpFX

Rumah Adat Limas : bit.ly/1WBhiPm
Pulau Kemaro : bit.ly/1Q2Zrgj

Menenun Songket : bit.ly/1XG8SYf


Read More