Dua Sisi Mangrove dan Trembesi, Dari Manfaat Ekologi hingga Ekonomi

Selasa, September 29, 2026

Alam memiliki banyak rahasia yang belum kita ketahui, seperti pepohonan tertentu yang ternyata daunnya bisa menjadi obat, atau biji buah pepohonan yang ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan pangan. 

‎Berbagai penelitian juga warisan budaya turun temurun, membuat masyarakat kita sekarang menjadi lebih paham tentang rahasia hayati yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan. Tapi, satu hal yang perlu diingat, keberadaan alam tentunya harus dimanfaatkan secara bijak dan tidak boleh serampangan. Jangan sampai kita menjadi manusia egois yang mengeksploitasi alam secara serampangan.


‎Dengan merawat alam secara bijak, sama artinya kita mewariskan kebaikan bagi anak cucu kita di masa depan. Apalagi saat ini perubahan iklim menjadi PR besar untuk kita, peran kita sebagai anggota komunitas masyarakat tentunya harus bisa menekan ego agar tidak ada keserakahan yang merajai langkah hidup kita.

‎Misi ini tentu sejalan dengan akan diadakannya Bangkok Climate Action Week pada 3-11 Oktober 2026. Acara ini adalah pertemuan regional tahunan di kawasan Asia Tenggara yang menghubungkan masyarakat sipil, komunitas, pelaku kreatif juga pihak swasta dalam menghadapi perubahan iklim. 

‎Perubahan iklim memang perlu menjadi perhatian bersama, apalagi jika berkaitan juga dengan ketahanan pangan di masyarakat. Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Untuk hal ini, kita bisa belajar pada masyarakat Friwen, Raja Ampat.

‎Ketahanan Pangan Berbasis Mangrove di Raja Ampat

‎Selama ini, kita mengenal Raja Ampat sebagai objek wisata yang namanya sudah mendunia, banyak turis, baik lokal maupun internasional yang datang ke Raja Ampat untuk menikmati keindahan alamnya. 

‎Pada 25 September 2026 lalu, saya mendapatkan kesempatan mengikuti webinar bersama Eco Blogger Squad, The Asia Foundation dan Kawan Pesisir Raja Ampat bersama Daniel Kbarek (Program Officer TAF) dan Steve (Program Manager PKPRA). Dalam kesempatan tersebut banyak dijelaskan mengenai manfaat mangrove bagi kehidupan masyarakat Papua, khususnya di Raja Ampat.


‎Mangrove yang banyak tumbuh di area pesisir selama ini dikenal luas hanya sebagai tanaman penjaga pantai dari abrasi. Padahal, manfaat mangrove lebih besar dari itu. 

‎Akar mangrove yang berongga dan terlihat rumit ternyata bisa menjadi tempat berlindung serta pemijahan untuk berbagai spesies laut di perairan Papua. Daun-daun mangrove yang berguguran menjadi detritus yang bernutrisi dan akhirnya menjadi makanan bagi para plankton. 

‎Mangrove juga memiliki manfaat untuk menyaring polutan sehingga air terjaga kejernihannya. Habitat mangrove yang terjaga tentunya menjadikan keberadaan dan jumlah ikan semakin meningkat, sehingga bisa menjadi sumber pangan bagi masyarakat pesisir. 

‎Namun, perubahan iklim berimbas juga hingga masyarakat pesisir, air laut yang meningkat merupakan ancaman bagi tempat pemijahan ikan, pola produksi pangan yang terganggu, hingga kualitas sumber daya air yang menurun. 

‎Lalu, bagaimana dengan sumber pangan masyarakat Raja Ampat? Selain memanfaatkan hasil laut, masyarakat di Raja Ampat juga berhasil memanfaatkan mangrove sebagai sumber bahan pangan. 

‎Ketika mangrove menjadi sumber kehidupan dan penghidupan bagi masyarakat Kampung Friwen, maka hal ini tentunya perlu dikelola dengan cara yang lebih baik dan higienis, seperti pemberian pelatihan, meningkatkan standar kualitas, packaging hingga pemasaran. 

‎Mangrove Sebagai Bahan Pangan dan Peran Strategis Perempuan

‎Perempuan di Kampung Friwen memiliki peran strategis dalam upaya peningkatan produksi olahan mangrove. 

‎Mangrove memang menjadi napas kehidupan bagi masyarakat pesisir, oleh karena itu keresahan pun meningkat tatkala terjadi degradasi hutan mangrove akibat pengambilan kayu-kayunya sebagai bahan baku homestay dan resort. 

‎Salah satu wilayah yang terdampak degradasi adalah wilayah adat mangrove Doredor. Tahun 2019, tingkat kerusakan mangrove mencapai 57% atau setara 133 ha. Tak mau tinggal diam, pada 2022, selain melakukan restorasi mangrove, masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Mangrove Friwen Yenbeser mengajukan usulan hutan desa di hadapan sekjen KLHK saat itu, Dr. Ir Bambang Hendroyono yang kemudian disetujui dan turun SK LHK di tahun 2024 berupa pengelolaan kawasan untuk hutan lindung seluas 1025 Ha. 

‎Pengelolaan KUPS (Kelompok Usaha Perhutanan Sosial), 80% nya adalah perempuan. Pengelolaan KUPS ini terbagi menjadi 4, yaitu KUPS pengelolaan mangrove, KUPS Agroforestry, KUPS Kerajinan Tangan, Kelompok Patroli dan Pokja Perempuan Perlindungan Mangrove. 



‎Mangrove yang dimanfaatkan dan diolah kemudian menjadi tepung mangrove, biskuit mangrove, keripik mangrove, selai mangrove dan ada juga yg diolah menjadi sabun cuci tangan, yang akhirnya olahan tersebut bisa menjaga kestabilan bahan pangan bagi masyarakat. 

‎Trembesi, Penghalau Polusi dan Sumber Pangan Bergizi

‎Mempelajari tentang manfaat ganda mangrove, dari sisi ekologi serta ekonomi, mengingatkan saya pada pohon Trembesi. 

‎Di masa kecil saya, di pinggir jalan raya dekat rumah, tumbuh pohon yang sangat besar sekali, tajuk-tajuknya meneduhkan pejalan di bawahnya. Saat itu saya tak tahu apa nama pohon itu, yang saya tahu, ada rasa kehilangan tatkala pohon besar itu ditebang. 

‎Bertahun-tahun kemudian, barulah saya tahu, nama pohon besar itu adalah Trembesi. Trembesi berasal dari Benua Amerika, sering juga dikenal dengan nama Pohon Hujan, Ki Hujan, Munggur dan termasuk dalam genus Albizia (Albizia Saman). 

‎Secara ekologi, pohon Trembesi bermanfaat sebagai penyerap karbon yang sangat efektif. Menurut penelitian, Pohon Trembesi mampu menyerap karbon hingga 28,5 ton/pohon/tahun. Akar pohon ini juga bisa menyerap air tanah dengan cukup kuat sehingga mampu mengeluarkan tetesan air. 

‎Dalam salah satu cerita hidup saya, Trembesi memang punya kenangan tersendiri. Di mana saya dan almarhum Abah menghabiskan waktu bersama sambil memunguti buah-buah Trembesi yang jatuh ke tanah. 


‎Kami kemudian mengupas buah-buah Trembesi dan muncul biji-bijinya yang biasa kami sebut Mindik/Godril. Ummi kemudian akan menyangrai biji-biji Trembesi itu untuk kemudian di makan. Ah, rasanya baru kemarin, di mana kenangannya begitu lekat, bahkan aroma biji Trembesi yang telah disangrai ini itu masih terasa dekat. 

‎Biji Trembesi yang telah disangrai dan dibuat tepung ternyata juga mempunyai kandungan protein yang cukup besar,yaitu 44,4% / 100 gram. Hal ini berdasarkan pada uji laboratorium Balitbang Industri Semarang (2017). 

‎Daun Trembesi bisa digunakan juga untuk pengobatan anti bakteria. Berdasarkan penelitian yang tercantum dalam Indonesia E-Journal of Applied Chemistry, volume 4, tahun 2016, ekstrak daun Trembesi dapat menghambat tumbuhnya mikroba tuberkulosis.

‎Dan yang terbaru, 2 siswi SMA Kharisma Bangsa berhasil meneliti bahwa tempe yang terbuat dari biji Trembesi atau Tempe Godril berpotensi atasi diabetes. Hal ini karena tempe Godril memiliki kandungan antioksidan serta efek hipoglemik (menurunkan kadar gula darah). 



‎Itu dia penjabaran tentang dua sisi Mangrove dan Trembesi, baik itu dari sisi ekologi maupun ekonomi. Jangan lupa juga untuk selalu #merawatmimpi dan #menumbuhkaninspirasi. #JagaMangroveJagaRajaAmpat, semoga bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan tentang hasil alam Indonesia.(*)


Sumber:

- Webinar Eco Blogger Squad X TAF, 25 September 2026

- lindungihutan.com

- website disperkim Kota Semarang

- Instagram: @kamusmahasiswa


Posting Komentar