Kebakaran hutan dan lahan masih menjadi kecemasan bagi masyarakat Indonesia beberapa bulan terakhir. Asap pekat dan kondisi udara yang buruk, tak hanya menyebabkan tersendatnya aktivitas, namun juga sudah mengancam kesehatan. Lalu, sebenarnya apa yang menjadi penyebab Karhutla ini? Dan benarkah berdampak pada sumber pangan kita juga?
![]() |
| Created with canva |
Jumat, 16 Oktober 2026, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti webinar bersama #ecobloggersquad (@ecobloggersquad), Yoga Apriliano (@pantaugambut) dan Ahmad Arif (Jurnalis Kompas)
Kebakaran yang terjadi beberapa bulan terakhir di beberapa wilayah Indonesia bukan hanya kebakaran hutan saja, namun juga kebakaran lahan gambut yang mana apinya sulit dipadamkan. Kenapa bisa begitu?
Mengenal Lahan Gambut
Lahan gambut merupakan lahan basah yang terbentuk dalam kurun waktu lama dari akumulasi beragam organik yang tidak membusuk secara sempurna. Gambut tropis tersebar di beberapa pulau di Indonesia dengan luas 24,2 juta ha KHG (Kesatuan Hidrologis Gambut) , seperti Sumatra, Kalimantan, dan Papua.
Gambut memiliki kontur atau lapisan yang unik, di mana ia cenderung basah dan mirip spons yang bisa menyerap air dengan baik. Bahkan, gambut mampu menyerap 100% hingga 1.300% air dibanding bobot keringnya.
Gambut juga mampu menyimpan karbon tinggi hingga 18-60% bobotnya, tingkat keasaman lahan gambut juga tinggi sehingga kesuburannya terbilang rendah jika dibandingkan tanah mineral sehingga hanya beberapa jenis tumbuhan yang bisa tumbuh serta hidup di lahan gambut.
Rusaknya Lahan Gambut
Lahan gambut yang basah dan penuh air, tidak cocok untuk ditanami pepohonan. Sehingga perlu dikeringkan terlebih dahulu. Untuk mengeringkannya, kanal-kanal dibangun agar permukaan air di lahan gambut menurun, sehingga bisa ditanami tanaman perkebunan seperti akasia dan sawit.
Sayangnya, kanalisasi ini dilakukan secara berlebihan sehingga merusak lahan gambut. Jika dihitung, total panjang kanal mencapai 281.253,51 km, yang tersebar di Sumatra, Kalimantan dan Papua.
![]() |
| Materi EBS x Pantau Gambut |
Lahan gambut bukanlah lahan tidak berguna, #PeatLandIsNotWasteland. Gambut yang telah dirusak dengan adanya kanal-kanal, membuat gambut menjadi kering dan rentan terbakar. Berdasarkan data dari Pantau Gambut tahun 2023, ada 16 juta ha dari 24,2 juta ha KHG Gambut rentan terbakar.
Bisa kita lihat dari beragam pemberitaan seputar Karhutla, selama beberapa bulan, kebakaran belum tertangani dengan baik dan semakin parah asap yang ditimbulkan. Asap yang pekat ini menjadi bukti dari akibat terbakarnya lahan gambut. Gambut yang terbakar akan lebih sulit dipadamkan karena ada bara api di bagian bawah gambut.
El Nino Penyebab Karhutla?

Materi Webinar EBS x Pantau Gambut
Apa benar Karhutla disebabkan oleh El Nino? Jawabannya, Tidak. Ada beberapa penyebab kenapa karhutla terjadi, seperti lahan gambut yang kering, pembukaan lahan dan pembakaran lahan, sedangkan adanya El Nino hanya sebagai faktor pendukung saja.
![]() |
| Created with canva |
Seandainya gambut tidak dikeringkan secara besar-besaran, tentunya banyak lahan gambut yang bertahan pada ekosistem alaminya yang basah serta tergenang air. Sehingga air tersebut bisa menghalau api dan tidak menjadi bara di bawah tanah.
Efek Kerusakan Gambut pada Ekosistem
Selain kerusakan gambut yang sulit ditangani setelah dikeringkan. Gambut yang kering juga akan membuat mineral pirit yang terkandung di dalamnya bersentuhan dengan oksigen. Adanya oksidasi pirit bisa menghasilkan asam sulfat dan asam sulfida sehingga tanah menjadi sangat asam.
Tanah yang asam bisa terlarut ke aliran kanal-kanal di lahan gambut dan mengalir ke sungai besar. Hal ini bisa menyebabkan keracunan bagi tanaman dan binatang-binatang di ekosistem tersebut.
Food Estate, Solusi atau Ironi?
Selain pengubahan hutan dan lahan gambut menjadi perkebunan sawit, ada pula pembukaan lahan baru yang kemudian diubah menjadi proyek food estate dan cetak sawah.
Food estate merupakan usaha pemerintah untuk mengembangkan pertanian, perkebunan. Hingga peternakan untuk menghasilkan pangan. Namun, ternyata proyek ini tidak bisa menjadi solusi ketahanan pangan, namun justru malah memperparah krisis iklim dan krisis pangan karena kegagalan proyek tersebut.
Saat ini juga terjadi gastrokolonialisme, di mana penjajahan dilakukan lewat pangan yang diproduksi dan didistribusikan oleh perusahaan besar yang kemudian menggantikan pangan tradisional masyarakat lokal. Maka tidaklah heran, jika di Papua saat ini terdapat fenomena nasi kosong.
Proyek cetak sawah di Merauke juga menjadi salah satu kesalahan yang seharusnya tidak dilakukan. Masyarakat adat yang selama ini bergantung pada komoditas pangan hutan seperti sagu dan hewan buruan. Tetapi hutan yang ada justru diubah menjadi area persawahan, sedangkan masyarakat adat di sana tidak bisa mengolah sawah, dan akhirnya masyarakat Papua pun mengenal nasi serta mi instan yang akhirnya menjadi candu karena rasanya yang manis dan berbumbu.
Perubahan pola konsumsi ini tidak hanya terjadi di Papua saja, tapi hampir di seluruh Indonesia. Jika dulu, di masa 90an, ada pertanyaan soal IPS, apa makanan pokok masyarakat Papua/Irian, maka tanpa ragu akan kita jawab dengan sagu. Tapi sekarang di tanah itu justru ada proyek cetak sawah untuk ditanami padi. Bukankah ini pola penyeragaman pangan?
Berdasarkan data dari Bapanas (2023) dalam materi yang disampaikan oleh Ahmad Arif pada Acara Webinar Eco Blogger Squad X Pantau Gambut, bahwa telah terjadi perubahan pola konsumsi pangan di wilayah timur Indonesia. Jika pada tahun 2009, konsumsi masyarakat wilayah Indonesia Timur masih cukup beragam dengan adanya ubi jalar, ubi kayu, beras, dan sagu. Namun di tahun 2020, keragaman pangan mulai menurun dan sumber pangan yang mendominasi adalah beras dan terigu.
![]() |
| Materi Webinar EBS x Pantau Gambut |
Pada awal tahun 2026, Presiden Prabowo mengumumkan tercapainya swasembada pangan tahun 2025. Hal ini menjadi ironi, karena sebetulnya bukan swasembada pangan yang dicapai, melainkan hanya swasembada beras.
Dan Indonesia juga mengimpor kurang lebih 11juta ton gandum/tahun. Yang mana jika harga global naik, maka pangan jadi mahal dan risiko krisis akan semakin besar. Bergesernya pola konsumsi pangan ke beras dan gandum ini menyebabkan ketergantungan pangan dari luar juga meningkat.
Karena ketergantungan ini, kita mengalami kebingungan ketika harga gandum dunia naik. Dan hal yang menyedihkan lagi, meskipun katanya produksi beras meningkat, tapi harga beras juga ikut meningkat, apalagi masyarakat luar pulau Jawa yang juga harus membayar lebih mahal untuk bisa mendapatkan beras.
Adanya cetak sawah dan food estate ini, secara tidak langsung kita dipaksa untuk meninggalkan sistem pangan lokal, dan akhirnya ketergantungan pangan dari luar pun menguat. Food estate akhirnya menjadi solusi palsu, kegagalan pangan, deforestasi, lahan gambut yang terdegradasi, dan timbulnya sengketa agraria,
Di Kalimantan Tengah, tepatnya masyarakat Dayak Ngaju dilarang berladang sejak adanya Karhutla 2015, padahal berladang adalah identitas Dayak Ngaju yang berkaitan erat dengan jati diri, pusat kehidupan dan pusat kebudayaan mereka. Aktivitas berladang mereka dianggap merusak hutan, padahal sejak persiapan lahan, hingga penanaman, dilakukan dengan aturan dan tidak sembarangan.
Dengan semakin tingginya harga beras dan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan. Maka saatnya kita kembali pada keragaman pangan atau diversifikasi pangan. Bagaimana sistem pangan kita harus kembali pada sumber hayati dan budaya pangan nusantara.
Di Indonesia banyak sekali sumber pangan yang bisa kita hadirkan ke meja makan, dari sumber karbohidrat, protein, sayuran, kacang-kacangan, rempah dan buah.
Di era meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan. Ini bisa menjadi titik balik bagaimana kita kembali ke ragam pangan lokal yang lebih murah dan sehat.
Misalnya, untuk wilayah Jawa Tengah, provinsi yang saya diami. Sawah memang masih banyak, namun tak bisa dipungkiri juga jika banyak sawah yang kini berubah menjadi rumah. Maka kita bisa mulai beralih pada bahan pangan singkong.
Singkong merupakan salah satu sumber karbohidrat yang sudah banyak dikonsumsi sejak dulu, namun kini seringkali hanya menjadi makanan selingan atau cemilan sambil minum kopi atau teh.
Akan tetapi, dengan kesadaran masyarakat akan real food yang mulai meningkat, kita bisa menggerakkan semangat diversifikasi pangan dengan kembali mengonsumsi bahan pangan lain selain nasi dan gandum, contohnya singkong.
Singkong mengandung serat, protein, lemak, hingga kalium. Singkong bisa meningkatkan kekebalan tubuh, sumber energi yang tahan lama, baik bagi sistem pencernaan tubuh, baik bagi kesehatan jantung, membantu kesehatan kulit, serta mengelola berat badan. Mengonsumsi singkong yang sudah diolah menjadi tiwul juga bisa membantu menjaga kadar gula darah agar tetap stabil karena tiwul mempunyai indeks glikemik rendah, sekitar 34-37.
![]() |
| Photo by richamiskiyya |
Singkong bisa dikonsumsi dengan direbus atau digoreng. Bahkan singkong yang difermentasi menjadi tape juga bisa melancarkan sistem pencernaan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh, namun tetap harus dikonsumsi secukupnya.
Demikian ulasan saya tentang karhutla, gambut dan sumber pangan yang terabaikan. Mari kita terus bersuara tentang pentingnya hutan dan lahian gambut, juga mulai mengonsumsi kembali sumber pangan lokal, agar kita bisa lebih adaptif dan siap mitigasi ketika menghadapi tantangan krisis iklim dan ekonomi.(*)
Sumber:
- Materi Webinar EBS x Pantau Gambut, 16 Oktober 2026
- Instagram @pantaugambut
- https://pantaugambut.id/pelajari/karakteristik, diakses 23 Oktober 2026
- https://lestari.kompas.com/read/2023/12/03/103745586/aktivis-food-estate-potret-kegagalan-pemerintah-jaga-komitmen-iklim, diakses 23 Oktober 2026
- https://pantaugambut.id/publikasi/jilid-2-proyek-food-estate-kalimantan-tengah-setelah-2-tahun-berlalu, diakses 23 Oktober 2026
- https://nationalgeographic.grid.id/read/134261916/gastrokolonialisme-penjajahan-atas-perut-yang-menghancurkan-komunitas-dan-budaya, diakses 23 Oktober 2026
- https://www.halodoc.com/artikel/tingkatkan-sistem-kekebalan-tubuh-ini-6-manfaat-singkong-yang-harus-diketahui, diakses 23 Oktober 2026
- https://www.halodoc.com/artikel/7-manfaat-tape-singkong-untuk-kesehatan-tubuh-yang-luar-biasa, diakses 23 Oktober 2026







Posting Komentar