Love Puzzle : Merangkai Kepingan Cinta, Mimpi, dan Kenangan

Jumat, Februari 28, 2014



Judul Buku                              : Love Puzzle
Penulis                                     : Eva Sri Rahayu
Penerbit                                   : teen@noura
Penyunting                              : Ifnur Hikmah
Penyelaras Aksara                  : Novia Fajriani, Lian Kagura
Penata Aksara                         : Nurul & Anisa
Perancang Sampul                   : Fahmi Ilmansyah
Tahun Terbit                           : Cetakan I, November 2013
Tebal                                       : 286 halaman
ISBN                                       : 978-602-1606-04-9
Harga                                      : Rp 49.000,-

Blurb :
Rasi memberi senyuman, tetapi cowok itu malah tidak mengacuhkannya.
            “Raja?” sapa Rasi.
            “Sori?” Kening cowok itu berkerut.
            “Kamu Raja, kan?” tanya Rasi lagi
            “Hmm, enggak usah sok kenal, deh,” balas Raja dingin.
Rasi melengkungkan bibirnya, cowok keren memang sering kena amnesia! “Enggak usah nyebelin gitu, deh. Kamu kan yang nanya-nanya soal fotografi di atap BIM kemarin? Kalau aku salah orang, biasa aja, deh.”
Raja merespons perkataannya dengan wajah kaget. Namun sedetik kemudian, ekspresi Raja kembali sinis. “Denger ya, aku enggak kenal kamu!” geram Raja penuh penekanan.
Sejak ketemu cowok itu, Rasi merasa level hatinya naik turun seperti roller coaster : kadang berbunga, kadang kesal setengah mati. Sama seperti sikap Raja yang jago sulap : kadang baik, kadang nyebelin. Ada ya orang yang seperti itu? Rasi hanya belum tahu kalau di balik semua kejadian ada misteri tersimpan. Dan takdir menuntun Rasi masuk ke labirin yang entah ke mana berujung ....

Sinopsis :
            Rasi Amanda, fotografer di klub mading sekolahnya tidak sengaja menemukan tempat yang indah untuk memotret yang kemudian menjadi tempat favoritnya, di atap BIM (Bandung Indah Mall) saat senja adalah tempat favoritnya untuk mengambil foto dengan kamera DSLR nya. Di tempat itu pula Rasi bertemu dengan Raja, seorang cowok yang juga suka menyendiri di sana dan memiliki kesukaan terhadap dunia sulap.
            Rasi mudah akrab dengan Raja karena ia tipe cowok yang ramah dan menyenangkan. Namun, di pertemuan keduanya dengan sosok Raja di stadion Basket tempat Reta, sahabatnya latihan. Raja berubah 180 derajat, ia ketus, dan bahkan tidak mengenali Rasi.
            Suatu hari saat berangkat sekolah, ia bertemu dengan seorang gadis berwajah indo jepang yang tersesat bernama Ayara Tristan. Ayara bahagia karena Rasi mau menolongnya, Ayara yang terlihat rapuh dan seringkali dibully kemudian menganggap Rasi adalah sahabat terbaiknya, dan Ayara berharap Rasi mau selalu ada di dekatnya dan tak mengkhianatinya.
            Rasi dikejutkan lagi saat mengetahui Raja bertengkar dengan Ayara di stadion basket. Rasi seperti melihat jika Raja memiliki seribu kepribadian. Sedetik baik, lembut, sedetik kemudian berubah ketus dan tak acuh, kemudian berubah lagi menjadi sosok cowok yang murah senyum.
            Berkali-kali pertemuan Rasi dan Raja yang tak disengaja, membuat degup jantung Rasi berloncatan tak karuan. Namun, Rasi juga bingung dengan perasaannya, kadangkala saat berada di dekat Raja ia merasakan hatinya bergetar, namun di lain waktu, kedekatannya dengan Raja terasa biasa saja serupa kedekatan layaknya sahabat. Rasi semakin bingung ketika Raja memintanya untuk membaca sebuah komik berjudul ‘Rescue Me’ yang mana Rasi akan menemukan pesan di dalamnya.
            Rasi kemudian mengetahui jika Ayara mencintai Raja, dan Rasi yang juga mulai merasakan rasa cinta pada Raja menjadi bimbang. Di satu sisi ia tak ingin mengkhianati Ayara yang begitu mencintai Raja, tapi di sisi lain ia tak bisa membohongi perasaannya pada Raja.
            Namun, makin lama dekat dengan Raja, Rasi seperti merasakan ada yang janggal. Ia merasa seperti berkenalan dengan dua orang Raja yang berbeda, tetapi Rasi juga bingung karena obrolannya nyambung antara satu sama lain. Hingga kemudian ia menemukan bukti jika memang ada dua orang Raja. 
            Dua orang Raja ini seperti menyimpan misterinya masing-masing, dan takdir membawa Rasi masuk ke dalam lingkaran misteri Raja dan ada Ayara juga di dalamnya. Rasi ingin keluar dari lingkaran itu, namun ia tak bisa keluar sendirian, ia harus keluar dari misteri itu bersama Raja dan Ayara. Mampukah Rasi melakukannya? Dan bagaimana caranya ia keluar dari lingkaran misteri itu? 

Kelebihan :
Ide Cerita
Love Puzzle bercerita tentang kehidupan anak kembar dengan konflik yang memang banyak dihadapi oleh saudara kembar. Memang sebelum novel ini, banyak sekali novel atau film yang bercerita tentang anak kembar. Namun novel ini terasa istimewa karena penulisnya, Eva Sri Rahayu, juga memiliki saudara kembar. Sehingga semua keadaan anak kembar bisa diceritakan oleh Eva dengan apik karena ia mengalami sendiri bagaimana kehidupan seorang anak kembar.  

Alur Cerita
Novel yang ditulis oleh Eva Sri Rahayu ini adalah novel remaja yang memang meremaja, ceritanya berkisar masalah remaja, namun tak melulu tentang cinta. Ada beragam masalah yang disajikan dalam novel ini. Dan yang menjadi kelebihan, konflik-konflik dalam novel ini padat dan runtut. Alur cerita dalam novel ini maju mundur, namun tak membingungkan pembacanya karena disajikan dengan masing-masing petunjuk di setiap halamannya. 
Sepanjang novel, pembaca akan diajak untuk diajak menebak-nebak, rangkaian kepingan-kepingan puzzle di setiap halaman dan babnya. Namun, tak jarang penulisnya mengecoh pembaca, apa yang dipikirkan, berbeda dengan apa yang ada kemudian. Membaca novel ini seperti menonton film-film drama Korea, meski akhir alur bisa ditebak, akan tetapi untuk menebak ending cerita ada banyak liku-liku dan rahasia yang harus dijawab. Mengasyikkan. 

Penokohan
Penokohan dalam novel ini juga kuat dan hidup, masing-masing tokoh memiliki ciri masing-masing sehingga pembaca seolah diajak berkenalan secara nyata dengan tokoh-tokoh dalam novel ini. Tokoh Raja, Rasi, dan Ayara dilakonkan dengan sangat hidup.

Bahasa
Bahasa novel ini sangat remaja, ringan dan mudah dipahami. Bahkan saya bisa menyelesaikan novel ini dalam satu waktu, saya cukup 4 jam untuk selesaikan novel ini. Meskipun begitu banyak pembelajaran yang bisa diambil dalam novel ini, seperti quote-quote yang banyak ada di novel ini, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :
“Kenangan, kadang terasa lebih nyata dari kenyataan. Seberapa pun besarnya perjuangan membuat kenangan itu jadi nyata, kenangan hanya hidup dalam kenangan” (hal 68).
“Apa yang terlihat bisa menipu, tapi hati selalu tahu kebenarannya. Selalu dengarkan kata hatimu” (hal 96).
“Cinta dilahirkan, buka diciptakan. Cinta bukan ‘tidak harus memiliki’ tetapi memang ‘tidak semua cinta bisa dimiliki’” (hal 234)

Point of View :
Penulis menggunakan POV 3 dalam novel Love Puzzle ini. Meskipun dengan sudut pencerita, akan tetapi penulis berhasil melakonkan setiap tokoh dengan apik, tidak saling tertukar feel masing-masing tokoh, atau roh satu tokoh menyatu ke dalam roh tokoh yang lain. 

Setting
Setting atau latar novel ini adalah di Bandung, tempat penulis berasal, penulis yang menggunakan beberapa tempat khas Kota Bandung, membuat novel ini secara tidak langsung menjadi semacam buku promosi wisata yang mengenalkan kota Bandung karena beberapa latar cerita ada di tempat-tempat terkenal di Bandung seperti Trans Studio Bandung, Jalan Braga, dan Bumi Perkemahan Cikole.  

Bumi Perkemahan Cikole
Sumber : www.mybdg.com

Pesan dan Kritik Sosial :
Novel ini berisi banyak pesan, tak hanya tentang meraih mimpi dan persahabatan, tapi juga tentang langkah untuk move on dari kenangan. Seperti yang dikatakan oleh Ayara dalam novel ini “Kalau mau move on kan enggak boleh tanggung-tanggung, ya?” (hal 263).
 Kalimat dari Ayara ini bisa menjadi pembelajaran untuk para remaja yang katanya move on tapi masing nanggung, katanya udah move on tapi masih nyimpen foto mantan di dompet dan suka stalking twitternya ^_^. Ingat kalau move on enggak boleh tanggung-tanggung, hehe.

Tak hanya pesan untuk remaja, tapi novel ini juga sarat pesan untuk para orang tua dan calon orang tua bagaimana harus mendidik anak-anaknya, baik yang kembar maupun tidak. Sehingga bisa dikatakan, novel ini cocok untuk segala usia, baik teenager, young adult, maupun adult.

Novel ‘Love Puzzle’ juga berisikan kritik sosial, yaitu mengenai kenakalan remaja, yaitu tawuran pelajar yang kerap dilakukan remaja dan sangat menjadi perhatian pemerintah, namun hingga kini angka tawuran pelajar belum juga berkurang, bahkan saking berdampak buruk untuk remaja, bupati Purwakarta akan menerapkan sanksi Rp 20 juta bagi pelaku tawuran.

Dalam novel ini dikisahkan jika Raja merupakan remaja yang kerap tawuran, bahkan suatu ketika ada korban jiwa dalam tawuran yang mana ada Raja di dalam tawuran tersebut. 
Ketika membaca bagian ini, saya jadi ingat kasus tawuran yang menyita perhatian nasional. Kasus tawuran yang terjadi antara SMA 70 dan SMA 6 pada September 2012 silam. Dalam tawuran itu menewaskan Alawy Yusianto Putra yang dikenal sebagai siswa berprestasi di sekolahnya. Ini hampir sama dengan kisah Dion, siswa berprestasi yang tewas dalam tawuran di novel ‘Love Puzzle’.

Diceritakan jika Dion yang berprestasi terjebak dan harus ikut tawuran. Bisa jadi, bukan saja Dion yang terjebak dan harus ikut tawuran karena takut dianggap tidak setia kawan, masih banyak remaja di Indonesia yang terjebak dalam kesia-siaan dendam kesumat antar sekolah turun temurun. Selain itu masih banyak faktor penyebab kenapa seorang anak ikut tawuran, seperti yang dijelaskan dalam ‘Love Puzzle’, Raja ikut tawuran bukan karena ia berjiwa pendendam, tapi karena ia lebih ingin diperhatikan di tengah kehidupannya yang dianggapnya tak berguna.

Para orang tua dan calon orang tua harus bisa menjadi sahabat anak dan memahami apa sebenarnya yang diinginkan oleh anak-anaknya, agar anak-anak tersebut tidak mencari pelarian ke dunia luar dan tersesat di dunia hitam yang penuh dendam  

Rangkaian Kepingan Cinta, Mimpi, dan Kenangan
Novel ini bisa dikatakan lengkap dengan rangkaian koflik, baik itu cinta, persahabatan, dan keluarga. Konflik cinta antara Rasi, dua orang Raja dan Araya. Konflik persahabatan antara Rasi dan Ayara, dan konflik keluarga dua Raja.

Konflik dalam novel Love Puzzle ini begitu padat, sehingga tiap lembarannya kita disajikan dengan petunjuk atau kepingan puzzle baru yang merangkai cerita, sehingga setiap lembarnya tidak berisi cerita yang membosankan atau keluar jalur. Setiap rangkaiannya mencipta rantai yang saling menyatu antara satu dan lainnya.

Mimpi –mimpi para remaja di sini juga dijelaskan secara apik, bagaimana mimpi dua Raja yang ingin menjadi pesulap dan komikus, mimpi Araya untuk jadi pianist, serta mimpi Rasi yang ingin menjadi seorang fotografer. Gambaran mimpi-mimpi mereka berempat juga tergambar apik di bagian belakang pembatas buku.

Membaca novel ini seperti halnya bermain puzzle, kita harus mendapatkan potongan yang tepat dan merangkainya hingga menemukan gambar utuh. Pembaca harus menemukan kepingan cinta, mimpi, dan kenangan yang ada di antara empat tokoh sentral sebelum akhirnya hasil gambar puzzle yang utuh. Meskipun ini bukan novel misteri atau detektif, akan tetapi setiap lembar novel ini mengajak pembaca untuk menebak-nebak misteri apa yang ada di balik halaman selanjutnya sehingga di akhir lembar terakhir pambaca akan berteriak ‘Oh, Ternyata!’.

Kepingan petunjuk dalam novel ini harus disusun utuh, cinta, mimpi, dan kenangan. Jangan sampai hanya kepingan cinta dan mimpi saja yang disusun, karena akan ada bagian yang hilang jika kepingan kenangan ditinggalkan, begitu juga jika ada kepingan lain yang tertinggal, maka kisah dalam novel ini tak akan bisa terungkap dengan sempurna.    

 Kekurangan :
Cover :
Kover novel ini kurang menggambarkan isinya. Kamera yang sering dipakai Rasi adalah kamera DSLR dan bukan kamera polaroid, apalagi tak ada satupun adegan yang menggunakan kamera polaroid, sehingga kurang tepat jika ada gambar kamera polaroid di bagian kover novel.
Selain itu, penggunaan Font warna ungu untuk kover juga mati warna karena digabungkan dengan dasar kover berwarna abu-abu, sehingga judul ‘Love Puzzle’ tidak terlalu terlihat, ukurannya pun juga terlalu kecil dan ditempatkan di pojok bawah sehingga pembaca yang melihat dari jauh akan kebingungan apa judul novel ini.
Adanya dobel kover memang bagus dan unik, apalagi di bagian dalam menggambarkan pemandangan kota Bandung yang menjadi latar novel ini, akan tetapi ada yang janggal pada sosok cowok dan cewek yang ada di kover. Sosok tersebut tubuhnya terlalu besar dan kurang langsing. Apalagi sosok bayangan di samping cewek kan kurus, seharusnya sosok cowok di samping kananpun bertubuh serupa. Untuk tokoh Rasi tubuhnya juga terlalu besar jika dibandingkan dengan penggambaran di novel yang tubuhnya tidak besar. 

Kover bagian dalam Love Puzzle

Typo :
Ada beberapa typo dalam novel ini, seperti :
-          Kelakukan (hal 32) -> Kelakuan
-          Merongoh (hal 49) -> Merogoh
-          Menelesup (hal 57) -> Menelusup
Meskipun ada beberapa typo, namun tidak terlalu mengganggu kenikmatan dalam membaca novel ini. 

Deskripsi :
Deskripsi dalam novel ini menurut saya kurang detil, seperti ketika Raja mengajak Rasi ke Cikole, Lembang Bandung, akan lebih baik jika penulisnya mengeksplorasi detil dalam adegan tersebut, karena tak semua orang tahu bagaimana keindahan daerah Cikole, Bandung. Selain itu ada beberapa adegan yang kurang detail penggambarannya, seperti saat Rasi sendirian dari kontrakan Raja, tidak dijelaskan adanya cahaya lampu jalan atau semacamnya, akan tetapi Rasi bisa melihat mata merah dari preman yang mengganggunya. 

Rahasia dan Keajaiban Si Kembar :
Kita bukan saling melengkapi, tapi sebuah kesatuan.
Satu jiwa dalam dua raga. Karena sebenarnya tak ada KITA,
yang ada hanya aku dan kamu dalam wujudmu, juga kamu dan aku dalam wujudku.

Kalimat tersebut ada di epilog dalam novel ‘Love Puzzle’ yang mengisahkan tentang dunia si kembar. Novel ini seolah ingin mengatakan pada dunia jika dunia anak kembar adalah dunia penuh keajaiban di dalamnya, ada kesatuan yang tak terpisahkan antara dua hati dan dua jiwa anak kembar.

Ketika membaca novel ini, saya jadi teringat dengan Serial Kartun tahun 90-an yang berjudul ‘Miracle Girls’, yang bercerita tentang sepasang saudara kembar bernama Mikage dan Tomomi. Dua gadis remaja ini memiliki sifat yang berlainan satu sama lain, Mikage yang feminim dan Tomomi yang lebih cenderung tomboy. Akan tetapi mereka memiliki rahasia, mereka bisa bertukar jiwa dengan menautkan dua jari kelingking mereka ketika salah satu diantara mereka mengalami kesulitan.  

Miracle's Girls

Tomomi dan Mikage

Sejak menonton serial ‘Miracle Girls’ itu saya jadi ingin memiliki saudara kembar, dan ketika saya bertemu dengan anak kembar, hal pertama yang saya tanyakan adalah ‘Kalian pernah bertukar tempat satu sama lain gak?’

Ya, anak kembar memang unik dan rasanya tak ada habisnya apabila membahas anak kembar. Ada ribuan keunikan dan rahasia yang ada dalam diri mereka.
 

Evi Sri Rezeki & Eva Sri Rahayu
Sumber : tamanbermaindropdeadfred.files.wordpress.com



Dalam suatu penelitian dalam jurnal Intitute of General Linguistics, dikatakan jika sekitar 40% anak kembar memiliki bahasa sendiri yang hanya dimengerti oleh mereka saja, bahasa tersebut dinamakan Cryptophasia. Mereka seolah menciptakan pertautan yang tak bisa dipisahkan karena mereka pun sudah disatukan jiwanya oleh Tuhan sejak masih dalam kandungan.
Hubungan batin inilah yang tak bisa dipisahkan, apabila satu kembaran sakit, maka kembaran yang lainnya akan merasakan hal serupa. Meskipun sulit diterima nalar, tapi memang begitulah adanya.

Meskipun saudara kembar itu memiliki banyak kemiripan, tapi bukan berarti orang tua berhak untuk menyama-nyamakan mereka dalam segala hal. Setiap anak memiliki keunikan masing-masing, begitu juga dengan anak kembar. Mereka memiliki keinginan dan cita-cita masing-masing. Oleh karena itu orang tua yang memiliki anak kembar harus bijak menyikapi keinginan masing-masing anak. 

        Terlepas dari beberapa kekurangan yang ada, novel ini memiliki banyak sekali kelebihan dan pembelajaran. ‘Love Puzzle’ ini layak menjadi bacaan dan koleksi di rumah. Dan saya memberikan 4 dari 5 bintang untuk novel ‘Love Puzzle’ ini ^_^. (Richa Miskiyya)  

*Review ini diikutsertakan dalam Lomba Review Novel Love Puzzle - Eva Sri Rahayu*

http://www.smartfren.com/ina/home/



www.noura.mizan.com



Jangan lupa nonton juga book trailernya di bawah ini, ya ^_^

Read More

Cine Us : Menonton Film Lewat Novel

Selasa, Desember 31, 2013




Judul Buku                              : Cine Us
Penulis                                     : Evi Sri Rezeki
Penerbit                                   : Nourabooks
Penyunting                              : Dellafirayama
Penyelaras Aksara                  : Novia Fajriani, @kaguralian
Penata Aksara                         : Nurul M Janna
Perancang Sampul                   : Fahmi Ilmansyah
Ilustrasi Isi                              : Anisa Meylasari
Tahun Terbit                           : Cetakan I, Agustus 2013
Tebal                                       : 304 halaman
ISBN                                       : 978-602-7816-56-5
Harga                                      : Rp 48.500,-

Blurb :
Demi menang di Festival Film Remaja, Lena rela melakukan apa saja. Bukan hanya demi misi mengalahkan mantan pacarnya yang juga ikut berkompetisi, tetapi karena dia pun harus mempertahankan Klub Film sekolahnya. Soalnya klub kecilnya itu kurang didukung oleh pihak sekolah. Padahal salah satu kreativitas siswa bikin film, kan!
Untung ada satu orang yang bikin hari-hari Lena jadi seru. Si cowok misterius yang kadang muncul dari balik semak-semak. Apaaa? Eh, dia bukan hantu, lho ... tapi dia memang punya tempat persembunyian ajaib, mungkin di sanalah tempat dia membuat web series terkenal favorit Lena. Nah, siapa tahu cowok itu bisa membantu Lena biar menang festival.
Kisah Lena ini seperti film komedi-romantis yang seru. Jadi, selamat nonton, eh, baca! 

***

            Novel berjudul ‘Cine Us’ ini merupakan karya dari Evi Sri Rezeki yang menjadi seri pertama S-Club terbitan Nourabooks. Novel ini menceritakan tentang kisah Lena, Dania, dan Dion untuk membentuk Klub Film di sekolahnya.
            Bermacam rintangan harus dihadapi Lena dan kawan-kawannya, dari anggota klub film yang menjadi musuh dalam selimut, bullying dari kakak kelas, hingga ultimatum dari Wakepsek Kesiswaan jika Klub Film mereka tak memiliki prestasi, maka tak akan ada pendampingan Klub Film mereka yang berujung tak adanya dana untuk Klub. Satu-satunya jalan untuk mempertahankan Klub Film adalah dengan memenangkan Festival Film Pendek Remaja.
            Lena, Dania, dan Dion harus jatuh bangun mempertahankan keberadaan Klub Film mereka, apalagi setelah salah seorang anggota klubnya, Romi, anak kelas X menyabotase basecamp mereka karena ada backing an dari anak-anak kelas XII.
            Hingga akhirnya Lena, Dania, dan Dion pun bertemu dengan Rizki yang jago bikin animasi dan selalu menyebut dirinya superhero, dan Ryan cowok yang jago musik. Ryan dan Rizki pun membawa Lena and the gank ke tempat persembunyian mereka.
            Namun, hal itu juga tak berlangsung lama, karena Romi kembali mengobrak-abrik tempat persembunyian mereka. Bahkan Romi pun memanfaatkan Dion, yang menderita penyakit ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) untuk mencuri ide film Lena dan kawan-kawannya.
            Apa ide Rizky dan Ryan untuk menyelamatkan Klub Film dan menyelamatkan Lena dari taruhan dengan mantan pacarnya? Lalu, apa yang harus dilakukan Lena dan kawan-kawannya ketika ide mereka dicuri sementara hari terakhir pengiriman lomba hanya tinggal menghitung hari.

***
            Filosofi Cover
            Pertama kali melihat judul novel ini saya langsung jatuh cinta, judulnya ringkas, padat dan mengandung makna yang dalam. Cine Us (baca : sineas), secara harfiah, bisa diartikan Cine Us adalah pembuat film. Namun, di sampulnya terdapat pemenggalan kata, Cine dan Us, berasal dari kata Cine yang berarti pembuatan film dan Us yang berarti kita. Sehingga apabila dilihat dari sisi filosofinya, Cine Us adalah pembuatan film yang dilakukan bersama (oleh kita). Oleh karena itu, tak salah bila unsur persahabatan sangat kental dalam novel ini.
            Covernya pun menunjukkan filosofi tersendiri, dengan adanya warna biru sebagai latar yang menunjukkan harapan yang membentang seperti langit. Adanya sampul ganda pun menjadi keunikan dalam sampul ini, sayangnya gambar cewek animasi di sampul bagian dalam lebih mengarah ke Dania, bukan ke Lena, karena animasi ceweknya berambut lurus, tidak bergelombang, padahal cowok gembul di sebelahnya merujuk ke Rizki, meskipun begitu tidak mengurangi keunikan double cover ini.
Selain itu, adanya penambahan Clapper Board di bagian bawah cover menjadi sentuhan yang eye catchy, semakin menegaskan jika ini adalah novel tentang film. Namun, saya agak kecewa dengan bookmarknya, karena gambar di bookmark tidak bolak-balik, dan di bagian belakang hanya ada dua warna garis polos, padahal untuk lebih keren di bagian belakang bookmark bisa ditambahi gambar Clapper Board atau quote-quote yang ada dalam novel.

Bookmark Cine Us - Koleksi Pribadi
Penokohan Unik
Kenapa saya bilang penokohan di novel ini unik? Karena penulis tidak menampilkan sosok perfect sebagai tokoh utama. Seringkali ketika membaca novel kita dijejali tokoh-tokoh utama yang sempurna dan tidak memiliki kekurangan, namun dari sosok Lena yang bukan sosok pintar, dan Rizki yang bertubuh gempal, justru menjadi keunikan tersendiri untuk novel ini. Selain itu tokoh Rizki yang suka membuat web series animasi menjadi nilai plus tersendiri, karena itu memberikan wawasan baru bagi pembaca tentang perkembangan dunia web dan animasi.
Ditambah lagi dengan keberanian penulis menyuguhkan sosok Dion yang mengidap ADHD, ini memberikan apresiasi tersendiri bagi para penderita ADHD untuk bisa lebih berprestasi.
Apalagi dalam novel ini juga ada tokoh Evi dan Eva yang diambil dari nama penulisnya Evi Sri Rezeki dan saudara kembarnya Eva Sri Rahayu. Meskipun terkesan narsis, tapi saya bisa memakluminya, apalagi jika saya boleh menduga, cerita tentang tukar peran antara tokoh Eva dan Evi di novel pernah dilakukan penulisnya dan saudara kembarnya di dunia nyata.

Kebocoran Logika
Ada beberapa kesalahan logika dalam novel ini, meskipun jika dipaksakan bisa saja hal tersebut terjadi di dunia nyata, namun, alangkah baiknya jika hal yang kurang logis ini diminimalisir di novel-novel selanjutnya. Beberapa cerita yang kurang logis dalam novel ini adalah sebagai berikut :
Saingan? Kata itu menyentak ingatanku pada satu tim yang sudah tiga tahun ke belakang selalu menang kompetisi film pendek. Tim itu dimotori oleh seorang cowok bernama Adit. Damn! Akhirnya aku menyebutkan nama-yang-tidak-boleh-diucapkan-selama-lamanya itu!
Ya, adit bersama timnya selalu membuat pemegang juara bertahan kompetisi film pendek, Adit juga selalu keluar sebagai pemenang lomba penulisan skenario. Selalu, kecuali tahun lalu (halaman 24-25)   

Kenapa saya mengatakan ada yang tidak logis di pemaparan paragraf tersebut? Apabila sekarang Lena duduk di kelas XI, begitu juga Adit, berarti Adit sudah menjadi pemenang skenario dan film pendek sejak kelas VIII (2 SMP). Kalau dipaksakan Adit adalah orang yang jenius, bisa jadi Adit sudah bergelut dengan film sejak SD (bisa jadi), tapi kalau secara logika, anak kelas 2 SMP masihlah meraba-raba untuk belajar skenario dan film. Hal ini bukan soal umur, bisa jadi anak 2 SMP memang lebih pintar dari yang umur 17 tahun, namun apabila dipikirkan ulang, rasanya kurang logis juga.

Ketidaklogisan selanjutnya ada dalam paragraf berikut ini :
Kami bergerak menuju cabang kiri, sekitar beberapa ratus meter. Rizki melepaskan pegangan tangannya lalu mendekati dinding, memencet semacam sakelar. Kemudian, kami diliputi cahaya (halaman 88)

Diceritakan Rizki dan Lena menyusuri sebuah bunker yang tersembunyi di dalam sekolahnya. Ada yang janggal dalam paragraf ini, logisnya sebuah bunker, seluas apapun itu panjangnya tidak sampai ratusan meter. Beberapa puluh meter saja sudah termasuk panjang untuk ukuran bunker.

Selain itu, adapula suatu ketidaklogisan yang menurut saya cukup fatal.
“Lena, sekarang aku ingat! Kayaknya aku yang salah memasukkan skenario kalian di amplop co ... kelat ...," ucapan Dania terhenti ketika melihat tanganku yang menggenggam potret Dion (Halaman 259)

Dalam novel ini diceritakan jika Rizki salah paham pada Lena bisa memenangkan lomba skenario karena Lena menukar skenario miliknya dengan milik Rizki. Namun beberapa hari kemudian, akhirnya, Dania dengan tenangnya mengatakan jika ia yang salah memasukkan skenario ke dalam amplop. Apabila dipikirkan tidak logis apabila mengirimkan sebuah karya ke sebuah lomba (baik itu skenario, cerpen, novel, dan karya tulis lain) tidak ada identitas penulis dalam karya tersebut, apalagi ini lomba tingkat nasional. Paling tidak harusnya ada formulir atau minimal nama penulis dalam cover skenario atau karya tersebut.  

Sinetronisasi Novel atau Novelisasi Sinetron
Saya cukup menikmati ketika membaca novel Cine Us ini, namun saya merasa terganggu ketika memasuki cerita-cerita yang terkesan berlebihan atau lebay seperti adegan di sinetron. Seperti ketika Romi cs menyabotase basecamp Klub Film, atau bullying terhadap Tian oleh para anak kelas XII hingga disumpal mulut dan diikat di gudang. Apalagi ada sosok Renata yang penokohannya sebagai cewek centil terlalu berlebihan. Bisa jadi penulisnya memang terinspirasi dari sinetron-sinetron remaja, dan itu bukan hal yang salah asalkan tidak berlebihan.
Ketika membaca Chapter 9 saat Rizki menyatukan potongan-potongan rekaman yang diambil Dion menjadi sebuah film juga mengingatkan saya dengan novel berjudul Montase karya Windry Ramadhina yang juga ada adegan menyatukan penggalan film-film dokumenter. Apabila penulis terinspirasi pun, ia sudah menjadikan inspirasi dari novel yang saya sebutkan tadi menjadi suatu ide yang brilian dalam novel Cine Us ini.
           
            Typo atau Salah Makna?
            Saya menemukan beberapa typo dalam novel ini, dan ada pula kata yang entah salah ketik atau mungkin memang salah memaknai suatu kata.
            Seperti kata ‘merongoh’ yang terdapat di halaman 38 dan 46 :
            Aku merongoh tas dengan panik (halaman 38).
            Aku merongoh-rongoh paving block dengan panik (halaman 46).

            Bisa jadi yang dimaksudkan penulis ini adalah merogoh, yang berarti meraba atau mencari sesuatu dalam lubang. Namun di kalimat kedua lebih baiknya diganti dengan kata meraba-raba sehingga menjadi ‘Aku meraba-raba paving block dengan panik’. Karena untuk kata ‘merogoh’ biasanya untuk mencari atau mengambil benda yang ada dalam suatu tempat (kotak, lubang, kaleng, dan semacamnya)

            Ada juga penyingkatan kalimat yang rasanya kurang tepat seperti kalimat ini,
Sekolah Cerdas Pintar Mengadakan Pekan Olahraga (Porak) (halaman 242). Penyingkatan Pekan Olahraga menjadi ‘Porak’ rasanya kurang tepat, lebih baik apabila Porak adalah singkatan dari Pekan Olahraga Sekolah, bukan Pekan Olahraga saja.
            Selain itu saya juga menemukan beberapa salah ketik dalam novel ini, seperti :
1.      Semringah : sumringah (halaman 15).
2.      Suasan : Suasana (halaman 69).
3.      Final Fintasy : Final Fantasy (halaman 79).
4.      Mempimpin : Memimpin (halaman 95)
5.      Lopada : Lo pada (halaman 96)
6.      Jangtungku : Jantungku (halaman 125)
7.      Mengahadapi : Menghadapi (halaman 207)

Meskipun ada beberapa kata salah ketik seperti di atas yang tidak terlalu mengganggu cerita dalam novel ini. Akan tetapi ada yang harus diperhatikan ketika memilih nama tempat, seperti pemilihan nama sekolah ‘Cerdas Pintar’ yang kurang enak didengar / dibaca. Saya seolah-olah sedang membaca nama sekolah PAUD untuk anak-anak atau sedang membaca nama kelompok dalam lomba cerdas cermat. Apalagi ini kan novel remaja, lebih bagus apabila dipilih nama sekolah yang meremaja, rasanya terlalu njomplang jika nama sekolah ‘Cerdas Pintar’ dibandingkan dengan nama klub sekolah ‘Cine Us’.

***

Menonton Film Lewat Novel
Terlepas dari beberapa kekurangan dalam novel ini. Penulis telah berhasil menyampaikan pesan lewat novel ini dengan baik, seperti pesan persahabatan, semangat, pantang menyerah dan kejujuran lewat Lena, Dania, Dion, Rizki, dan Ryan. Selain itu, penulis juga sukses menyampaikan pesan bahwa setiap orang berhak sukses dan bahagia lewat tokoh Dion yang menderita ADHD.
Ketika membaca novel ini, hati saya ikut bergetar ketika Dion membanting handycam nya dan pergi. Selain itu, saya juga ikut geram ketika Romi dan kawan-kawannya memperalat Dion dan menyabotase Eva dan Evi menjadi bintang dalam ‘film curiannya’. Kemudian, saya juga tersenyum kecil dan tertawa membaca percakapan Rizki dan Lena tentang ultraman. Penulis berhasil mengaduk emosi pembacanya, tak terkesan cengeng, namun pas dan mengena di hati.
Saya seperti menonton scene-scene film dalam novel ini, karena penulis bisa menjabarkan dan menuliskan alurnya dengan apik. Sehingga tak salah jika di cover belakang tertulis jika kisah Lena dalam novel ini seperti film komedi-romantis yang seru. (Richa Miskiyya)


http://www.smartfren.com/ina/home/



Read More